Hampir Separuh Pekerja Perempuan di Jakarta Alami Insomnia, Studi Soroti Peran Gejala Pramenstruasi


Ilustrasi by AI 

Hampir separuh perempuan pekerja di Jakarta mengalami insomnia. Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan Felia Endah Sari dan Joice Viladelvia Kalumpiu dari Universitas Trisakti menggunakan data yang dikumpulkan pada September–Oktober 2018 dan dipublikasikan pada tahun 2026. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun hubungan antara tingkat keparahan sindrom pramenstruasi (Premenstrual Syndrome/PMS) dan insomnia belum terbukti signifikan secara statistik, perempuan dengan PMS berat memiliki kecenderungan risiko insomnia yang jauh lebih tinggi. Hasil ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan deteksi dini gangguan tidur pada perempuan usia produktif.

Gangguan tidur merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami orang dewasa di seluruh dunia. Dampaknya tidak hanya menyebabkan rasa lelah, tetapi juga menurunkan konsentrasi, produktivitas kerja, daya tahan tubuh, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Pada perempuan, risiko insomnia diketahui lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena adanya perubahan hormon yang terjadi sepanjang siklus menstruasi. Salah satu kondisi yang banyak dikaitkan dengan gangguan tidur adalah sindrom pramenstruasi atau PMS.
Selama ini berbagai penelitian internasional telah menjelaskan bahwa perubahan kadar hormon estrogen, progesteron, serotonin, dan allopregnanolone dapat memengaruhi kualitas tidur perempuan menjelang menstruasi. Namun, bukti mengenai hubungan tersebut pada perempuan pekerja di Indonesia masih sangat terbatas. Karena itulah tim peneliti dari Universitas Trisakti melakukan kajian terhadap pekerja perempuan di sektor jasa keuangan di Jakarta untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi tersebut.

Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 62 karyawan perempuan dari dua perusahaan sektor keuangan di Jakarta dilibatkan sebagai responden. Seluruh peserta berusia 18–45 tahun, memiliki siklus menstruasi teratur, dan memenuhi berbagai kriteria kesehatan yang telah ditetapkan peneliti. Responden kemudian mengisi kuesioner mengenai karakteristik diri, tingkat keparahan PMS, serta Insomnia Severity Index (ISI) yang digunakan secara luas untuk mengukur tingkat insomnia. Data selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik Fisher Exact.

Hasil penelitian memperlihatkan beberapa temuan penting.

  • 85,5% responden merupakan perempuan usia 18–35 tahun.
  • Seluruh responden (100%) mengalami gejala PMS, dengan mayoritas berada pada kategori ringan hingga sedang.
  • 48,4% responden mengalami insomnia berdasarkan skor ISI.
  • Sebagian besar kasus insomnia tergolong ringan, sementara tidak ditemukan kasus insomnia berat.
  • Kelompok perempuan dengan PMS berat hingga sangat berat memiliki peluang mengalami insomnia hampir 5 kali lebih besar (OR 4,77) dibandingkan kelompok PMS ringan hingga sedang, meskipun hasil tersebut belum mencapai tingkat signifikansi statistik karena jumlah responden PMS berat sangat sedikit.

Menurut penulis, tidak ditemukannya hubungan yang signifikan bukan berarti hubungan tersebut tidak ada. Jumlah responden dengan PMS berat hanya lima orang sehingga kekuatan analisis menjadi terbatas. Nilai odds ratio sebesar 4,77 justru menunjukkan adanya kecenderungan klinis yang layak diteliti lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Joice Viladelvia Kalumpiu dan Felia Endah Sari menjelaskan bahwa tingginya angka insomnia pada perempuan pekerja kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor. Selain perubahan hormon selama siklus menstruasi, tekanan pekerjaan, tuntutan profesional, serta tanggung jawab rumah tangga dapat memperburuk kualitas tidur perempuan usia produktif. Kondisi tersebut menjadikan pekerja perempuan sebagai kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam program kesehatan kerja.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa usia tidak berhubungan dengan kejadian insomnia pada kelompok responden berusia 18–45 tahun. Peneliti menilai bahwa pada rentang usia produktif, faktor psikologis dan beban pekerjaan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kualitas tidur dibandingkan pertambahan usia itu sendiri.

Dari sisi praktis, hasil penelitian memberikan pesan penting bagi dunia kerja. Hampir satu dari dua pekerja perempuan mengalami gangguan tidur, sehingga perusahaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga mulai memasukkan skrining kualitas tidur dan gejala PMS ke dalam program kesehatan karyawan. Langkah sederhana seperti edukasi mengenai kesehatan reproduksi, konseling psikologis, manajemen stres, serta deteksi dini insomnia dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kualitas hidup pekerja perempuan.

Peneliti juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk penelitian berikutnya. Studi mendatang disarankan menggunakan desain longitudinal sehingga perubahan gejala PMS dan pola tidur dapat diamati dalam beberapa siklus menstruasi. Selain itu, jumlah responden dengan PMS berat perlu diperbanyak, faktor stres, kecemasan, dan depresi perlu dikendalikan, serta pengukuran kualitas tidur sebaiknya dilengkapi dengan alat objektif seperti actigraphy atau polisomnografi. Dengan pendekatan tersebut, hubungan biologis antara PMS dan insomnia dapat dipahami secara lebih akurat.

Profil Penulis

Felia Endah Sari merupakan peneliti dari Universitas Trisakti yang berfokus pada kajian kesehatan perempuan dan kesehatan masyarakat.

Joice Viladelvia Kalumpiu merupakan akademisi dan penulis korespondensi dari Universitas Trisakti dengan bidang keahlian di bidang kesehatan dan penelitian klinis.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Premenstrual Syndrome Severity and Insomnia Risk in Indonesia Working Women: A Cross-Sectional Analysis.
Penulis: Felia Endah Sari dan Joice Viladelvia Kalumpiu.
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Vol. 6 No. 8, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i8.111.
URL : https://journalmudima.my.id/index.php/mudima

Posting Komentar

0 Komentar