Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan beragam manfaat. Buah ini dapat dikonsumsi secara langsung maupun diolah menjadi jus, selai, sirup, dan berbagai produk bernilai tambah. Namun, keberlanjutan budidaya nanas di lahan kering menghadapi tantangan yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan produksi. Ketersediaan lahan, akses pasar, penggunaan teknologi, pengelolaan lingkungan, keterlibatan keluarga, hingga dukungan kelembagaan turut menentukan kemampuan petani mempertahankan usaha dalam jangka panjang.
Kajian Pratiwi, Tanaya, dan Hayati dilakukan di Kabupaten Lombok Timur, khususnya Kecamatan Masbagik yang mencakup Desa Lendang Nangka dan Lendang Nangka Utara serta Kecamatan Pringgasela yang mencakup Desa Jurit dan Pringgasela Induk. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif dengan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif. Sebanyak 40 responden dilibatkan, terdiri atas 28 laki-laki dan 12 perempuan. Selain petani, informasi juga diperoleh dari penyuluh pertanian, pengurus kelompok tani, pedagang atau pengepul, serta instansi pemerintah terkait.
Untuk mengukur keberlanjutan, peneliti menggunakan Multi-aspect Sustainability Analysis atau MSA. Metode ini menilai kondisi usaha pertanian melalui beberapa dimensi yang saling berkaitan. Dalam kajian tersebut, keberlanjutan pertanian nanas dinilai dari enam dimensi, yaitu ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat bukan hanya apakah usaha tani berjalan, tetapi juga bagian mana yang menjadi kekuatan dan bagian mana yang membutuhkan perbaikan.
Hasil analisis menghasilkan indeks keberlanjutan keseluruhan sebesar 67,46, sehingga pertanian nanas lahan kering di Lombok Timur masuk kategori berkelanjutan. Namun, nilai tersebut belum menunjukkan kondisi yang sepenuhnya optimal karena terdapat perbedaan cukup besar antar-dimensi. Dimensi budaya menjadi kekuatan terbesar dengan nilai 85,00 dan masuk kategori sangat berkelanjutan. Dimensi sosial memperoleh nilai 70,83, sedangkan lingkungan mencapai 71,43. Sebaliknya, teknologi menjadi dimensi terlemah dengan nilai 50,00 dan masuk kategori kurang berkelanjutan. Dimensi ekonomi memperoleh nilai 62,50, sementara kelembagaan berada pada angka 65,00, keduanya dalam kategori cukup berkelanjutan.
Kekuatan budaya terlihat dari masih kuatnya pengetahuan lokal dalam budidaya nanas. Petani mempertahankan varietas nanas lokal dan menerapkan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Keterlibatan keluarga juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan praktik pertanian tersebut. Kondisi ini membuat dimensi budaya menjadi fondasi utama keberlanjutan pertanian nanas di wilayah penelitian.
Profil Penulis
Syafira Rifalya Pratiwi merupakan penulis utama dan tercatat berasal dari Program Magister Pertanian Lahan Kering, Pascasarjana, Universitas Mataram. IGL Parta Tanaya dan Hayati merupakan penulis pendamping dari afiliasi yang sama. Sumber jurnal tidak mencantumkan gelar akademik Syafira Rifalya Pratiwi, sehingga gelar tidak ditambahkan dalam artikel ini. Penelitian mereka berfokus pada keberlanjutan pertanian nanas di lahan kering, khususnya melalui pengukuran berbagai dimensi keberlanjutan dan identifikasi faktor yang paling sensitif terhadap keberlangsungan sistem pertanian.
Sumber Penelitian
Secara keseluruhan, kajian ini menunjukkan bahwa pertanian nanas lahan kering di Lombok Timur telah memiliki fondasi keberlanjutan yang cukup kuat, terutama dari sisi budaya, sosial, dan lingkungan. Tantangan berikutnya adalah memperkecil kesenjangan teknologi, memperluas pasar, memperkuat kelembagaan, meningkatkan keterlibatan perempuan, dan memastikan regenerasi petani agar potensi nanas Lombok Timur dapat berkembang secara produktif dan berkelanjutan.
0 Komentar