Pemetaan Cakupan Fungsi Pengambilan Keputusan Ai-Based Decision Support System (Ai-DSS) terhadap Kebutuhan Keputusan Sistem Pertahanan Semesta: An Integrative Literature Review

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Riset Unhan: Kecerdasan Buatan Pertahanan Belum Sepenuhnya Siap Mendukung Sistem Pertahanan Semesta Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Cecep Rusdiana, Helda Risman, dan Fauzia G. Cempaka Timur dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa adanya kesenjangan fundamental (gap) antara kapabilitas teknologi AI-DSS yang berkembang dalam literatur global dengan kebutuhan nyata pengambilan keputusan dalam sistem pertahanan semesta.

Menganalisis 58 Studi Literatur AI Pertahanan Global
Dalam mengkaji fenomena ini, tim peneliti Unhan menggunakan metode Integrative Literature Review (ILR) yang digabungkan dengan analisis konten terarah. Peneliti memetakan 58 artikel ilmiah dan laporan teknis internasional bertema AI-DSS pertahanan yang terbit dalam kurun waktu 2018 hingga pertengahan 2026. Dari total sampel tersebut, sebanyak 67,2% merupakan publikasi terkini periode 2023–2025. Setiap artikel dikodekan ke dalam enam dimensi utama, meliputi level keputusan, fungsi keputusan, pengguna utama, lingkup organisasi, status aktor non-militer, hingga pembagian kewenangan keputusan. Sebagai pembanding (benchmark), para peneliti menyintesis secara independen kerangka undang-undang dan doktrin pertahanan Indonesia, termasuk UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, UU No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional, Doktrin Pertahanan Negara 2023, serta Peraturan Presiden No. 111 Tahun 2025. Dari sintesis normatif tersebut, dirumuskan enam kebutuhan inti Sishankamrata, antara lain:
  • Mobilisasi sumber daya nasional.
  • Penataan dan pengelolaan sumber daya pertahanan.
  • Koordinasi lintas kementerian/lembaga dan unsur sipil-militer.
  • Pertahanan berbasis kewilayahan.
  • Partisipasi warga negara dan dukungan masyarakat.
  • Pengintegrasian Komponen Utama, Cadangan, dan Pendukung.
AI Masih Dominan di Medan Tempur dan Komando Militer
Hasil pemetaan empiris menunjukkan bahwa fokus pengembangan AI-DSS internasional sangat timpang dan dominan pada sektor operasional tempur murni. Secara rincian angka:
  • Tingkat Keputusan: Sebanyak 60,3% (35 artikel) berfokus pada tingkat operasional, 25,9% pada tingkat strategis, dan 13,8% pada level taktis.
  • Fungsi Utama: Mayoritas pengembangan AI dipakai untuk fungsi Komando dan Pengendalian Medan Tempur (Battlefield/C2) sebesar 39,7% dan Perencanaan Operasi (Operational Planning) sebesar 19,0%.
  • Pengguna Utama: Komandan militer menjadi pengguna sasaran utama dalam 60,3% studi (35 artikel). Sementara tidak ada satu pun artikel yang menempatkan aktor sipil sebagai pengguna utama tunggal.
  • Cakupan Organisasi: Sebanyak 86,2% penelitian membatasi lingkup penggunaan AI-DSS pada internal militer (matra tunggal maupun gabungan/ joint). Hanya 12,1% yang menjangkau antarlembaga (interagency), dan hanya 1,7% (1 artikel) yang menyentuh ranah masyarakat luas (whole-of-society).
Di sisi lain, fungsi-fungsi krusial dalam pertahanan semesta—seperti mobilisasi nasional, alokasi sumber daya nasional, dan penilaian ancaman nonmiliter—sama sekali tidak ditemukan sebagai fungsi utama dalam literatur yang dianalisis. Fungsi koordinasi sipil-militer hanya muncul pada satu artikel (1,7%). Selain itu, sebesar 91,4% artikel sama sekali tidak melibatkan aktor non-militer dalam alur proses pengambilan keputusan.

Implikasi dan Dua Kesenjangan Utama (Gap)
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti Unhan mengidentifikasi dua bentuk kesenjangan utama:
  • Decision-Support Gap: Terjadinya ketidakseimbangan antara kecanggihan AI untuk kebutuhan komando tempur di satu sisi, dengan ketiadaan dukungan AI untuk fungsi tata kelola mobilisasi warga, logistik sipil-militer, serta kewilayahan di sisi lain.
  • Organizational Scope Gap: AI-DSS yang ada saat ini dirancang kaku untuk hierarki komando militer tunggal atau gabungan, sehingga gagap ketika harus berinteraksi dengan sistem multi-aktor yang melibatkan kementerian sipil, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.
Penelitian ini menegaskan bahwa kecanggihan algoritma AI tidak otomatis cocok diterapkan dalam sistem pertahanan negara yang berciri semesta. Sishankamrata membutuhkan interoperabilitas data lintas kementerian dan fleksibilitas kewenangan, bukan sekadar kecepatan analisis data di garis depan pertempuran. Implikasi dari riset ini sangat penting bagi pembuat kebijakan pertahanan nasional, terutama dalam mengoperasionalkan Perpres No. 111 Tahun 2025 yang mendorong modernisasi AI dan C6ISR. Indonesia diimbau untuk tidak hanya mengadopsi mentah-mentah teknologi AI militer dari luar negeri, melainkan merancang arsitektur AI-DSS mandiri yang mampu menghubungkan institusi TNI dengan kementerian sipil dan pemerintah daerah.

Profil Penulis
Cecep Rusdiana, S.T., M.Si. — Peneliti dan akademisi di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan). Memiliki keahlian di bidang teknologi pertahanan, sistem pendukung keputusan, dan strategi pertahanan negara.
Dr. Helda Risman, M.Si. (Han) — Dosen dan peneliti senior di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan). Berfokus pada kajian strategi pertahanan, manajemen krisis, dan kebijakan publik pertahanan.
Fauzia G. Cempaka Timur, S.I.P., M.A. — Pengajar dan peneliti di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan) dengan spesialisasi keahlian pada tata kelola pertahanan, keamanan internasional, dan analisis kebijakan.

Sumber Penelitian
Cecep Rusdiana, Helda Risman, Fauzia G. Cempaka Timur. Mapping the Scope of the Decision Support System (Ai-DSS) Decision Function to the Decision Needs of the Universal Defense System: An Integrative Literature Review. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS).  Vol. 5, No. 7, Tahun 2026 (Halaman 1605–1624).
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i7.89
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar