Menjawab Tantangan Krisis Moderasi dan Literasi Digital
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan wilayah dengan keberagaman etnis dan agama yang amat majemuk, mulai dari suku Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, hingga Nias. Di tengah pesatnya arus digitalisasi dan globalisasi, kawasan ini menghadapi dua tantangan sosial utama yang berpotensi mengganggu kerukunan warga.
Pertama, terdapat kecenderungan krisis pemahaman moderasi beragama di kalangan remaja dan pelajar. Sebagian pemuda mulai terpapar pandangan keagamaan yang eksklusif dan kurang toleran akibat minimnya wadah pembinaan yang mengajarkan nilai-nilai wasathiyah Islam (Islam moderat yang ramah dan penuh kasih sayang).
Kedua, tingginya aktivitas masyarakat di media sosial belum diimbangi dengan literasi digital Islami yang memadai. Akibatnya, masyarakat—khususnya generasi muda—mudah terseret dan terpengaruh oleh konten berunsur hoaks keagamaan, ujaran kebencian, hingga paham radikal yang menyebar di ruang siber.
Melihat persoalan tersebut, MUI Sumatera Utara melalui Komisi Fatwa serta Bidang Pendidikan, Pemuda, dan Kaderisasi menginisiasi dua program bimbingan teknis. Program ini dirancang khusus untuk membentengi masyarakat dari pemahaman ekstrem sekaligus membangun etika berinteraksi di ruang siber.
Metodologi Pembelajaran yang Komprehensif dan Partisipatif
Tim peneliti UMSU menguji efektivitas program ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Data dihimpun melalui wawancara mendalam bersama Sekretaris Umum, Ketua Komisi Fatwa, serta Ketua Bidang Pendidikan MUI Sumut, dipadukan dengan observasi lapangan dan analisis dokumen resmi organisasi.
Riset mendapati bahwa pelaksanaan pelatihan tidak sekadar bersifat ceramah teoretis satu arah. MUI Sumut menerapkan metode partisipatif yang interaktif, mencakup diskusi kelompok, sesi tanya jawab, hingga simulasi langsung verifikasi berita di media sosial.
Program bimbingan ini menerapkan pembagian target peserta secara berjenjang:
- Materi Moderasi Beragama (Wasathiyah Islam): Difokuskan kepada para dai, ustaz, pengurus masjid, dan tokoh agama setempat. Langkah ini diambil karena tokoh agama merupakan penggerak utama (prime mover) yang bersentuhan langsung dengan masyarakat luas.
- Materi Etika Media Sosial: Difokuskan kepada generasi muda, remaja masjid, dan pelajar yang tergolong aktif menggunakan platform digital sehari-hari.
Sahrul dan Abd Rahman mencatat bahwa strategi penanaman nilai yang diterapkan MUI Sumut menggabungkan tiga pendekatan utama: pembiasaan (habituation), keteladanan (exemplary modeling) dari para ulama, serta pendampingan berkelanjutan (continuous mentoring).
Dua Pilar Utama Materi Pelatihan Keagamaan
Materi yang disajikan dalam program bimbingan keagamaan ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan, yang terbagi dalam dua pilar utama:
- Islam Wasathiyah (Moderasi Beragama): Peserta diajak memahami hakikat Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam). Materi ini menekankan pentingnya mengambil sikap tengah (seimbang), menghargai perbedaan tradisi dan budaya, serta mengenali ciri-ciri pemikiran ekstremis agar tidak mudah terprovokasi.
- Etika Media Sosial Berbasis Tabayyun: Pelatihan ini menggabungkan dimensi kesadaran dan keterampilan praktis. Peserta dibekali kesadaran mengenai bahaya fitnah, ghibah, dan penyebaran hoaks. Selain itu, peserta dilatih secara teknis untuk menerapkan prinsip tabayyun—yakni meneliti dan memverifikasi kebenaran sebuah informasi sebelum menyebarkannya di jejaring sosial.
Impact Riil dan Transformasi Perilaku Peserta
Riset dari UMSU ini membuktikan bahwa pelatihan keagamaan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan memberikan dampak nyata terhadap perubahan sikap dan perilaku peserta.
Para peserta pelatihan mengaku mengalami perubahan cara pandang (perspective transformation). Mereka yang sebelumnya mudah bingung dan terprovokasi oleh perdebatan agama di media sosial kini menjadi lebih kritis, bijak, serta toleran terhadap perbedaan keyakinan di lingkungan sekitar. Di dunia digital, peserta menjadi lebih berhati-hati dan selalu memastikan kebenaran berita sebelum membagikannya.
Secara teoretis, keberhasilan metode MUI Sumut ini mengonfirmasi relevansi beberapa teori pendidikan modern:
- Teori Belajar Sosial Albert Bandura: Melalui proses penuladanan perilaku ulama dan narasumber pakar.
- Teori Konstruktivisme Vygotsky: Melalui teknik bimbingan dan pendampingan bertahap (scaffolding).
- Teori Pembelajaran Transformatif Jack Mezirow: Yang mengubah pola pikir, keyakinan, dan perilaku sosial peserta secara mendasar.
Faktor Pendukung dan Solusi Hambatan Lapangan
Penelitian ini mengidentifikasi bahwa faktor kunci keberhasilan program terletak pada kualitas narasumber yang kompeten—gabungan antara akademisi dan ulama tersertifikasi—serta antusiasme peserta yang sangat tinggi.
Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi beberapa hambatan operasional, seperti keterbatasan anggaran, luasnya jangkauan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai, serta belum meratanya kesadaran sebagian warga untuk mengikuti pelatihan. Untuk mengatasinya, tim peneliti merekomendasikan model pengembangan berbasis aset komunitas (asset-based community development), yakni dengan merangkul jaringan masjid, majelis taklim, dan alumni pelatihan sebagai simpul edukasi mandiri di setiap kecamatan.
Profil Penulis & Tim Peneliti
- Sahrul, S.Pd.I. — Peneliti utama dan akademisi dari Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Memiliki kepakaran di bidang pendidikan Islam nonformal, bimbingan keagamaan masyarakat, dan pengembangan karakter pemuda.
- Dr. Abd Rahman, M.MA. — Dosen senior dan peneliti di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Berfokus pada kajian keilmuan Islam, kebijakan pendidikan keagamaan, serta dinamika sosial keagamaan masyarakat plural.
Sumber Riset Akademik (Referensi)
- Judul Artikel Jurnal: The Role of the Indonesian Ulema Council (MUI) of North Sumatra in Instilling Religious Values through Religious Training Programs in Serdang Bedagai Regency
- Penulis: Sahrul & Abd Rahman
- Nama Jurnal: International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE), Volume 4, Nomor 4, Tahun 2026, Halaman 353–364
- DOI / URL Resmi:
https://doi.org/10.59890/ijasse.v4i4.17 - https://journalijasse.my.id/index.php/ijasse
0 Komentar