![]() |
| Illustration by Ai |
Pemetaan gaya belajar dapat membantu guru menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakteristik siswa. Temuan ini disampaikan Dewi Rulia Sitepu dan Khairina Afni dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Budidaya, Binjai, melalui penelitian terhadap 24 siswa kelas X SMA. Studi yang diterbitkan pada 2026 tersebut menemukan bahwa 58,33 persen siswa menunjukkan preferensi belajar visual dan 41,67 persen cenderung auditori, sementara tidak ditemukan siswa dengan preferensi kinestetik dalam pengukuran yang digunakan. Hasil ini penting karena memberikan gambaran awal bagi guru untuk merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
Setiap siswa memiliki
preferensi belajar yang berbeda
Proses belajar di ruang kelas
tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama bagi setiap siswa. Sebagian
siswa lebih mudah memahami informasi melalui gambar, diagram, atau tulisan.
Siswa lain mungkin lebih terbantu ketika materi dijelaskan secara lisan melalui
diskusi dan percakapan.
Perbedaan karakteristik tersebut
menjadi salah satu alasan pentingnya pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan
ini memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan strategi, materi, aktivitas, dan
lingkungan belajar dengan kebutuhan siswa, alih-alih menggunakan satu metode
yang sama untuk seluruh kelas.
Penelitian Dewi Rulia Sitepu dan
Khairina Afni dari STKIP Budidaya, Binjai, menempatkan pemetaan gaya belajar
sebagai salah satu informasi yang dapat digunakan guru ketika merancang
pembelajaran berdiferensiasi di tingkat SMA.
Penelitian melibatkan 24 siswa
kelas X
Penelitian menggunakan pendekatan
kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 24 siswa kelas X SMA sebagai sampel.
Para peneliti menggunakan kuesioner gaya belajar yang mengacu pada model VARK
untuk mengidentifikasi kecenderungan cara siswa menerima dan memahami
informasi.
Dalam penelitian tersebut, gaya
belajar yang diamati mencakup tiga kategori, yaitu visual, auditori, dan
kinestetik. Hasil kuesioner kemudian dipetakan untuk melihat kecenderungan yang
paling banyak muncul di antara siswa.
Pendekatan ini relatif sederhana
dan dapat memberikan gambaran awal kepada guru sebelum menyusun aktivitas
pembelajaran. Namun, hasil pemetaan sebaiknya tidak diperlakukan sebagai label
permanen terhadap kemampuan seorang siswa. Preferensi belajar dapat berbeda
bergantung pada materi, tugas, lingkungan, dan cara pembelajaran yang
digunakan.
Gaya belajar visual menjadi
yang paling dominan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 58,33 persen siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual.
Artinya, sebagian besar siswa dalam kelompok yang diteliti menunjukkan
preferensi terhadap cara belajar yang mengandalkan informasi visual.
Sementara itu, 41,67 persen
siswa menunjukkan kecenderungan auditori. Kelompok ini lebih banyak
teridentifikasi melalui preferensi terhadap informasi yang disampaikan secara
lisan.
Yang menarik, tidak ada siswa
yang teridentifikasi memiliki gaya belajar kinestetik dalam hasil pemetaan
penelitian tersebut.
Komposisi tersebut menunjukkan
bahwa guru pada kelas yang diteliti dapat mempertimbangkan penggunaan materi
visual dan aktivitas yang melibatkan penjelasan atau interaksi verbal.
Misalnya, materi dapat disajikan melalui diagram, ilustrasi, presentasi, video,
diskusi, penjelasan lisan, maupun aktivitas kelompok.
Namun, temuan tersebut tidak
berarti semua siswa visual harus selalu belajar dengan gambar atau semua siswa
auditori hanya membutuhkan penjelasan lisan. Pemetaan gaya belajar lebih tepat
digunakan sebagai salah satu informasi pendukung dalam merancang pembelajaran.
Pembelajaran berdiferensiasi
dapat dibuat lebih terarah
Menurut Dewi Rulia Sitepu dan
Khairina Afni dari STKIP Budidaya, pemahaman mengenai preferensi belajar siswa
dapat memberikan informasi penting untuk merancang strategi pembelajaran
berdiferensiasi yang berbasis kebutuhan siswa. Dengan mengetahui karakteristik
kelas, guru dapat menyesuaikan strategi, materi, dan lingkungan belajar agar
keterlibatan siswa meningkat.
Dalam praktiknya, guru dapat
menggunakan satu materi pokok tetapi menyajikannya melalui beberapa bentuk.
Konsep yang sama, misalnya, dapat dijelaskan menggunakan infografik atau
diagram sekaligus dipaparkan melalui diskusi. Siswa kemudian dapat diberikan
pilihan aktivitas untuk menunjukkan pemahamannya.
Pendekatan semacam ini berpotensi
membuat proses belajar lebih fleksibel tanpa menghilangkan tujuan pembelajaran
yang harus dicapai seluruh siswa.
Temuan relevan dengan arah
pendidikan yang lebih berpusat pada siswa
Penelitian tersebut juga
ditempatkan dalam konteks perkembangan pendidikan Indonesia yang semakin
memberi perhatian pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. Artikel menyebut
bahwa Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas kepada guru dan sekolah untuk
mengelola pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, minat,
dan karakteristik peserta didik.
Karena itu, pemetaan
karakteristik siswa dapat menjadi salah satu langkah awal sebelum guru menyusun
pembelajaran berdiferensiasi. Informasi tersebut dapat membantu guru memilih
bentuk materi dan aktivitas yang lebih relevan dengan kondisi kelas.
Bagi sekolah, pendekatan ini juga
dapat menjadi bagian dari evaluasi pembelajaran. Guru tidak hanya melihat hasil
ujian, tetapi juga mencoba memahami bagaimana siswa berinteraksi dengan materi
dan aktivitas pembelajaran.
Manfaat bagi guru dan siswa
Bagi guru, hasil pemetaan dapat
membantu menentukan variasi metode mengajar. Dominasi preferensi visual dalam
kelompok penelitian, misalnya, dapat menjadi pertimbangan untuk memperbanyak
penggunaan media visual, sementara proporsi siswa auditori yang cukup besar
dapat diakomodasi melalui presentasi, diskusi, tanya jawab, dan penjelasan
lisan.
Bagi siswa, pembelajaran yang
lebih beragam dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk memahami materi
melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Peneliti menyatakan
bahwa pemahaman terhadap preferensi belajar dapat membantu guru meningkatkan
keterlibatan, pemahaman, dan potensi hasil belajar siswa.
Meski demikian, cakupan
penelitian ini relatif terbatas karena hanya melibatkan 24 siswa kelas X.
Temuan tersebut karena itu belum dapat digeneralisasikan kepada seluruh siswa
SMA. Penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar dan melibatkan berbagai
sekolah diperlukan untuk melihat apakah pola yang sama muncul pada populasi
siswa yang lebih luas.
Profil Penulis
Dewi Rulia Sitepu — STKIP
Budidaya, Binjai. Penulis pertama dan corresponding author artikel.
Penelitian ini berkaitan dengan gaya belajar siswa, desain pembelajaran, dan
pembelajaran berdiferensiasi.
Khairina Afni — STKIP
Budidaya, Binjai. Penulis kedua dalam penelitian mengenai pemetaan gaya belajar
sebagai dasar perancangan pembelajaran berdiferensiasi.
Artikel yang tersedia tidak
mencantumkan gelar akademik kedua penulis. Karena itu, gelar tidak ditambahkan
agar informasi profil tetap sesuai dengan sumber.
Sumber Penelitian
Judul: Mapping
Students' Learning Styles as the Basis For Designing Differentiated Learning in
High Schools
Penulis: Dewi Rulia
Sitepu, Khairina Afni
Afiliasi: Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Budidaya, Binjai
Jurnal: International
Journal of Integrative Research (IJIR)
Volume: 4, Nomor 7
Tahun: 2026
Halaman: 517–532

0 Komentar