Hedonisme dalam Drama Fashion Karya Anna Cora Mowatt Mencerminkan Kemewahan, Status Sosial, dan Pencarian Kesenanga


MEDAN — Sebuah penelitian yang dilakukan Astri Rahayu, Geovani Mustika Salsabillah, Anggina Febrianti Pohan, Dion Samurai Dachi, dan Syamsul Bahri dari Universitas Negeri Medan mengkaji bagaimana perilaku hedonisme digambarkan dalam Fashion, drama komedi sosial karya penulis Amerika Anna Cora Mowatt yang terbit pada 1845. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) pada 2026 tersebut menemukan bahwa hedonisme dalam drama ditampilkan melalui kemewahan, hiburan, kepemilikan materi, prestise sosial, dan pencarian kebahagiaan pribadi.

Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa karya sastra dari abad ke-19 masih dapat menggambarkan perilaku sosial yang berkaitan dengan kesenangan, status, konsumsi, dan tekanan untuk mempertahankan citra kehidupan yang mewah. Hedonisme dalam drama tersebut tidak hanya dipahami sebagai perilaku menghamburkan uang, tetapi juga sebagai berbagai cara tokoh mengejar kesenangan yang memengaruhi keputusan, hubungan sosial, kehidupan emosional, dan interaksi mereka dengan lingkungan sekitar.

Fashion dan Tekanan Sosial untuk Terlihat Kaya

Drama Fashion berfokus pada keluarga Tiffany dan keinginan mereka untuk diterima dalam lingkungan masyarakat kelas atas yang mengutamakan gaya hidup dan status sosial. Kekayaan, penampilan elegan, barang-barang mahal, pesta, dan pengakuan sosial menjadi simbol penting dalam kehidupan para tokohnya.

Penelitian tersebut menempatkan Mrs. Tiffany sebagai tokoh yang paling kuat menunjukkan gaya hidup hedonis. Ia digambarkan bersedia mengeluarkan banyak uang untuk kemewahan dan penampilan karena meyakini bahwa penghormatan sosial bergantung pada kemampuan seseorang untuk terlihat kaya dan elegan.

Para peneliti menafsirkan perilaku tersebut sebagai bentuk hedonisme karena kesenangan dan pengakuan sosial lebih diutamakan daripada tanggung jawab keuangan serta pertimbangan terhadap konsekuensi jangka panjang.

Untuk menganalisis perilaku tersebut, para peneliti menggunakan kerangka enam jenis hedonisme yang dikembangkan oleh Dan Weijers. Kerangka tersebut membedakan berbagai cara manusia mengejar kesenangan, mulai dari kenikmatan pribadi hingga kesenangan yang dirasakan bersama orang lain.

Enam Bentuk Hedonisme dalam Drama

Para peneliti menganalisis dialog, percakapan, dan tindakan para tokoh dalam Fashion. Sebanyak 30 temuan perilaku hedonistik kemudian diklasifikasikan ke dalam enam kategori.

Hasilnya menunjukkan:

  • Folk Hedonism — 27 persen (8 temuan): bentuk hedonisme yang mengejar kesenangan langsung, kemewahan, kekaguman, dan pengakuan sosial tanpa mempertimbangkan konsekuensi masa depan secara serius.
  • Egoist Hedonism — 20 persen (6 temuan): perilaku yang menempatkan kebahagiaan dan kepuasan pribadi di atas kepentingan atau kesejahteraan orang lain.
  • Value atau Prudential Hedonism — 17 persen (5 temuan): pandangan bahwa kesenangan, kenyamanan, hiburan, dan kemewahan merupakan bagian penting dari kehidupan yang memuaskan.
  • Motivational Hedonism — 13 persen (4 temuan): pencarian kesenangan sebagai cara menghindari stres, kesedihan, kekecewaan, atau tekanan emosional.
  • Utilitarian Hedonism — 13 persen (4 temuan): kesenangan yang dianggap bernilai karena dapat menciptakan kebahagiaan bagi kelompok atau masyarakat.
  • Normative Hedonism — 10 persen (3 temuan): pandangan bahwa kesenangan dan kemewahan dapat diterima selama tetap diimbangi moralitas, martabat, tanggung jawab, dan norma sosial.

Dominasi Folk Hedonism menjadi salah satu temuan utama. Menurut para peneliti, Mrs. Tiffany berulang kali menempatkan kemewahan, penampilan fashionable, dan kekaguman sosial di atas kebutuhan praktis serta kestabilan keuangan. Perabot mahal, pakaian, dekorasi, dan acara sosial menjadi simbol kekayaan sekaligus status sosial.

Kesenangan Tidak Selalu Digambarkan Secara Negatif

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa Fashion tidak menggambarkan semua bentuk kesenangan sebagai sesuatu yang buruk. Para peneliti menemukan sisi positif dan negatif dari perilaku hedonistik.

Motivational Hedonism, misalnya, muncul ketika Mrs. Tiffany menggunakan pesta dan hiburan untuk sementara melupakan tekanan dan kekecewaan. Aktivitas tersebut memang tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya, tetapi memberikan kelegaan emosional sementara.

Sementara itu, Utilitarian Hedonism terlihat ketika kegiatan sosial menghasilkan kesenangan bagi banyak orang. Musik, makanan, perayaan, dan hiburan digambarkan mampu menciptakan kebahagiaan bersama serta memperkuat hubungan sosial. Dalam konteks ini, kesenangan menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya dinikmati oleh satu orang, tetapi juga memberikan manfaat emosional bagi kelompok.

Normative Hedonism memberikan perspektif yang berbeda. Sejumlah tokoh menyadari bahwa kekayaan dan kesenangan dapat diterima apabila tetap disertai tanggung jawab, martabat, pengendalian diri, dan perilaku yang sesuai dengan norma sosial. Dengan demikian, drama tersebut tidak sepenuhnya menganggap kemewahan sebagai sesuatu yang salah, tetapi mempertanyakan apa yang terjadi ketika pencarian kesenangan melewati batas yang wajar.

Ketika Kemewahan Berubah Menjadi Kepentingan Diri

Kritik yang lebih kuat terlihat dalam pembahasan mengenai Egoist Hedonism. Pengejaran kemewahan dan prestise sosial oleh Mrs. Tiffany terkadang berdampak pada orang-orang di sekitarnya.

Peneliti menunjukkan situasi ketika pengeluaran keluarga meningkat akibat gaya hidup mewah dan para pelayan kelelahan karena harus melayani berbagai acara sosial yang sering diadakan. Sikap Mrs. Tiffany yang lebih mengutamakan kebahagiaan dan reputasinya sendiri menunjukkan bagaimana pencarian kesenangan dapat terlepas dari empati dan tanggung jawab bersama.

Temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai hedonisme dalam drama. Hedonisme bukan sekadar persoalan membeli barang mahal. Perilaku tersebut juga dapat memengaruhi hubungan sosial, keputusan keuangan, harapan masyarakat, serta sikap seseorang terhadap orang lain.

Relevansi untuk Memahami Budaya Konsumsi

Para peneliti menyimpulkan bahwa Fashion berfungsi sebagai bentuk kritik sosial. Meskipun drama tersebut ditulis pada 1845, gambaran mengenai konsumsi yang berorientasi pada status dan keinginan untuk terlihat kaya memberikan perspektif sastra mengenai persoalan yang lebih luas terkait perilaku konsumsi dan pencarian pengakuan sosial.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pencarian kesenangan dapat menghasilkan kebahagiaan sementara dan penerimaan sosial, tetapi juga dapat mendorong konsumsi berlebihan, sikap egois, ketidakbertanggungjawaban, dan tekanan sosial. Di sisi lain, kesenangan dapat memberikan kenyamanan emosional, memperkuat hubungan sosial, serta menciptakan kebahagiaan bersama apabila dilakukan secara bertanggung jawab.

Bagi kajian sastra, penelitian ini menunjukkan bahwa drama klasik dapat dipahami bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai gambaran mengenai nilai-nilai sosial dan perilaku manusia. Para penulis secara khusus menunjukkan enam bentuk hedonisme sebagai ekspresi berbeda mengenai bagaimana para tokoh memahami kebahagiaan, kemewahan, tanggung jawab, dan status sosial.

Profil Penulis

Artikel ini ditulis oleh Astri Rahayu, Geovani Mustika Salsabillah, Anggina Febrianti Pohan, Dion Samurai Dachi, dan Syamsul Bahri, yang seluruhnya berafiliasi dengan Universitas Negeri Medan. Dion Samurai Dachi tercatat sebagai corresponding author dalam artikel tersebut. Sumber jurnal yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber pendukung.

Artikel diterima pada 5 Mei 2026, direvisi pada 20 Juni 2026, dan diterima untuk publikasi pada 25 Juli 2026. Artikel tidak mencantumkan tanggal pelaksanaan penelitian atau pengumpulan data secara spesifik.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Hedonism in Anna Cora Mowatt’s Drama Fashion
Penulis: Astri Rahayu, Geovani Mustika Salsabillah, Anggina Febrianti Pohan, Dion Samurai Dachi, Syamsul Bahri
Afiliasi: Universitas Negeri Medan
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Volume/Issue: Vol. 4, No. 7, 2026, halaman 827–848
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.242

https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

 


Posting Komentar

0 Komentar