Transformasi kelembagaan dan digital yang dijalankan oleh Bank Papua sepanjang rentang tahun 2015 hingga 2025 ternyata belum mampu memicu peningkatan profitabilitas secara berkelanjutan
Praktik perbankan modern kerap menghadapi tantangan berupa kesenjangan informasi dan tekanan efisiensi
Untuk memecahkan teka-teki mandeknya laba ini, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan model regresi Ordinary Least Squares (OLS) berbasis 44 observasi data triwulanan dari 2015 sampai 2025
Temuan utama dari studi empiris ini mencakup beberapa poin penting:
- Meskipun efisiensi operasional membaik dan rasio NPL menurun pasca-transformasi, rata-rata laba atas aset (ROA) justru turun dari 1,81% menjadi 1,73%, sementara laba atas ekuitas (ROE) turun dari 13,28% menjadi 12,64%
. - Rasio efisiensi biaya (BOPO), risiko kredit (NPL), dan tingkat inflasi terbukti memberikan dampak negatif serta signifikan terhadap penurunan profitabilitas bank
. - Sebaliknya, likuiditas (LDR), kecukupan modal (CAR), skala aset, dan pertumbuhan ekonomi regional berkontribusi positif secara signifikan dalam mendongkrak kinerja keuangan
. - Variabel transformasi digital menunjukkan arah koefisien positif, namun belum signifikan secara statistik akibat terkendala keterbatasan infrastruktur dan kondisi demografi Papua
.
Implikasi dari riset ini menegaskan bahwa adopsi teknologi di sektor perbankan regional tidak akan otomatis mendongkrak laba tanpa adanya perbaikan manajemen risiko dan efisiensi operasional
Profil Penulis:
Gracia Billy Mambrasar merupakan seorang peneliti dari Politeknik Negeri Batam, Indonesia
Sumber Penelitian:
Artikel jurnal berjudul "Transformation Without Profitability? An Econometric Study of Cost Efficiency, Credit Risk, and Regional Economic Constraints in Bank Papua, 2015-2025" yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6, No. 4, Agustus 2026, halaman 996-1015
0 Komentar