Kolaborasi Antarprofesi dan Kepemimpinan Tingkatkan Mutu Pelatihan di RS Mata Bali Mandara

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bali - Kolaborasi antarprofesi kesehatan terbukti meningkatkan kualitas pelatihan di Bali Mandara Eye Hospital, sementara kepemimpinan juga memberi pengaruh positif secara langsung. Temuan ini berasal dari penelitian Lusius Lino Febronius Gibson, Ni Ketut Dewi Irwanti, dan Luh Komang Candra Dewi dari Program Magister Manajemen, Fakultas Bisnis, Pariwisata, dan Pendidikan, Universitas Triatma Mulya, Bali. Artikel penelitian tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Penelitian ini penting karena rumah sakit pendidikan tidak hanya menjalankan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran dan pelatihan bagi dokter, perawat, mahasiswa, serta tenaga kesehatan lainnya. Di lingkungan seperti ini, kemampuan berbagai profesi untuk bekerja bersama dapat menentukan seberapa efektif proses pembelajaran berlangsung.

Bali Mandara Eye Hospital merupakan rumah sakit mata tipe A sekaligus rumah sakit pendidikan di Bali. Rumah sakit ini memiliki unit pengelolaan pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang telah terakreditasi. Catatan rumah sakit menunjukkan terdapat 33 kegiatan pelatihan sepanjang 2023-2025. Namun, belum ada pelatihan yang secara khusus membahas kolaborasi antarprofesi atau Ward Board Meetings. Materi kolaborasi juga belum menjadi bagian dari orientasi peserta didik, sedangkan dukungan kepemimpinan belum sepenuhnya terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran lintas profesi.

Mengapa kolaborasi antarprofesi penting?

Dalam pelayanan kesehatan, dokter, perawat, apoteker, petugas laboratorium, radiografer, tenaga rekam medis, hingga profesi kesehatan lainnya memiliki keahlian dan tanggung jawab berbeda. Kolaborasi antarprofesi atau interprofessional collaboration (IPC) memungkinkan mereka bekerja melalui kemitraan, kerja sama, dan koordinasi.

Kemitraan berarti setiap profesi dipandang sebagai kontributor yang setara. Kerja sama menyatukan kompetensi dan kewenangan masing-masing profesi melalui pembagian pekerjaan yang jelas, sedangkan koordinasi memastikan komunikasi dan pertukaran informasi berjalan efektif. Pendekatan tersebut dapat menciptakan lingkungan belajar klinis yang lebih terintegrasi.

Namun, kolaborasi tidak selalu berjalan mudah. Hambatannya antara lain keterbatasan waktu dan pelatihan, pembagian peran yang kurang jelas, kekhawatiran kehilangan identitas profesi, komunikasi yang tidak efektif, serta kurangnya penghargaan terhadap kontribusi profesi lain.

Melibatkan 116 tenaga kesehatan

Gibson dan kolega menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei potong lintang terhadap tenaga kesehatan dan personel terkait di Bali Mandara Eye Hospital. Dari populasi 163 pegawai, sebanyak 116 responden dipilih menggunakan metode proportionate stratified random sampling agar berbagai kelompok profesi tetap terwakili.

Responden terdiri atas 16 dokter, 73 perawat, lima petugas rekam medis, satu radiografer, dua petugas laboratorium, tiga optometris, dua ahli gizi, dua tenaga anestesi, lima apoteker, dan tujuh teknisi farmasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala 1-5, kemudian diperkuat dengan dokumentasi, observasi, dan wawancara.

Peneliti mengukur tiga hal utama, yakni kolaborasi antarprofesi, kepemimpinan, dan kualitas pelatihan. Kualitas pelatihan dinilai melalui empat aspek: respons peserta, pembelajaran, perubahan perilaku di tempat kerja, dan hasil organisasi. Analisis menggunakan metode PLS-SEM untuk melihat hubungan antarvariabel.

Kolaborasi dan kepemimpinan sama-sama berpengaruh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antarprofesi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pelatihan. Nilai koefisien pengaruhnya mencapai 0,455 dengan t 4,920 dan nilai p kurang dari 0,001.

Artinya, semakin baik kemitraan, kerja sama, dan koordinasi antarprofesi, semakin baik pula kualitas pelatihan yang dirasakan peserta. Kolaborasi memungkinkan tenaga kesehatan saling bertukar pengetahuan, memperjelas peran, mengoordinasikan pelayanan pasien, dan menghubungkan materi pelatihan dengan situasi klinis sehari-hari.

Kepemimpinan juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pelatihan. Koefisiennya sebesar 0,434 dengan t 4,663 dan p kurang dari 0,001.

Dalam penelitian tersebut, aspek kepemimpinan yang dinilai mencakup kemampuan menjadi teladan, memberikan motivasi, mendorong pemecahan masalah dan gagasan baru, serta memberikan perhatian terhadap kebutuhan individu. Motivasi inspiratif memperoleh penilaian tertinggi, sedangkan perhatian individual menjadi aspek yang paling rendah.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemimpin rumah sakit bukan sekadar pihak yang memberikan persetujuan administratif terhadap pelatihan. Dukungan berupa arahan, motivasi, sumber daya, kesempatan menerapkan kompetensi baru, serta pendampingan personal dapat ikut menentukan kualitas pelatihan.

Kepemimpinan belum memperkuat efek kolaborasi

Ada satu temuan yang menarik. Meskipun kepemimpinan secara langsung meningkatkan kualitas pelatihan, penelitian tidak menemukan bukti bahwa kepemimpinan memperkuat atau memperlemah pengaruh kolaborasi antarprofesi terhadap kualitas pelatihan.

Interaksi antara IPC dan kepemimpinan memiliki koefisien 0,028, nilai t 0,613, dan p 0,540. Karena tidak signifikan, hipotesis bahwa kepemimpinan memperkuat hubungan IPC dengan kualitas pelatihan tidak didukung.

Dengan kata lain, kolaborasi dan kepemimpinan saat ini lebih terlihat sebagai dua faktor yang bekerja secara langsung untuk meningkatkan kualitas pelatihan. Peneliti menduga efek moderasi belum muncul karena praktik kepemimpinan belum secara sistematis ditanamkan ke dalam pelatihan lintas profesi.

Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan 70,1 persen variasi kualitas pelatihan. Sisanya, 29,9 persen, dipengaruhi faktor lain yang tidak masuk dalam model penelitian.

Rekomendasi untuk rumah sakit

Peneliti merekomendasikan agar rumah sakit memperkuat kemitraan lintas profesi melalui diskusi kasus bersama, pengambilan keputusan bersama, simulasi kolaboratif, dan Ward Board Meetings. Langkah tersebut diharapkan dapat mengubah kerja sama yang masih bersifat informal menjadi sistem pembelajaran lintas profesi yang lebih terstruktur.

Dari sisi kepemimpinan, perhatian individual juga perlu diperkuat melalui coaching, mentoring, umpan balik setelah pelatihan, serta rencana pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing profesi. Sementara itu, pengalaman peserta selama pelatihan dapat diperbaiki melalui metode fasilitasi, media pembelajaran, fasilitas, dan mekanisme umpan balik yang lebih baik.

Bagi pelayanan kesehatan, temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kesehatan tidak cukup hanya melalui pelatihan individual. Lingkungan kerja yang mendorong komunikasi, koordinasi, pembagian peran yang jelas, serta dukungan pemimpin juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Penelitian ini tetap memiliki keterbatasan. Studi hanya dilakukan di satu rumah sakit khusus, menggunakan data kuesioner yang dilaporkan responden sendiri, serta memakai desain potong lintang. Karena itu, hasilnya perlu diterapkan secara hati-hati pada rumah sakit lain. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya menggunakan studi longitudinal, melibatkan lebih banyak rumah sakit, atau menguji intervensi secara langsung.

Profil Penulis

Lusius Lino Febronius Gibson — Program Magister Manajemen, Fakultas Bisnis, Pariwisata, dan Pendidikan, Universitas Triatma Mulya, Bali, Indonesia. Ia tercatat sebagai penulis korespondensi penelitian ini. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik tidak dicantumkan dalam artikel jurnal.

Ni Ketut Dewi Irwanti — Program Magister Manajemen, Fakultas Bisnis, Pariwisata, dan Pendidikan, Universitas Triatma Mulya, Bali, Indonesia. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik tidak dicantumkan dalam artikel.

Luh Komang Candra Dewi — Program Magister Manajemen, Fakultas Bisnis, Pariwisata, dan Pendidikan, Universitas Triatma Mulya, Bali, Indonesia. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik tidak dicantumkan dalam artikel.

Sumber Penelitian

Gibson, Lusius Lino Febronius, Ni Ketut Dewi Irwanti, dan Luh Komang Candra Dewi. “The Role of Leadership in Moderating the Effect of Interprofessional Collaboration on Training Quality at Bali Mandara Eye Hospital.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 8, 2026, hlm. 2579-2588. DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.165.

Posting Komentar

0 Komentar