Faktor Internal dan Digital Picu Agresi Remaja, Tinjauan 27 Studi Global 2015–2025
Perilaku agresif pada remaja dipengaruhi kombinasi faktor psikologis dan lingkungan digital, demikian temuan tinjauan sistematis yang dilakukan Kholifatus Soliha, Suhadianto, dan IGAA Noviekayati dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Studi yang terbit Januari 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) ini menganalisis riset global satu dekade terakhir dan menegaskan bahwa rendahnya kontrol diri, lemahnya regulasi emosi, pola asuh keras, serta kecanduan internet menjadi pemicu utama agresi remaja. Temuan ini penting karena agresi berdampak langsung pada kesehatan mental, prestasi pendidikan, dan stabilitas sosial.
Agresi remaja bukan sekadar kenakalan biasa. Data internasional menunjukkan keterlibatan pelajar dalam perkelahian fisik masih tinggi di berbagai negara. Di Indonesia, fenomena kekerasan jalanan seperti klithih menimbulkan keresahan publik. Di saat yang sama, bentuk agresi mengalami pergeseran: dari kekerasan fisik ke agresi relasional dan digital, termasuk perundungan siber.
Menggabungkan 27 Studi dari Empat Basis Data Internasional
Tim UNTAG Surabaya menelusuri artikel ilmiah di Scopus, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar pada November 2025. Dari 2.637 artikel awal, sebanyak 27 studi empiris memenuhi kriteria ketat untuk dianalisis lebih lanjut. Seluruh studi terbit dalam rentang 2015–2025 dan melibatkan remaja usia 10–19 tahun di berbagai negara, termasuk China, Korea Selatan, Kanada, Italia, Amerika Serikat, Pakistan, Spanyol, dan Indonesia.
Pendekatan yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berbasis pedoman PRISMA, sehingga hasilnya terstruktur dan transparan. Penelitian kuantitatif, longitudinal, dan eksperimental menjadi fokus utama untuk memastikan kekuatan bukti ilmiah.
Faktor Internal: Kontrol Diri dan Regulasi Emosi Jadi Kunci
Hasil sintesis menunjukkan sejumlah faktor internal paling konsisten terkait agresi remaja:
- Rendahnya kontrol diri: Remaja dengan kontrol diri lemah lebih rentan melakukan tindakan agresif, baik fisik maupun verbal.
- Regulasi emosi buruk dan alexithymia: Kesulitan mengenali dan mengelola emosi meningkatkan risiko ledakan kemarahan.
- Harga diri rendah: Berkorelasi dengan agresi reaktif berbasis kemarahan dan frustrasi.
- Keyakinan normatif yang mendukung agresi: Jika remaja menganggap kekerasan sebagai respons wajar, perilaku agresif lebih mudah muncul.
- Perbedaan gender: Remaja laki-laki cenderung menunjukkan agresi fisik dan proaktif lebih tinggi, sedangkan perempuan lebih banyak terlibat dalam agresi relasional dan digital.
Kholifatus Soliha menjelaskan bahwa faktor-faktor ini membentuk “fondasi psikologis” yang menentukan seberapa rentan seorang remaja terhadap pengaruh lingkungan. “Kontrol diri dan regulasi emosi menjadi penyangga utama. Ketika dua hal ini lemah, paparan risiko eksternal lebih mudah berubah menjadi perilaku agresif,” tulisnya dalam publikasi tersebut.
Faktor Eksternal: Pola Asuh, Teman Sebaya, dan Media Digital
Selain faktor internal, lingkungan sosial dan digital terbukti berperan besar.
Studi longitudinal di China bahkan menunjukkan kecanduan internet pada awal periode penelitian memprediksi peningkatan agresi satu tahun kemudian.
Pergeseran Global: Dari Fisik ke Digital
Analisis tren 2015–2025 memperlihatkan perubahan signifikan. Pada awal dekade, riset banyak fokus pada agresi fisik akibat disiplin keras dan kontrol diri rendah. Namun sejak 2020, perhatian bergeser ke agresi relasional dan digital.
Di Eropa dan Amerika Utara, agresi sering terkait motivasi popularitas dan dinamika status sosial di sekolah. Di Asia Timur, penelitian menyoroti mekanisme mediasi psikologis seperti harga diri dan depresi. Secara global, pendekatan ilmiah pun berubah: dari model satu faktor ke model ekologi yang melihat interaksi individu, keluarga, teman sebaya, dan teknologi.
Implikasi: Intervensi Harus Terpadu dan Adaptif Digital
Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan.
Pertama, program pencegahan agresi perlu memperkuat kontrol diri, regulasi emosi, dan empati kognitif. Kedua, orang tua perlu didorong menerapkan pola asuh suportif, bukan represif. Ketiga, literasi digital menjadi kunci untuk mengurangi dampak kecanduan media sosial dan paparan konten kekerasan.
Sekolah dapat mengintegrasikan pelatihan manajemen emosi dan penggunaan media digital yang sehat dalam kurikulum. Sementara itu, kebijakan publik perlu mempertimbangkan regulasi dan edukasi berbasis keluarga serta komunitas.
Penulis juga merekomendasikan penelitian longitudinal lintas budaya untuk merancang model pencegahan agresi remaja yang lebih komprehensif dan berbasis bukti global.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Artikel ini merupakan publikasi akses terbuka di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International.

0 Komentar