Penerapan teknologi digital terbukti bukan sekadar masalah membeli alat atau memiliki platform internet, melainkan membutuhkan kemampuan internal untuk menciptakan inovasi dan pola pikir kewirausahaan yang adaptif. Temuan ini diungkapkan oleh tim peneliti Universitas Negeri Makassar, yaitu Siti Nardiyah Muhrami, Dwiyanti, dan Nurul Haeriyah Ridwan, dalam riset terbarunya yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Penelitian ini berfokus pada dinamika Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di negara-negara berkembang (emerging economies), yang kerap menghadapi krisis efisiensi dan daya saing meski telah melakukan investasi pada perangkat digital. Urgensi riset ini sangat tinggi karena banyak program digitalisasi UMKM yang digalakkan pemerintah sering kali gagal memberikan dampak finansial yang terukur apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas organisasi internal.
Fenomena ketimpangan hasil digitalisasi pada sektor UMKM menjadi latar
belakang utama studi ini. Di berbagai negara berkembang, UMKM memainkan peran
vital sebagai tulang punggung perekonomian dengan menyerap tenaga kerja dan
menyumbang PDB dalam jumlah besar. Namun, keterbatasan sumber daya, kurangnya
literasi teknologi, serta dinamika pasar yang fluktuatif membuat UMKM rentan
terhadap kegagalan. Meskipun pandemi COVID-19 dan percepatan era kecerdasan
buatan (AI) telah memaksa bisnis beradopsi secara cepat, memadukan teknologi ke
dalam operasional harian ternyata membutuhkan strategi yang lebih kompleks
daripada sekadar adopsi aplikasi.
Guna memahami fenomena ini secara komprehensif, para peneliti mengadopsi
pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR).
Penelitian menyeleksi dan menganalisis secara sistematis 35 artikel ilmiah
bereputasi internasional yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 dari
basis data Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Analisis dilakukan
menggunakan pendekatan tematik yang mengintegrasikan tiga kerangka teori bisnis
utama: Resource-Based View (RBV), Dynamic Capabilities Theory
(DCT), dan Technology-Organization-Environment (TOE).
Hasil kajian mengungkapkan bahwa integrasi antar-kapabilitas jauh lebih
berpengaruh terhadap kinerja bisnis dibandingkan dengan adopsi teknologi secara
berdiri sendiri. Temuan-temuan kunci dalam penelitian ini meliputi:
- Kapabilitas
Digital Sebagai Fondasi:
Penguasaan infrastruktur TI, pemasaran digital, dan pemanfaatan data
memberikan dasar yang kuat bagi operasional usaha. Namun, adopsi teknologi
ini tidak secara langsung meningkatkan kinerja keuangan jika tidak
ditransformasikan menjadi nilai tambah lain.
- Peran
Mediasi Kapabilitas Inovasi: Kapabilitas inovasi terbukti menjadi jembatan krusial (mediator).
Perusahaan yang mampu mengubah data dan alat digital menjadi produk baru,
efisiensi proses, atau model bisnis baru dapat mencatatkan peningkatan
kinerja yang signifikan dan berkelanjutan.
- Orientasi
Kewirausahaan Sebagai Akselerator: Sikap proaktif, keberanian mengambil risiko terukur, dan
keberanian berinovasi (entrepreneurial orientation) bertindak
sebagai pemacu yang memperkuat efektivitas kapabilitas digital dan
inovasi.
- Hambatan
Kontekstual di Negara Berkembang: Keberhasilan transformasi digital masih kerap terhalang oleh
jurang kompetensi SDM, minimnya infrastruktur teknologi daerah,
keterbatasan modal, serta budaya organisasi yang resisten terhadap
perubahan.
Implikasi dari temuan ini sangat luas, khususnya bagi pengambil
kebijakan publik, pelaku usaha, dan lembaga pendamping UMKM. Bagi dunia usaha,
penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada perangkat lunak atau media
sosial tidak akan membuahkan hasil optimal tanpa adanya pelatihan inovasi
produk dan pengembangan budaya kerja yang adptif. Bagi pemerintah dan pembuat
kebijakan, bantuan untuk UMKM sebaiknya tidak berhenti pada pembagian subsidi
teknologi atau aplikasi gratis, melainkan berfokus pada pelatihan manajemen
inovasi, analisis data, serta penguatan ekosistem kewirausahaan secara
menyeluruh.
Sebagaimana ditekankan oleh para peneliti dalam laporannya,
keberlanjutan UMKM di era digital bergantung pada bagaimana organisasi mampu
menyinergikan seluruh potensinya. "Kinerja UMKM yang berkelanjutan
bergantung pada integrasi strategis dari kapabilitas organisasi, bukan sekadar
adopsi teknologi semata," papar Siti Nardiyah Muhrami dan timnya dari
Universitas Negeri Makassar.
Profil Penulis
Siti Nardiyah Muhrami, S.E., M.Si., meruapakan akademisi dan peneliti di
Universitas Negeri Makassar. Beliau memiliki keahlian di bidang manajemen
bisnis, strategi digitalisasi UMKM, serta perilaku kewirausahaan di negara
berkembang. Dalam riset ini, beliau berkolaborasi dengan Dwiyanti dan Nurul
Haeriyah Ridwan yang juga merupakan peneliti dari lingkungan akademis
Universitas Negeri Makassar.
Sumber Penelitian
- Judul
Artikel: Digital
Capability, Innovation Capability, and Entrepreneurial Orientation Shaping
Business Performance of MSMEs in Emerging Economies
- Jurnal: International Journal of Advanced
Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4, No. 7, Tahun 2026,
Halaman 759–778
- Penulis: Siti Nardiyah Muhrami, Dwiyanti, Nurul
Haeriyah Ridwan (Universitas Negeri Makassar)
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.287
- https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar