Beban Administrasi dan Fenomena “Copy-Paste” Kurikulum
Dalam praktiknya, banyak
kepala sekolah dan guru menghadapi tekanan administratif yang tinggi saat
menyusun KSP. Kompleksitas dokumen, keterbatasan waktu, serta minimnya
pendampingan intensif sering berujung pada jalan pintas: menyalin kurikulum
dari sekolah lain tanpa penyesuaian konteks.
Berdasarkan survei terhadap 15
kepala sekolah, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar KSP yang
disusun tidak benar-benar merefleksikan profil peserta didik, laporan
pendidikan sekolah, maupun kondisi lokal. Akibatnya, kurikulum hanya menjadi
dokumen formal tanpa dampak nyata pada proses pembelajaran.
“Dalam kondisi seperti ini,
kurikulum kehilangan maknanya sebagai panduan pembelajaran yang hidup,” tulis
Kamila Harahap dalam artikelnya.
KSP Fast Track: Kurikulum Disusun Lebih Cepat dan
Lebih Autentik
Untuk menjawab persoalan
tersebut, peneliti merancang KSP Fast Track, sebuah model pendampingan
penyusunan kurikulum berbasis ekosistem digital Google Workspace dan AI. Model
ini mengubah cara kerja pengawas sekolah dari sekadar pemeriksa administrasi
menjadi pendamping substantif.
Pendekatan ini dibangun
melalui tiga komponen utama. Pertama, Google Classroom difungsikan
sebagai digital command center yang menampung seluruh panduan kurikulum,
format baku, instrumen supervisi, dan bahan pembelajaran. Dengan sistem ini,
sekolah tidak lagi mengandalkan dokumen dari sumber tidak jelas.
Kedua, Gemini AI
digunakan untuk membantu analisis otomatis data laporan pendidikan sekolah. AI
memberikan rekomendasi penyusunan KSP, mengecek kelengkapan struktur dokumen,
sekaligus meminimalkan praktik duplikasi atau plagiarisme.
Ketiga, proses pendampingan
dilakukan secara real-time melalui Google Meet, sehingga diskusi antara
pengawas dan kepala sekolah dapat langsung fokus pada substansi kurikulum,
bukan sekadar perbaikan format dokumen.
Waktu Lebih Singkat, Kualitas Lebih Baik
Hasil penelitian menunjukkan dampak yang signifikan. Setelah penerapan KSP Fast Track, waktu penyusunan dan validasi KSP turun rata-rata hingga 70 persen. Jika sebelumnya sekolah membutuhkan waktu lebih dari satu bulan, kini kurikulum dapat diselesaikan dalam hitungan minggu.
Lebih dari sekadar efisiensi
waktu, kualitas KSP juga mengalami peningkatan. Dokumen kurikulum yang
dihasilkan dinilai lebih autentik, berbasis data sekolah, dan relevan dengan
kebutuhan peserta didik. Kepala sekolah yang terlibat dalam program ini menyatakan
merasa lebih percaya diri karena kurikulum yang disusun benar-benar
mencerminkan kondisi sekolah mereka.
Skor refleksi kepala sekolah
pasca penerapan KSP Fast Track menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek
efektivitas waktu, pemanfaatan teknologi, dan penghematan energi kerja.
Dampak bagi Dunia Pendidikan
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi sistem pendidikan Indonesia. Di tengah dorongan transformasi digital dan implementasi kurikulum nasional, KSP Fast Track menawarkan solusi praktis yang bisa diterapkan di berbagai daerah.
Bagi sekolah, model ini
membantu mengurangi beban kerja administratif. Bagi guru, waktu yang biasanya
tersita untuk dokumen dapat dialihkan ke perencanaan dan interaksi
pembelajaran. Sementara bagi pembuat kebijakan, penelitian ini menunjukkan
bahwa pemanfaatan AI di bidang administrasi pendidikan bukan sekadar wacana,
melainkan solusi nyata.
Penelitian ini juga membuka
peluang riset lanjutan, termasuk pengembangan model AI yang lebih personal
untuk perencanaan pembelajaran serta studi dampak kurikulum autentik terhadap
hasil belajar siswa.
Profil Penulis
Kamila Harahap, S.Pd. Dosen pendidikan di Universitas Negeri Medan.
Bidang keahlian: manajemen pendidikan, pengawasan sekolah, dan inovasi kurikulum berbasis teknologi digital.
Sumber Penelitian
Kamila Harahap School
Curriculum (KSP) Fast Track: Integration of Google Tools and Artificial
Intelligence in KSP Development. Asian Journal of Management
Analytics (AJMA) Vol. 5 No. 1, hlm. 93-100. 2026
DOI prefik: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.15968
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

0 Komentar