Investasi Listrik PLN di Pabrik Kelapa Sawit Dinilai Layak dan Kurangi Emisi Karbon

Ilustrasi by AI

Padang, Indonesia — Investasi pemasangan listrik PLN sebagai sumber daya alternatif di pabrik kelapa sawit dinilai layak secara finansial sekaligus mampu meningkatkan keandalan operasional dan mengurangi emisi karbon. Temuan tersebut berasal dari penelitian Muharpi dan Doni Satria dari Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Padang. Kajian ini mengevaluasi investasi listrik PLN dalam horizon 10 tahun dengan mempertimbangkan aspek keuangan, operasional, lingkungan, serta ketahanan investasi terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Industri kelapa sawit membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk menjalankan mesin pengolahan, sistem utilitas, penerangan, dan fasilitas pendukung. Pada kondisi normal, banyak pabrik kelapa sawit memanfaatkan turbin uap yang digerakkan oleh biomassa seperti serat dan cangkang inti sawit. Namun, turbin tidak selalu dapat menyediakan listrik secara terus-menerus, terutama ketika boiler mulai beroperasi, turbin menjalani perawatan, terjadi gangguan peralatan, tekanan uap tidak mencukupi, atau kegiatan pengolahan dihentikan sementara.

Dalam kondisi tersebut, generator diesel biasanya digunakan sebagai sumber listrik cadangan. Penggunaan generator memang membantu menjaga kontinuitas operasi, tetapi membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar, meningkatkan biaya operasional dan pemeliharaan, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca. Kondisi tersebut mendorong munculnya kebutuhan terhadap alternatif pasokan listrik yang lebih efisien dan dapat diandalkan.

Muharpi dan Satria kemudian mengevaluasi kemungkinan penggunaan listrik PLN untuk mengurangi ketergantungan terhadap generator diesel. Namun, pemasangan jaringan PLN membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit, antara lain untuk gardu listrik, sistem distribusi, peralatan proteksi, dan instalasi jaringan. Karena itu, keputusan investasi perlu didasarkan pada perhitungan yang memperhitungkan keuntungan ekonomi sekaligus risiko perubahan kondisi di masa mendatang.

Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan terhadap sistem kelistrikan dan karakteristik operasional pabrik, analisis dokumen perusahaan, serta kajian literatur. Data historis yang digunakan mencakup biaya operasional generator diesel, konsumsi listrik, biaya investasi pemasangan PLN, jam operasi, dan data teknis lain yang diperlukan untuk menyusun arus kas proyek.

Kelayakan investasi kemudian dihitung menggunakan enam indikator penganggaran modal, yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), Return on Investment (ROI), Payback Period (PP), dan Discounted Payback Period (DPP). Peneliti juga melakukan analisis sensitivitas untuk melihat apakah investasi tetap layak ketika terjadi perubahan tarif listrik PLN, harga bahan bakar diesel, tingkat diskonto, dan tingkat keandalan pasokan listrik PLN.

Hasil perhitungan menunjukkan kinerja investasi yang sangat positif. Dalam skenario dasar, pemasangan listrik PLN menghasilkan NPV sebesar Rp15,784 miliar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh selama masa investasi lebih besar daripada biaya investasi awal.

IRR mencapai 180 persen, jauh di atas tingkat diskonto yang digunakan sebesar 10 persen. Profitability Index mencapai 16,36, sementara ROI mencapai 2.796 persen. Dari sisi pengembalian modal, Payback Period hanya sekitar 0,59 tahun, sedangkan Discounted Payback Period sekitar 0,65 tahun. Seluruh indikator tersebut memenuhi kriteria kelayakan investasi yang digunakan dalam penelitian.

Selain menghasilkan keuntungan finansial, penggunaan listrik PLN juga memberikan dampak operasional. Berkurangnya penggunaan generator diesel dapat menurunkan konsumsi bahan bakar dan biaya pemeliharaan. Pasokan listrik menjadi lebih andal ketika turbin uap tidak dapat beroperasi secara optimal, sehingga potensi gangguan kegiatan produksi dapat ditekan. Listrik PLN juga dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan energi pabrik, bukan sekadar sumber listrik alternatif.

Dampak lingkungan juga menjadi bagian penting dari kajian. Penurunan penggunaan generator diesel diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 548.430,83 kilogram per tahun. Dengan demikian, investasi tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi operasional pabrik, tetapi juga mendukung penggunaan energi yang lebih bersih dan pengurangan emisi.

Peneliti juga menguji ketahanan investasi melalui beberapa skenario. Analisis mempertimbangkan kondisi optimistis, moderat, dan pesimistis dengan perubahan tarif listrik PLN, harga diesel, tingkat diskonto, serta keandalan pasokan PLN. Hasilnya menunjukkan bahwa investasi tetap layak dalam seluruh skenario yang diuji.

Tarif listrik PLN menjadi faktor yang paling sensitif terhadap perubahan nilai proyek. Perbedaan antara skenario optimistis dan pesimistis menghasilkan variasi NPV sekitar Rp4,04 miliar. Tingkat diskonto menjadi faktor paling berpengaruh berikutnya, disusul keandalan pasokan PLN, sedangkan harga bahan bakar diesel memberikan pengaruh paling kecil terhadap kinerja investasi. Meskipun berbagai asumsi berubah, seluruh skenario tetap menghasilkan indikator yang memenuhi kriteria kelayakan.

Temuan tersebut memberikan implikasi bagi pengelola pabrik kelapa sawit yang sedang mempertimbangkan investasi infrastruktur energi. Pemasangan listrik PLN dapat dipertimbangkan sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi biaya generator diesel, meningkatkan kontinuitas pasokan listrik, serta mendukung efisiensi energi. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pabrik, termasuk kapasitas produksi, kondisi jaringan listrik, kebutuhan energi, dan struktur biaya operasional.

Muharpi dan Satria menilai pendekatan penelitian ini memberikan gambaran yang lebih luas dibandingkan evaluasi investasi yang hanya menggunakan indikator keuangan. Dengan menggabungkan kinerja operasional, manfaat lingkungan, analisis finansial, dan analisis sensitivitas, keputusan investasi dapat dibuat dengan mempertimbangkan manfaat sekaligus risiko yang mungkin muncul selama proyek berlangsung.

Para peneliti merekomendasikan agar kajian berikutnya dilakukan pada lebih banyak pabrik kelapa sawit dengan kapasitas produksi dan karakteristik operasional yang berbeda. Perbandingan dengan sumber energi alternatif seperti biogas, tenaga surya fotovoltaik, atau sistem energi hibrida juga dinilai penting untuk memperluas pilihan strategi energi berkelanjutan di industri kelapa sawit.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemasangan listrik PLN pada pabrik kelapa sawit memiliki prospek ekonomi yang kuat. Investasi tersebut dinilai layak secara finansial, membantu mengurangi ketergantungan pada generator diesel, meningkatkan keandalan pasokan listrik, menekan biaya operasional, dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi CO₂.

Penulis:
Muharpi
Universitas Negeri Padang

Doni Satria
Universitas Negeri Padang.

Sumber Penelitian:
Financial Feasibility Analysis of PLN Electricity Investment in the Palm Oil Industry
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 8, 2026, halaman 3177–3194.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.285

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar