Pertanian Nanas Lahan Kering di Lombok Timur Dinilai Berkelanjutan, tetapi Teknologi Masih Lemah

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Nusa Tenggara Barat - Pertanian nanas di lahan kering Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berada dalam kategori berkelanjutan, tetapi masih menghadapi persoalan pada teknologi, akses pasar, kelembagaan, dan regenerasi petani. Temuan tersebut dilaporkan Syafira Rifalya Pratiwi, IGL Parta Tanaya, dan Hayati dari Program Magister Pertanian Lahan Kering, Pascasarjana, Universitas Mataram, dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology. Hasil kajian penting karena menunjukkan bahwa keberlanjutan pertanian nanas tidak hanya ditentukan oleh produksi dan pendapatan, tetapi juga oleh kondisi sosial, budaya, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan petani.

Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan beragam manfaat. Buah ini dapat dikonsumsi secara langsung maupun diolah menjadi jus, selai, sirup, dan berbagai produk bernilai tambah. Namun, keberlanjutan budidaya nanas di lahan kering menghadapi tantangan yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan produksi. Ketersediaan lahan, akses pasar, penggunaan teknologi, pengelolaan lingkungan, keterlibatan keluarga, hingga dukungan kelembagaan turut menentukan kemampuan petani mempertahankan usaha dalam jangka panjang.

Kajian Pratiwi, Tanaya, dan Hayati dilakukan di Kabupaten Lombok Timur, khususnya Kecamatan Masbagik yang mencakup Desa Lendang Nangka dan Lendang Nangka Utara serta Kecamatan Pringgasela yang mencakup Desa Jurit dan Pringgasela Induk. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif dengan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif. Sebanyak 40 responden dilibatkan, terdiri atas 28 laki-laki dan 12 perempuan. Selain petani, informasi juga diperoleh dari penyuluh pertanian, pengurus kelompok tani, pedagang atau pengepul, serta instansi pemerintah terkait.

Untuk mengukur keberlanjutan, peneliti menggunakan Multi-aspect Sustainability Analysis atau MSA. Metode ini menilai kondisi usaha pertanian melalui beberapa dimensi yang saling berkaitan. Dalam kajian tersebut, keberlanjutan pertanian nanas dinilai dari enam dimensi, yaitu ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat bukan hanya apakah usaha tani berjalan, tetapi juga bagian mana yang menjadi kekuatan dan bagian mana yang membutuhkan perbaikan.

Hasil analisis menghasilkan indeks keberlanjutan keseluruhan sebesar 67,46, sehingga pertanian nanas lahan kering di Lombok Timur masuk kategori berkelanjutan. Namun, nilai tersebut belum menunjukkan kondisi yang sepenuhnya optimal karena terdapat perbedaan cukup besar antar-dimensi. Dimensi budaya menjadi kekuatan terbesar dengan nilai 85,00 dan masuk kategori sangat berkelanjutan. Dimensi sosial memperoleh nilai 70,83, sedangkan lingkungan mencapai 71,43. Sebaliknya, teknologi menjadi dimensi terlemah dengan nilai 50,00 dan masuk kategori kurang berkelanjutan. Dimensi ekonomi memperoleh nilai 62,50, sementara kelembagaan berada pada angka 65,00, keduanya dalam kategori cukup berkelanjutan.

Kekuatan budaya terlihat dari masih kuatnya pengetahuan lokal dalam budidaya nanas. Petani mempertahankan varietas nanas lokal dan menerapkan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Keterlibatan keluarga juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan praktik pertanian tersebut. Kondisi ini membuat dimensi budaya menjadi fondasi utama keberlanjutan pertanian nanas di wilayah penelitian.

Di sisi lingkungan, petani telah melakukan sejumlah praktik yang mendukung keberlanjutan. Limbah kulit dan daun nanas banyak dimanfaatkan kembali sebagai pakan atau bahan pupuk organik, sementara vegetasi pelindung juga ditemukan secara luas. Namun, penggunaan pupuk dan pestisida anorganik masih menjadi persoalan. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dan pestisida merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap perubahan tingkat keberlanjutan, masing-masing dengan nilai sensitivitas 1,0. Pengendalian hama juga menjadi faktor penting dengan nilai 0,75.

Persoalan paling menonjol terdapat pada aspek teknologi. Sebagian besar petani masih mengandalkan cara tradisional untuk persiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Ketersediaan peralatan modern serta teknologi pascapanen juga masih terbatas. Analisis menunjukkan bahwa ketersediaan teknologi, penggunaan alat budidaya dan pascapanen, serta penerapan teknologi pascapanen menjadi faktor paling sensitif dalam dimensi teknologi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman petani, tetapi membutuhkan dukungan inovasi yang sesuai dengan karakteristik lahan kering.

Dari sisi ekonomi, produksi nanas tergolong baik. Seluruh petani dalam data penelitian dilaporkan menghasilkan sedikitnya 1.200 buah, tetapi sebagian besar masih menghadapi keterbatasan akses pasar. Produk terutama dipasarkan di dalam wilayah kabupaten sehingga jaringan pemasaran yang lebih luas belum berkembang optimal. Analisis sensitivitas menempatkan luas lahan sebagai faktor ekonomi paling berpengaruh, disusul akses pasar dan pengelolaan keuangan.

Peneliti juga menemukan tantangan pada keberlanjutan generasi petani. Rata-rata usia responden mencapai 43 tahun, dengan 25 persen petani berusia 50 tahun atau lebih. Dalam dimensi budaya, partisipasi perempuan menjadi faktor paling sensitif, diikuti regenerasi petani. Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dan minat generasi muda memiliki peran penting dalam mempertahankan keberlanjutan pertanian nanas di masa depan.

Berdasarkan temuan tersebut, Pratiwi, Tanaya, dan Hayati merekomendasikan penguatan teknologi budidaya dan pascapanen, perluasan akses pasar, peningkatan kapasitas kelompok tani, penguatan penyuluhan, serta pembukaan akses pembiayaan bagi petani. Pemerintah daerah juga didorong membangun jaringan pemasaran dan memperkuat kelembagaan petani. Bagi petani, peningkatan keterampilan, penerapan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, diversifikasi produk olahan nanas, serta pengelolaan keuangan yang lebih sistematis menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah dan kestabilan pendapatan.

Profil Penulis

Syafira Rifalya Pratiwi merupakan penulis utama dan tercatat berasal dari Program Magister Pertanian Lahan Kering, Pascasarjana, Universitas Mataram. IGL Parta Tanaya dan Hayati merupakan penulis pendamping dari afiliasi yang sama. Sumber jurnal tidak mencantumkan gelar akademik Syafira Rifalya Pratiwi, sehingga gelar tidak ditambahkan dalam artikel ini. Penelitian mereka berfokus pada keberlanjutan pertanian nanas di lahan kering, khususnya melalui pengukuran berbagai dimensi keberlanjutan dan identifikasi faktor yang paling sensitif terhadap keberlangsungan sistem pertanian.

Sumber Penelitian

Judul: Study of Pineapple Farming Sustainability on Dry Land in East Lombok Regency
Penulis: Syafira Rifalya Pratiwi, IGL Parta Tanaya, Hayati
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume: 5, Nomor 7
Tahun: 2026
Halaman: 2011–2030

Secara keseluruhan, kajian ini menunjukkan bahwa pertanian nanas lahan kering di Lombok Timur telah memiliki fondasi keberlanjutan yang cukup kuat, terutama dari sisi budaya, sosial, dan lingkungan. Tantangan berikutnya adalah memperkecil kesenjangan teknologi, memperluas pasar, memperkuat kelembagaan, meningkatkan keterlibatan perempuan, dan memastikan regenerasi petani agar potensi nanas Lombok Timur dapat berkembang secara produktif dan berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar