Lingkungan Kerja Fisik dan Sosial Pengaruhi Kepuasan Karyawan Bagian Kemasan PT XYZ

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Cimahi - Lingkungan kerja yang nyaman, bersih, serta didukung hubungan sosial yang baik terbukti berkaitan dengan kepuasan karyawan bagian pengemasan PT XYZ. Temuan ini berasal dari penelitian Riska Syifa Azahra dan Dian Lestari dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), yang menganalisis kondisi 40 karyawan bagian packaging. Data ketidakhadiran tanpa keterangan pada Januari–Oktober 2025 menjadi salah satu latar penting penelitian, sementara pengolahan data penelitian dilakukan dan dilaporkan pada 2026. Hasilnya menunjukkan lingkungan kerja fisik dan nonfisik secara bersama-sama menjelaskan 70,9 persen variasi kepuasan kerja karyawan.

Temuan tersebut penting bagi perusahaan manufaktur karena kepuasan kerja tidak hanya berkaitan dengan perasaan nyaman saat bekerja, tetapi juga dapat berhubungan dengan kehadiran, keinginan bertahan di perusahaan, dan kualitas hubungan antarpegawai.

Ketidakhadiran Karyawan Sempat Melebihi 4 Persen

Penelitian ini berangkat dari persoalan ketidakhadiran tanpa keterangan di bagian packaging PT XYZ. Berdasarkan data perusahaan yang diolah kembali oleh peneliti, persentase ketidakhadiran tanpa keterangan meningkat dari 0,88 persen pada Januari 2025 menjadi 4,38 persen pada Oktober 2025.

Pada April hingga Oktober, enam dari 10 bulan pengamatan mencatat tingkat ketidakhadiran di atas 3 persen. Angkanya masing-masing mencapai 3,63 persen pada April, 4,25 persen pada Mei, 3,38 persen pada Juni, 3,25 persen pada Juli, 3,75 persen pada September, dan 4,38 persen pada Oktober. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan indikasi persoalan kepuasan kerja yang perlu mendapat perhatian perusahaan.

Pengamatan awal juga menemukan sejumlah persoalan pada kondisi fisik tempat kerja. Ruang kerja disebut cukup padat dan kurang rapi, dengan plafon relatif rendah sehingga ruangan terasa panas dan lembap. Kinerja pendingin ruangan yang belum optimal membuat karyawan menggunakan kipas tambahan untuk membantu sirkulasi udara.

Kondisi toilet dan area penyimpanan juga menjadi perhatian. Peneliti mencatat area toilet terasa lembap dan kurang higienis, sedangkan perlengkapan kerja, cairan pembersih, pakaian kotor, dan peralatan kebersihan ditemukan dalam kondisi kurang tertata.

Masalah tidak berhenti pada aspek fisik. Survei awal terhadap 40 karyawan menunjukkan 70 persen responden menilai komunikasi antarpegawai sering menimbulkan kesalahpahaman dalam koordinasi pekerjaan. Sebanyak 62,5 persen merasa kerja sama antarpegawai belum terbangun dengan baik, sedangkan 72,5 persen menyatakan karyawan cenderung kurang peduli ketika rekan kerja menghadapi kesulitan.

Penelitian Melibatkan Seluruh 40 Karyawan

Azahra dan Lestari menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 40 karyawan bagian packaging PT XYZ sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala semantic differential, kemudian dilengkapi observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan regresi linear berganda, koefisien determinasi, serta uji statistik untuk melihat pengaruh masing-masing variabel dan pengaruh keduanya secara bersama-sama. Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS versi 27.

Hasil pengujian menunjukkan seluruh 27 item pengukuran dinyatakan valid. Nilai Cronbach's Alpha untuk variabel lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja nonfisik, dan kepuasan kerja juga berada di atas 0,60 sehingga instrumen dinilai konsisten.

Lingkungan Fisik Dinilai Baik, tetapi Kebersihan Masih Lemah

Dalam hasil survei, lingkungan kerja fisik memperoleh nilai rata-rata 3,68 dan masuk kategori baik. Enam aspek yang dinilai mencakup pencahayaan, suhu dan kelembapan, sirkulasi udara, aroma, dekorasi, kebersihan, serta ruang untuk bergerak.

Dekorasi memperoleh nilai tertinggi, yakni 3,74. Sementara itu, kebersihan menjadi aspek dengan nilai terendah, yaitu 3,59. Peneliti menilai kebersihan perlu menjadi prioritas perbaikan agar kenyamanan kerja dapat ditingkatkan.

Lingkungan kerja nonfisik juga memperoleh kategori baik dengan skor rata-rata 3,43. Hubungan antarpegawai pada tingkat yang sama mendapat nilai tertinggi, 3,48. Sebaliknya, kerja sama antarpegawai memperoleh nilai terendah, 3,38.

Sementara itu, kepuasan kerja karyawan berada pada kategori cukup puas dengan skor rata-rata 3,39. Aspek tingkat ketidakhadiran memperoleh skor tertinggi 3,55, sedangkan turnover atau kecenderungan berpindah kerja mendapat skor terendah, 3,28.

Lingkungan Sosial Memberi Pengaruh Lebih Besar

Analisis regresi menghasilkan persamaan Y = 0,406 + 0,248 X1 + 0,706 X2, dengan X1 sebagai lingkungan kerja fisik dan X2 sebagai lingkungan kerja nonfisik.

Artinya, peningkatan satu unit pada lingkungan kerja fisik berkaitan dengan peningkatan kepuasan kerja sebesar 0,248. Sementara peningkatan satu unit pada lingkungan kerja nonfisik berkaitan dengan peningkatan kepuasan kerja sebesar 0,706. Dengan demikian, dalam model penelitian ini, lingkungan kerja nonfisik memiliki koefisien pengaruh yang lebih besar dibandingkan lingkungan kerja fisik.

Secara bersama-sama, kedua faktor tersebut menjelaskan 70,9 persen variasi kepuasan kerja karyawan. Nilai R² sebesar 0,709 menunjukkan pengaruh gabungan yang kuat dalam model penelitian.

Uji simultan juga menghasilkan nilai F sebesar 45,140, lebih tinggi dibandingkan nilai F tabel 3,252, dengan signifikansi 0,000. Hasil tersebut menunjukkan lingkungan kerja fisik dan nonfisik secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan.

Perusahaan Disarankan Memperkuat Kebersihan dan Kerja Sama

Bagi perusahaan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan kepuasan kerja tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas. Hubungan antarpegawai, komunikasi, dan kerja sama juga perlu mendapat perhatian.

Azahra dan Lestari merekomendasikan pemeriksaan kebersihan secara rutin serta penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai. Untuk aspek sosial, perusahaan disarankan mengadakan kegiatan team building atau gathering secara berkala guna memperkuat hubungan dan kerja sama antarpegawai.

Peneliti juga menyoroti skor turnover yang menjadi aspek terendah dalam variabel kepuasan kerja. Karena masih terdapat kecenderungan sebagian karyawan untuk meninggalkan perusahaan, manajemen disarankan memperkuat penghargaan bagi karyawan berprestasi, memberikan insentif berbasis kinerja, menyediakan apresiasi bagi karyawan loyal, serta membuka peluang pengembangan karier melalui pelatihan, sertifikasi, mentoring, dan evaluasi kinerja yang objektif.

Temuan Riska Syifa Azahra dan Dian Lestari memperlihatkan bahwa lingkungan kerja merupakan bagian penting dari pengelolaan sumber daya manusia. Tempat kerja yang nyaman secara fisik perlu berjalan beriringan dengan komunikasi dan hubungan kerja yang sehat agar kepuasan karyawan dapat dipertahankan.

Profil Penulis

Riska Syifa Azahra — penulis pertama sekaligus corresponding author, berafiliasi dengan Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Bidang penelitian dalam artikel ini berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja karyawan.

Dian Lestari — penulis kedua, berafiliasi dengan Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Penelitian bersama dalam artikel ini berfokus pada lingkungan kerja dan kepuasan kerja dalam konteks manajemen sumber daya manusia.

Dokumen jurnal tidak mencantumkan gelar akademik kedua penulis, sehingga gelar tidak dapat dicantumkan tanpa menambahkan informasi di luar sumber penelitian.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Physical and Non-Physical Work Environment on the Job Satisfaction of Packaging Department Employees at PT. XYZ
Penulis: Riska Syifa Azahra dan Dian Lestari
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 2771–2784
DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.177
Afiliasi: Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. 

Posting Komentar

0 Komentar