Sebuah studi ilmiah terbaru tahun
2026 yang dilakukan oleh empat peneliti dari Universitas Bunda Mulia, yaitu
Hana Nadia, Ali Wardhana, Ika Pratiwi Simbolon, dan Frananda SJ, mengungkapkan
bahwa pemahaman literasi keuangan yang kuat memiliki peran krusial dalam
mengendalikan gaya hidup materialistis, menekan kecenderungan berutang, serta
mencegah perilaku belanja impulsif (compulsive buying) di kalangan
tenaga kerja muda kawasan Jabodetabek. Penelitian ini memberikan landasan
empiris penting bagi pembuatan kebijakan edukasi finansial di tengah pesatnya
gempuran teknologi keuangan digital seperti fitur Buy Now, Pay Later
(BNPL) dan pinjaman online.
Latar Belakang: Gaya Hidup
Modern dan Kemudahan Akses Digital
Pesatnya perkembangan teknologi
keuangan (fintech) di Indonesia telah mengubah lanskap transaksi
masyarakat secara drastis. Integrasi dompet digital, kemudahan akses kredit
instan, dan fenomena gaya hidup seperti You Only Live Once (YOLO)
mendorong sebagian masyarakat pada pola konsumsi berlebihan. Kebiasaan
berkumpul di kedai kopi kekinian, kepemilikan barang bermerek berharga jutaan
rupiah, hingga berlibur dengan dalih self-care kini dianggap sebagai
standar kebiasaan baru di kalangan pekerja usia produktif.
Sayangnya, dorongan pemenuhan
emosional ini sering kali tidak diimbangi dengan perencanaan anggaran berkala.
Akibatnya, banyak individu terjebak dalam pembelian kompulsif demi mendapatkan
kepuasan sesaat atau meredakan stres. Kesenjangan antara pendapatan dan
pengeluaran ini memaksa sebagian masyarakat mengambil pinjaman konsumtif, yang
berisiko mengganggu kesejahteraan finansial dan kesehatan mental mereka.
Metodologi Penelitian yang
Sederhana dan Terukur
Untuk menguji secara pasti sejauh
mana pengetahuan keuangan mampu membatasi perilaku konsumtif tersebut, tim
peneliti menerapkan pendekatan kuantitatif berbasis survei. Data primer
dikumpulkan dari 160 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive
sampling. Kriteria responden difokuskan pada individu Generasi Z berusia 17
hingga 27 tahun yang telah bekerja dan memiliki penghasilan mandiri di wilayah
Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Data dianalisis menggunakan
metode pemodelan persamaan struktural berbasis kuadrat terkecil parsial (Partial
Least Squares Structural Equation Modeling / PLS-SEM) melalui perangkat
lunak SmartPLS 4.1.1. Metode statistik ini digunakan untuk menguji hubungan
variabel serta mengukur sejauh mana literasi keuangan mempengaruhi tiga
indikator utama: materialisme, kecenderungan berutang, dan belanja kompulsif.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis data menunjukkan
bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap
ketiga variabel perilaku konsumtif tersebut:
- Menekan Sikap Materialistis: Literasi
keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap sikap materialistis
(koefisien jalur -0,351, t-statistik 4,686, p-value 0,000). Nilai R-squared
sebesar 0,123 menunjukkan bahwa literasi keuangan secara langsung
menjelaskan 12,3% variasi dari tingkat materialisme individu.
- Mengurangi Kecenderungan Berutang: Literasi
keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dorongan untuk
mengambil utang (koefisien jalur -0,307, t-statistik 4,064, p-value
0,000). Nilai R-squared sebesar 0,094 mencatat kontribusi langsung
sebesar 9,4% dalam menekan kebiasaan berutang.
- Membatasi Belanja Kompulsif: Literasi
keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku belanja
impulsif secara emosional (koefisien jalur -0,263, t-statistik 3,460,
p-value 0,001). Nilai R-squared sebesar 0,069 menjelaskan 6,9%
variasi dalam pengendalian belanja kompulsif.
Hasil uji hipotesis ini
menyimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pemahaman keuangan seseorang, semakin
baik kemampuan mereka dalam membedakan kebutuhan dan keinginan, mengontrol
pengeluaran, serta membuat keputusan finansial yang rasional.
Implikasi Kebijakan dan
Manfaat Bagi Masyarakat
Temuan studi ini mempertegas
bahwa peningkatan literasi keuangan bukan sekadar teori akademis, melainkan
instrumen penting bagi stabilitas ekonomi masyarakat modern. Pemahaman
finansial yang memadai berfungsi sebagai benteng internal yang menjaga masyarakat
agar tidak mudah tergiur oleh dorongan konsumerisme emosional maupun jebakan
utang berlebih.
Para peneliti dari Universitas
Bunda Mulia menggarisbawahi bahwa pemahaman mengenai manajemen keuangan, risiko
pinjaman, dan perencanaan jangka panjang sangat efektif mendorong sikap
hati-hati saat memanfaatkan fasilitas kredit digital maupun fitur bayar nanti (pay
later). Oleh karena itu, edukasi keuangan yang intensif dan inklusif harus
menjadi agenda prioritas bersama bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan
penyedia jasa keuangan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan
berkelanjutan.
Profil Penulis / Tim Peneliti
- Hana Nadia, S.E. — Peneliti di bidang
Manajemen Finansial dan Perilaku Konsumen, Universitas Bunda Mulia.
- Ali Wardhana, S.E., M.M. (Corresponding
Author) — Dosen dan Peneliti di Universitas Bunda Mulia dengan
spesialisasi Keuangan, Perilaku Finansial, dan Manajemen Risiko (Email:
awardhana@bundamulia.ac.id).
- Dr. Ika Pratiwi Simbolon, S.E., M.Sc. —
Akademisi dan Peneliti Senior Universitas Bunda Mulia yang fokus pada
Riset Literasi Keuangan, Ekonomi Perilaku, dan Pendidikan Finansial.
- Frananda SJ, S.E. — Peneliti Muda
Universitas Bunda Mulia yang berfokus pada Pengambilan Keputusan Keuangan
Generasi Muda dan Teknologi Finansial.
Sumber Penelitian Resmi
- Judul Artikel Jurnal: The Effect of
Financial Literacy on Materialism, Propensity to Debt, and Compulsive
Buying
- Nama Jurnal: International Journal of
Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM)
- Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 4, No. 4,
Halaman 299–306)
- DOI Resmi: https://doi.org/10.59890/ijaeam.v4i4.203
- URL Resmi Jurnal: https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijaeam/index
0 Komentar