Kompetensi Digital dan Kepercayaan Diri Guru Dorong Efektivitas Mengajar di Nabire

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Papua - Kemampuan guru menggabungkan teknologi dengan strategi pembelajaran terbukti berkaitan erat dengan efektivitas mengajar. Studi terbaru oleh Martinus Tekege dari Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire, Papua Tengah, yang diterima pada 23 Agustus 2026, menemukan bahwa kompetensi pedagogis digital tidak hanya meningkatkan efektivitas mengajar secara langsung, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri atau self-efficacy guru. Temuan ini penting bagi pengembangan pendidikan digital di Indonesia, terutama di wilayah dengan kondisi geografis dan akses teknologi yang beragam seperti Nabire.

Penelitian bertajuk Digital Pedagogical Competence and Teaching Effectiveness Examining the Mediating Role of Teacher Self Efficacy melibatkan 250 guru sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan di Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Guru juga membutuhkan keyakinan bahwa mereka mampu menggunakan keterampilan tersebut untuk merencanakan pembelajaran, melibatkan siswa, mengelola kelas, melakukan penilaian, dan menghadapi berbagai tantangan selama proses belajar.

Transformasi Digital Mengubah Peran Guru

Perkembangan teknologi telah mengubah cara pembelajaran berlangsung di sekolah. Guru kini tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga harus mengetahui bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Kompetensi pedagogis digital mencakup kemampuan memilih sumber belajar digital, merancang kegiatan pembelajaran, menggunakan teknologi untuk penilaian, meningkatkan keterlibatan siswa, serta membantu peserta didik mengembangkan kemampuan digitalnya.

Tantangan tersebut semakin terlihat setelah pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan pembelajaran berbasis teknologi. Namun, kesiapan guru tidak selalu sama. Perbedaan akses internet, fasilitas sekolah, pengalaman menggunakan teknologi, dan dukungan institusi dapat memengaruhi kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran digital.

Dalam konteks Nabire, persoalan tersebut menjadi penting karena kondisi sekolah dan ketersediaan sumber daya dapat berbeda antara satu lembaga pendidikan dan lainnya.

Melibatkan 250 Guru di Nabire

Martinus Tekege menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei kepada 250 guru. Para responden berasal dari tiga jenjang pendidikan, yaitu SMP, SMA, dan SMK.

Guru dipilih dengan metode pengambilan sampel yang mempertimbangkan proporsi setiap jenjang sekolah. Responden yang terlibat merupakan guru aktif dengan pengalaman mengajar minimal satu tahun serta pengalaman menggunakan teknologi digital dalam kegiatan pembelajaran.

Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala penilaian lima tingkat. Peneliti kemudian menganalisis hubungan antara tiga faktor utama, yaitu kompetensi pedagogis digital, teacher self-efficacy, dan efektivitas mengajar.

Secara sederhana, penelitian ini menguji apakah guru yang lebih kompeten dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi lebih efektif dalam mengajar, serta apakah kepercayaan diri guru menjadi salah satu penghubung antara kedua faktor tersebut.

Efektivitas Mengajar Memperoleh Nilai Tertinggi

Hasil deskriptif menunjukkan bahwa ketiga aspek yang diteliti berada pada tingkat relatif tinggi.

Rata-rata skor yang diperoleh adalah:

  • Efektivitas mengajar: 4,01 dari 5
  • Kompetensi pedagogis digital: 3,92 dari 5
  • Teacher self-efficacy: 3,88 dari 5

Temuan tersebut menunjukkan bahwa para guru dalam penelitian ini secara umum memiliki persepsi positif terhadap kemampuan digital, kepercayaan diri profesional, dan efektivitas kegiatan mengajar mereka.

Instrumen penelitian juga menunjukkan tingkat konsistensi yang kuat. Hal ini berarti pertanyaan yang digunakan untuk mengukur masing-masing faktor dinilai cukup andal untuk mendukung analisis penelitian.

Kompetensi Digital Berkaitan Langsung dengan Efektivitas Mengajar

Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogis digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas mengajar.

Artinya, semakin baik kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dengan strategi pembelajaran, semakin tinggi pula efektivitas mengajar yang mereka rasakan.

Pengaruh langsung kompetensi pedagogis digital terhadap efektivitas mengajar tercatat sebesar B = 0,361 dengan tingkat signifikansi p < 0,001.

Selain itu, kompetensi pedagogis digital juga memiliki hubungan kuat dengan kepercayaan diri guru. Pengaruh kompetensi digital terhadap teacher self-efficacy tercatat sebesar B = 0,589, dengan p < 0,001.

Dengan kata lain, guru yang merasa lebih mampu memilih sumber digital, menggunakan teknologi dalam pembelajaran, melakukan penilaian digital, dan mengatasi masalah teknologi cenderung memiliki keyakinan yang lebih tinggi terhadap kemampuan mengajarnya.

Kepercayaan Diri Guru Menjadi Faktor Penting

Penelitian Martinus Tekege juga menemukan bahwa teacher self-efficacy berpengaruh positif terhadap efektivitas mengajar.

Besarnya pengaruh tersebut mencapai B = 0,436 dengan p < 0,001.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keterampilan profesional tidak selalu otomatis menghasilkan praktik mengajar yang efektif. Seorang guru mungkin memahami cara menggunakan teknologi, tetapi tetap menghadapi kesulitan apabila tidak memiliki keyakinan dalam menerapkan kemampuan tersebut di ruang kelas.

Guru dengan tingkat self-efficacy yang lebih tinggi cenderung lebih percaya diri ketika merencanakan pembelajaran, melibatkan siswa, menghadapi kesulitan, dan menyesuaikan strategi mengajar dengan situasi yang berubah.

Teacher Self-Efficacy Menjadi Jembatan

Salah satu temuan terpenting penelitian ini adalah peran teacher self-efficacy sebagai mediator.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kompetensi pedagogis digital meningkatkan efektivitas mengajar melalui peningkatan kepercayaan diri guru. Besarnya pengaruh tidak langsung tersebut tercatat sebesar 0,257, dengan interval kepercayaan 0,188 hingga 0,334.

Karena seluruh rentang nilai berada di atas nol, pengaruh tidak langsung tersebut dinilai signifikan.

Martinus Tekege menemukan bahwa pola hubungan ini merupakan mediasi parsial. Artinya, kompetensi pedagogis digital masih memiliki pengaruh langsung terhadap efektivitas mengajar, tetapi sebagian pengaruhnya bekerja melalui peningkatan kepercayaan diri guru.

Secara keseluruhan, kompetensi pedagogis digital menjelaskan 38,9 persen variasi teacher self-efficacy. Sementara itu, kompetensi pedagogis digital dan teacher self-efficacy secara bersama-sama menjelaskan 58,9 persen variasi efektivitas mengajar.

Pelatihan Guru Tidak Cukup Hanya Mengajarkan Teknologi

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bagi sekolah dan pemerintah daerah. Program peningkatan kapasitas guru tidak seharusnya hanya berfokus pada pelatihan penggunaan perangkat lunak, aplikasi, atau perangkat digital.

Pelatihan juga perlu membantu guru membangun pengalaman nyata dalam menerapkan teknologi untuk memecahkan masalah pembelajaran.

Menurut temuan studi ini, pengembangan profesional guru akan lebih relevan jika mencakup:

  • praktik langsung penggunaan teknologi di kelas;
  • perancangan pembelajaran digital;
  • pengembangan sistem penilaian berbasis teknologi;
  • mentoring dan pendampingan;
  • kolaborasi antarguru;
  • umpan balik berkelanjutan; dan
  • penguatan kepercayaan diri guru.

Bagi wilayah seperti Nabire, pendekatan tersebut juga perlu didukung oleh peningkatan akses terhadap perangkat digital, internet, dan dukungan institusi.

Implikasi bagi Pendidikan di Papua Tengah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan bukan hanya persoalan infrastruktur. Komputer, internet, dan aplikasi pembelajaran memang penting, tetapi efektivitas penggunaannya sangat bergantung pada kemampuan dan keyakinan guru.

Sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar untuk merancang program pengembangan guru yang lebih menyeluruh.

Pendekatan tersebut dapat membantu memastikan bahwa teknologi tidak hanya tersedia di sekolah, tetapi benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Penelitian lanjutan juga masih diperlukan. Martinus Tekege menyarankan studi berikutnya menggunakan pengamatan kelas, penilaian siswa, evaluasi kepala sekolah, dan pengukuran kemampuan digital yang lebih objektif. Penelitian di wilayah lain juga diperlukan untuk melihat apakah pola yang sama terjadi dalam konteks pendidikan yang berbeda.

Profil Penulis

Martinus Tekege adalah akademisi dan peneliti dari Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire, Papua Tengah, Indonesia. Berdasarkan artikel ini, bidang kajiannya mencakup pendidikan digital, kompetensi pedagogis guru, teacher self-efficacy, efektivitas pengajaran, dan pengembangan profesional guru. Gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam naskah yang tersedia.

Sumber Penelitian

Jurnal:Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)


Posting Komentar

0 Komentar