Madura — Tingkat kematangan digital lembaga pendidikan Islam berbeda cukup tajam di Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki, sementara efektivitas pengelolaan sekolah semakin berkaitan dengan kepemimpinan, infrastruktur, kebijakan digital, dan kemampuan tenaga pendidik. Temuan tersebut diungkap Abdul Kafi, Muhammad Syarif, dan Sutikno dari Universitas Trunojoyo Madura Indonesia melalui kajian literatur komparatif terhadap perkembangan pendidikan Islam berasrama pada periode 2022–2025. Hasil kajian menunjukkan Turki berada pada tingkat paling maju dalam integrasi teknologi pendidikan, Malaysia berkembang dengan dukungan kebijakan yang lebih terstruktur, Indonesia berada pada tahap emerging hingga developing yang sangat beragam, sedangkan Pakistan masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan penerapan reformasi madrasah.
Lembaga pendidikan Islam berasrama memiliki karakter yang berbeda dari sekolah umum karena menggabungkan pendidikan formal, pembelajaran agama, kehidupan asrama, pembentukan karakter, serta kepemimpinan keagamaan. Di Indonesia lembaga tersebut dikenal sebagai pesantren, sementara Malaysia memiliki SMKA dan sekolah agama berasrama, Pakistan memiliki jaringan madrasah, dan Turki memiliki sekolah Imam Hatip. Jutaan pelajar menempuh pendidikan dalam berbagai bentuk lembaga tersebut, sehingga kemampuan mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting dari masa depan pendidikan Islam.
Perubahan tersebut semakin terasa setelah pandemi COVID-19. Pembelajaran jarak jauh memaksa banyak lembaga pendidikan yang sebelumnya memiliki keterbatasan atau resistensi terhadap teknologi untuk menggunakan berbagai perangkat digital, mulai dari aplikasi komunikasi hingga Learning Management System. Kondisi pandemi kemudian menjadi titik awal percepatan digitalisasi yang masih terlihat dalam perkembangan pendidikan Islam pada periode setelah pandemi.
Namun, perkembangan teknologi tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama di setiap negara. Kajian sebelumnya lebih banyak membahas digitalisasi atau efektivitas manajemen secara terpisah dan dalam konteks satu negara. Karena itu, kajian Abdul Kafi, Muhammad Syarif, dan Sutikno membandingkan secara langsung tingkat kematangan digital dan pengelolaan efektivitas sekolah pada lembaga pendidikan Islam berasrama di empat negara.
Para peneliti menggunakan Comparative Systematic Literature Review, yaitu metode yang mengumpulkan dan membandingkan hasil berbagai penelitian secara sistematis. Literatur diperoleh dari Scopus, Web of Science, Google Scholar, DOAJ, serta sejumlah sistem indeks nasional di Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki. Pencarian dilakukan pada Oktober 2025 hingga Januari 2026 dengan cakupan publikasi Januari 2022 sampai Desember 2025.
Dari 247 publikasi awal, sebanyak 43 dokumen duplikat dihapus. Sebanyak 204 artikel kemudian disaring berdasarkan judul dan abstrak, menghasilkan 119 artikel yang dinilai relevan. Setelah pemeriksaan teks lengkap, sebanyak 62 artikel masuk dalam kajian akhir, terdiri atas 28 penelitian dari Indonesia, 11 dari Malaysia, 12 dari Pakistan, dan 11 dari Turki.
Dari keseluruhan literatur tersebut, 67,7 persen penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, 19,4 persen menggunakan metode campuran, dan 12,9 persen menggunakan pendekatan kuantitatif. Fokus penelitian paling banyak berkaitan dengan proses dan tantangan transformasi digital sebesar 38,7 persen, diikuti kepemimpinan pendidikan dan manajemen mutu sebesar 25,8 persen, integrasi kurikulum sebesar 19,4 persen, serta penilaian literasi digital sebesar 16,1 persen.
Di Indonesia, tingkat kematangan digital pesantren berada pada kategori emerging hingga developing. Kondisinya sangat beragam dan banyak dipengaruhi oleh tipe pesantren serta orientasi kepemimpinan Kyai. Pesantren modern cenderung lebih terbuka terhadap penggunaan Learning Management System, administrasi digital, dan integrasi teknologi dalam kurikulum. Sebaliknya, pesantren tradisional masih menghadapi keterbatasan akses teknologi, infrastruktur, kemampuan digital tenaga pendidik, resistensi terhadap perubahan, dan pendanaan.
Salah satu persoalan utama Indonesia adalah kesenjangan infrastruktur. Kajian yang dirangkum dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar 40 persen pesantren di Jawa Barat memiliki koneksi internet yang stabil dalam salah satu tinjauan literatur yang dikaji. Peran Kyai juga menjadi sangat penting karena dukungan pemimpin pesantren terhadap teknologi dapat mendorong layanan seperti pendaftaran daring, komunikasi digital, dan pengelolaan administrasi yang lebih transparan.
Malaysia menunjukkan kondisi yang lebih maju dengan kategori developing hingga established. Perkembangan tersebut didukung oleh kebijakan pendidikan nasional dan platform digital seperti DELIMa. Malaysia Education Blueprint 2013–2025 dan National Digital Education Policy 2023 memberikan dasar kebijakan yang lebih terstruktur untuk integrasi teknologi dalam pendidikan, termasuk pendidikan agama. Meski demikian, kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi persoalan.
Sementara itu, Pakistan berada pada kategori emerging. Sistem madrasah yang sebagian besar berjalan di luar sektor pendidikan formal membuat penerapan kebijakan teknologi tidak seragam. Pemerintah telah memperkenalkan TeleSchool App, eTaleem Portal, dan ratusan ruang kelas pintar, tetapi jangkauannya ke madrasah masih terbatas. Kekurangan infrastruktur, akses teknologi, pelatihan guru, dan resistensi sebagian otoritas madrasah menjadi hambatan utama.
Turki menjadi negara dengan tingkat kematangan digital paling tinggi dalam perbandingan tersebut, berada pada kategori established hingga advanced. Melalui FATIH Project, pemerintah Turki telah mengembangkan infrastruktur teknologi pendidikan, termasuk papan tulis interaktif dan akses internet di sekolah. Platform EBA juga menyediakan berbagai materi pembelajaran digital. Perkembangan terbaru bahkan mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan melalui platform pembelajaran yang dapat mempersonalisasi proses pendidikan.
Perbedaan tersebut juga terlihat dalam pengelolaan efektivitas sekolah. Di Indonesia, kepemimpinan Kyai menjadi faktor penting dalam pengelolaan pesantren. Di Malaysia, sistem pengelolaan lebih terstandar karena berada dalam kerangka kebijakan pendidikan pemerintah. Pakistan menghadapi persoalan regulasi yang terfragmentasi, sementara Turki memiliki sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi dengan sistem pendidikan nasional dan mekanisme penjaminan mutu.
Tabel perbandingan dalam artikel memperlihatkan bahwa Indonesia berada pada kategori Emerging–Developing, Malaysia Developing–Established, Pakistan Emerging, dan Turki Established–Advanced. Perbedaan tersebut berkaitan dengan kebijakan digital nasional, kualitas infrastruktur, literasi digital pendidik, tingkat resistensi budaya, serta konsistensi penerapan teknologi.
Meski berbeda tingkat kematangannya, keempat negara memiliki pola yang sama. Pandemi COVID-19 menjadi akselerator digitalisasi di seluruh negara. Kepemimpinan menjadi faktor penting yang menentukan kecepatan transformasi, baik melalui peran Kyai di Indonesia, kepala sekolah di Malaysia, Mudir di Pakistan, maupun Hoca di Turki. Infrastruktur fisik seperti koneksi internet, perangkat teknologi, dan ketersediaan listrik juga tetap menjadi fondasi utama kematangan digital, terutama di wilayah pedesaan.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi. Lembaga pendidikan juga membutuhkan pemimpin yang mampu mengarahkan perubahan, tenaga pendidik yang memiliki kompetensi digital, kebijakan yang jelas, serta sistem pengelolaan yang mampu memanfaatkan data dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Bagi Indonesia, pengalaman Malaysia dan Turki dapat menjadi rujukan dalam membangun ekosistem digital pesantren yang lebih terintegrasi. Para peneliti menilai pengembangan platform digital nasional khusus pesantren dapat membantu mengurangi pendekatan yang masih terfragmentasi. Pelatihan kepemimpinan digital bagi Kyai juga dinilai penting karena kepemimpinan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi digital pesantren.
Bagi Malaysia, tantangan utama terletak pada pemerataan akses di wilayah pedesaan. Pakistan membutuhkan penguatan infrastruktur digital dan harmonisasi regulasi agar madrasah dapat lebih terhubung dengan program pendidikan digital nasional. Sementara Turki memiliki peluang untuk mengembangkan pengalaman dan infrastrukturnya menjadi model teknologi pendidikan Islam yang dapat dipelajari oleh negara lain.
Para peneliti menyimpulkan bahwa hubungan antara kematangan digital dan efektivitas pengelolaan sekolah sangat dipengaruhi oleh kebijakan nasional, investasi infrastruktur, jangkauan regulasi, serta struktur kepemimpinan religio-kultural. Turki menunjukkan integrasi digital paling sistematis, Malaysia memiliki kebijakan yang kuat tetapi masih menghadapi persoalan implementasi, Indonesia menunjukkan variasi paling lebar antarlembaga, sedangkan Pakistan menghadapi tantangan paling besar dalam menghubungkan madrasah dengan sistem pendidikan digital nasional.
Karena penelitian berbasis kajian literatur, para peneliti merekomendasikan penelitian lapangan untuk menguji lebih lanjut hubungan antara kematangan digital dan efektivitas pengelolaan sekolah. Penelitian masa depan juga diharapkan dapat mengembangkan indeks kematangan digital khusus lembaga pendidikan Islam berasrama serta mengikuti perkembangan transformasi digital dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Abdul Kafi — Universitas Trunojoyo Madura Indonesia.
Muhammad Syarif — Universitas Trunojoyo Madura Indonesia.
Sutikno — Universitas Trunojoyo Madura Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Digital Maturity and School Effectiveness Management in Islamic Boarding Institutions: A Comparative Literature Review of Indonesia, Malaysia, Pakistan, and Turkey (2022–2025)
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1723–1740.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.133
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar