Penelitian tersebut berangkat dari pentingnya pendidikan tinggi dalam menumbuhkan minat mahasiswa terhadap kewirausahaan. Pengetahuan bisnis, pengalaman praktik, dukungan dosen, serta lingkungan pendidikan dapat membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri, mengenali peluang, dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha. Namun, para peneliti mencatat bahwa masih terbatas kajian yang secara khusus menggali bagaimana mahasiswa BSBA Marketing di perguruan tinggi memahami pengalaman akademiknya dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi ambisi kewirausahaan mereka.
Belajar bisnis tidak cukup hanya dari teori
Montes dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami pengalaman mahasiswa secara langsung. Sebanyak 15 mahasiswa tingkat tiga dan empat BSBA Marketing Management Gordon College yang mengikuti perkuliahan pada Tahun Akademik 2025–2026 menjadi partisipan penelitian.
Para mahasiswa dipilih berdasarkan pengalaman yang relevan dengan topik penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pertanyaan terbuka mengenai pengalaman akademik dan ambisi kewirausahaan. Jawaban kemudian dianalisis untuk menemukan tema dan pola yang berulang. Peneliti juga menerapkan persetujuan partisipan, kerahasiaan, dan ketentuan Data Privacy Act of 2012 dalam proses penelitian.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengalaman praktik menjadi salah satu unsur penting dalam membangun ketertarikan mahasiswa terhadap kewirausahaan. Kegiatan seperti simulasi bisnis, menjual produk, meluncurkan produk, membuat rencana bisnis, studi kasus, presentasi, kunjungan lapangan, dan proyek akademik memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas.
Pengalaman tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman mengenai bisnis, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan mengambil keputusan, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan berpikir strategis. Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa menjalankan bisnis tidak hanya berkaitan dengan ide, tetapi juga membutuhkan kemampuan menghadapi persoalan nyata di pasar.
Peran dosen ikut menentukan kepercayaan diri mahasiswa
Penelitian Montes dan tim juga menemukan bahwa dosen dan mentor memiliki peran dalam membentuk kepercayaan diri kewirausahaan mahasiswa. Pengalaman dan contoh nyata yang dibagikan pengajar membantu mahasiswa melihat hubungan antara teori yang dipelajari dengan dunia bisnis.
Motivasi finansial dan keinginan mandiri
Ambisi menjadi pengusaha tidak hanya muncul dari kegiatan di kampus. Faktor pribadi juga memainkan peran besar. Para mahasiswa menyebut keinginan memperoleh kemandirian finansial, memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan, mencapai tujuan pribadi, dan membangun masa depan sebagai sejumlah alasan yang mendorong ketertarikan terhadap kewirausahaan.
Pengalaman keluarga juga berpengaruh. Sebagian mahasiswa memiliki paparan terhadap kegiatan jual-beli atau lingkungan bisnis keluarga sejak dini. Dukungan dan dorongan keluarga dapat memperkuat keyakinan mereka untuk mempertimbangkan kewirausahaan sebagai pilihan karier.
Di sisi lain, mahasiswa menghadapi sejumlah hambatan. Ketakutan terhadap kegagalan, risiko kehilangan uang, keterbatasan sumber daya, persaingan, tekanan dalam mengambil keputusan, kurangnya pengalaman, serta keraguan terhadap kemampuan diri menjadi tantangan yang muncul dalam pengalaman mereka.
Menariknya, kegagalan tidak selalu membuat ambisi tersebut berhenti. Sejumlah mahasiswa menggambarkan kegagalan proyek, penjualan yang rendah, atau penolakan sebagai pengalaman yang dapat digunakan untuk belajar dan memperbaiki strategi. Dukungan mentor, perencanaan, refleksi diri, dan sikap positif menjadi cara yang digunakan mahasiswa untuk menghadapi keraguan.
Keluarga, teman, dan media sosial ikut membentuk pandangan tentang bisnis
Lingkungan di luar kampus juga memberikan pengaruh. Keluarga, teman sebaya, mentor, komunitas, serta lingkungan digital membantu mahasiswa membentuk persepsi mengenai dunia kewirausahaan.
Paparan terhadap bisnis lokal memberi mahasiswa gambaran mengenai kondisi usaha di dunia nyata. Sementara itu, media sosial memperkenalkan mereka kepada kisah pengusaha, strategi pemasaran, inovasi, dan berbagai alat digital yang dapat digunakan untuk menjalankan bisnis.
Teman sebaya juga dapat menjadi sumber motivasi melalui pertukaran ide, kolaborasi, dan persaingan yang sehat. Namun, pengaruh sosial tidak selalu positif. Kritik, kurangnya dukungan, atau ketidakpercayaan dari orang sekitar juga dapat menjadi sumber keraguan.
Kampus disarankan memperbanyak pengalaman bisnis nyata
Montes dan tim menyimpulkan bahwa ambisi kewirausahaan mahasiswa terbentuk melalui interaksi antara pengalaman akademik, karakter pribadi, serta lingkungan sosial. Program pendidikan bisnis yang menggabungkan teori dan praktik dapat membantu mahasiswa membangun pengetahuan, kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi dunia usaha.
Karena itu, penelitian tersebut merekomendasikan agar Gordon College memperluas kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman. Bentuknya antara lain praktik penjualan langsung, simulasi bisnis, inkubator usaha, serta kerja sama dengan pelaku industri. Kampus juga disarankan memperbanyak seminar, lokakarya, kegiatan jejaring, dan interaksi langsung dengan pengusaha.
Bagi mahasiswa, dukungan berupa mentoring dan bimbingan dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan, kepercayaan diri, serta kemampuan menghadapi ketakutan terhadap kegagalan. Peneliti juga mendorong penelitian lanjutan mengenai akses modal, kesiapan teknologi, dan faktor budaya, serta penelitian dengan mahasiswa dari program studi atau institusi yang berbeda.
Profil Penulis
Vincent Niko M. Montes — Gordon College, Filipina. Peneliti utama sekaligus corresponding author dalam kajian mengenai pengalaman akademik dan ambisi kewirausahaan mahasiswa BSBA Marketing Management.
Krizzel-Ann Obin, Adrian Jose Paguio, Nathaniel Ilagan, Romelo Lagana Jr., Antonette Callo, John Christopher Arceo, Joy Ann Ragasa, dan Roger Idos — Gordon College, Filipina. Kesembilan penulis terlibat dalam penelitian mengenai pendidikan bisnis, pengalaman akademik, dan perkembangan ambisi kewirausahaan mahasiswa.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis maupun profil keahlian individual secara terpisah. Karena itu, gelar atau spesialisasi personal tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak didukung sumber.
0 Komentar