Sektor Energi Menghadapi Tantangan Keuangan dan Lingkungan
Sektor energi memiliki posisi strategis dalam perekonomian Indonesia karena mencakup subsektor seperti minyak dan gas, batu bara, listrik, energi terbarukan, jasa pendukung energi, serta transportasi energi. Namun, sektor ini juga menghadapi tekanan lingkungan yang besar akibat kegiatan eksplorasi, produksi, distribusi, dan penggunaan bahan bakar fosil.
Aktivitas tersebut dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca, limbah cair dan padat, hingga kerusakan lahan. Di sisi lain, kinerja perusahaan energi sangat dipengaruhi perubahan harga komoditas global dan kondisi ekonomi dunia.
Dalam penelitian Rahman dan Pandaya, kontribusi sektor energi terhadap produk domestik bruto Indonesia juga menunjukkan perubahan yang cukup besar selama periode pengamatan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kinerja perusahaan energi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan internal perusahaan, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti siklus harga komoditas energi.
Situasi tersebut membuat praktik keberlanjutan semakin penting. Perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga menunjukkan bagaimana biaya dan dampak lingkungan dikelola secara transparan.
Akuntansi Hijau Dikaitkan dengan Kinerja Keuangan
Akuntansi hijau atau green accounting merupakan pendekatan yang memasukkan informasi mengenai aktivitas dan biaya lingkungan ke dalam sistem pelaporan perusahaan. Dalam penelitian ini, penerapannya diukur berdasarkan indeks pengungkapan lingkungan GRI 300.
Sementara itu, kinerja lingkungan diukur menggunakan peringkat PROPER yang diberikan melalui program penilaian kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Peringkat tersebut terdiri atas lima kategori, yakni Gold, Green, Blue, Red, dan Black.
Untuk mengukur kinerja keuangan, peneliti menggunakan Return on Assets atau ROA. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan memanfaatkan keseluruhan aset yang dimiliki.
40 Perusahaan dan 240 Pengamatan Dianalisis
Penelitian menggunakan data sekunder yang berasal dari laporan tahunan, laporan keuangan yang telah diaudit, dan laporan keberlanjutan perusahaan. Dari 62 perusahaan sektor energi yang menjadi populasi, peneliti menyaring perusahaan berdasarkan kelengkapan data dan konsistensi pencatatan selama 2019–2024.
Setelah proses seleksi dan penyaringan data pencilan, diperoleh 40 perusahaan dengan 240 observasi perusahaan-tahun. Data kemudian dianalisis menggunakan regresi data panel dengan Random Effect Model melalui perangkat lunak EViews 13.
Hasil analisis memberikan tiga temuan utama:
Akuntansi hijau berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, dengan nilai probabilitas 0,0387.
Kinerja lingkungan yang diukur melalui PROPER tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan, dengan nilai probabilitas 0,9605.
Akuntansi hijau dan kinerja lingkungan secara bersama-sama tidak menunjukkan pengaruh signifikan pada tingkat 5 persen, dengan nilai probabilitas uji F sebesar 0,0888.
Model penelitian juga menghasilkan nilai R² sebesar 2,02 persen. Artinya, akuntansi hijau dan kinerja lingkungan hanya menjelaskan sebagian kecil variasi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian besar variasi lainnya dipengaruhi faktor di luar model, seperti ukuran perusahaan, struktur modal, leverage, tata kelola perusahaan, dan perubahan harga komoditas energi global.
Pengungkapan Lingkungan Memberikan Sinyal Positif
Temuan paling menonjol adalah pengaruh positif akuntansi hijau terhadap ROA. Koefisien regresinya sebesar 0,058639 dengan nilai probabilitas 0,0387.
Peneliti menjelaskan bahwa peningkatan pengungkapan informasi lingkungan berdasarkan GRI 300 berkaitan dengan peningkatan ROA. Bahkan, secara matematis, peningkatan indeks pengungkapan dari 0 hingga 1 dikaitkan dengan peningkatan ROA sekitar 5,86 poin persentase. Namun, angka tersebut perlu dibaca dalam konteks model penelitian yang memiliki daya jelas keseluruhan relatif rendah.
Bagi perusahaan energi, hasil tersebut menunjukkan bahwa akuntansi hijau sebaiknya tidak diperlakukan sekadar sebagai kewajiban administratif. Pengungkapan biaya dan aktivitas lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis dan proses pengambilan keputusan manajemen.
Rahman dan Pandaya menilai transparansi lingkungan dapat membantu memperkuat reputasi perusahaan dan kepercayaan investor. Dengan demikian, praktik keberlanjutan berpotensi memberikan nilai ekonomi apabila benar-benar terintegrasi dengan strategi perusahaan.
Kinerja Lingkungan Saja Belum Menjamin Keuntungan Finansial
Berbeda dengan akuntansi hijau, kinerja lingkungan yang diukur menggunakan PROPER tidak terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap ROA.
Peneliti menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan. Salah satunya adalah PROPER menggunakan lima kategori peringkat sehingga variasi kinerja lingkungan tidak sedetail indeks pengungkapan GRI 300. Selain itu, manfaat ekonomi dari peningkatan kinerja lingkungan dapat membutuhkan waktu lebih panjang untuk terlihat dalam kinerja keuangan tahunan.
Pada perusahaan energi, pengaruh harga komoditas juga dapat lebih dominan terhadap kinerja keuangan dibandingkan perubahan peringkat lingkungan. Karena itu, perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan kepatuhan lingkungan sebagai strategi untuk meningkatkan keuntungan. Kinerja lingkungan perlu dihubungkan dengan efisiensi operasional dan strategi keuangan yang konkret.
Keberlanjutan Perlu Dihubungkan dengan Strategi Bisnis
Ketika akuntansi hijau dan kinerja lingkungan diuji secara bersamaan, hasilnya belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pada tingkat 5 persen. Nilai probabilitas 0,0888 memang mendekati batas 10 persen, tetapi berdasarkan kriteria utama penelitian, hasil tersebut tetap dikategorikan tidak signifikan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik keberlanjutan belum otomatis menghasilkan keuntungan finansial. Peneliti menilai hubungan tersebut kemungkinan berjalan melalui mekanisme tidak langsung, misalnya efisiensi operasional atau profitabilitas.
Karena itu, perusahaan sektor energi disarankan mengintegrasikan akuntansi hijau dan kinerja lingkungan dalam satu strategi penciptaan nilai. Bagi investor, pengungkapan akuntansi hijau dapat menjadi salah satu sinyal tambahan dalam menilai prospek perusahaan, sementara peringkat PROPER sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya indikator keberlanjutan.
Profil Penulis
Julia Fatia Rahman — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Dalam artikel, Rahman tercatat sebagai penulis korespondensi dengan bidang kajian yang berkaitan dengan akuntansi hijau, kinerja lingkungan, dan kinerja keuangan perusahaan.
Pandaya — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta, turut menjadi penulis dalam kajian mengenai hubungan praktik lingkungan dan kinerja keuangan perusahaan sektor energi.
Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dicantumkan secara eksplisit dalam artikel sumber, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.
Sumber Penelitian
Judul: The Effect of Green Accounting and Environmental Performance on Financial Performance on the Indonesia Stock Exchange: A Case Study of the Energy Sector from 2019 to 2024
Penulis: Julia Fatia Rahman dan Pandaya
Afiliasi: Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta
Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI)
Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 733–754
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i4.34
Website jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi
0 Komentar