Ekspor Aceh Tumbuh 13,03 Persen, tetapi Kebocoran Logistik Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Illustration by Ai


Pertumbuhan ekspor Aceh mencapai 13,03 persen secara tahunan hingga awal 2025, dengan nilai ekspor mencapai US$162,1 juta. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi pertumbuhan ekonomi daerah karena sebagian komoditas masih dikirim melalui pelabuhan di luar Aceh dan belanja pemerintah belum selalu menghasilkan dampak produktif secara cepat. Temuan ini berasal dari penelitian Sepni Yanti, Muh. Halilintar, dan Syaiful dari University of Borobudur, yang diterbitkan pada 2026. Studi tersebut menilai bagaimana ekspor dan belanja pemerintah berperan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh di tengah berakhirnya era dana otonomi khusus.

Ekspor Aceh Memiliki Potensi Besar

Aceh memiliki sumber daya alam dan posisi geografis yang memberi peluang besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis perdagangan. Komoditas ekspor daerah tersebut mencakup batu bara, kopi, minyak sawit, dan pinang.

Pada awal 2025, nilai ekspor Aceh mencapai US$162,1 juta, naik 13,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Batu bara menjadi komoditas terbesar dengan kontribusi sekitar 61,50 persen, disusul kopi sebesar 23,29 persen, sementara minyak sawit dan pinang juga memberikan kontribusi penting.

Secara ekonomi, peningkatan ekspor seharusnya dapat memperluas pasar bagi produk lokal, meningkatkan produksi, menciptakan lapangan kerja, dan menambah pendapatan daerah. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada seberapa besar nilai ekonomi dari aktivitas ekspor yang tetap berada di Aceh.

Di sinilah persoalan logistik menjadi penting.

Hingga 30 Persen Komoditas Dikirim Lewat Pelabuhan Luar Aceh

Penelitian menemukan adanya kebocoran logistik, yaitu kondisi ketika komoditas dari Aceh dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi. Studi memperkirakan sekitar 23 hingga 30 persen komoditas daerah dikirim melalui pelabuhan eksternal.

Kondisi tersebut membuat sebagian aktivitas ekonomi yang seharusnya dapat meningkatkan nilai tambah di Aceh justru berlangsung di luar daerah.

Menurut peneliti, persoalan ini menjadi salah satu hambatan struktural yang membuat pertumbuhan ekspor belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh.

Sepni Yanti, Muh. Halilintar, dan Syaiful dari University of Borobudur menilai bahwa pembangunan infrastruktur pelabuhan dan jaringan logistik perlu menjadi prioritas agar Aceh dapat mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi dari komoditas yang dihasilkan daerah.

Belanja Pemerintah Belum Otomatis Mendorong Pertumbuhan

Selain ekspor, penelitian tersebut melihat peran belanja pemerintah sebagai instrumen penting dalam pembangunan ekonomi Aceh.

Aceh memiliki kerangka otonomi khusus yang memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah untuk mengelola pembangunan, infrastruktur, pengentasan kemiskinan, pendidikan, serta program sosial dan kesehatan. Kerangka tersebut antara lain diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh.

Dana pemerintah dapat memberikan dorongan ekonomi ketika diarahkan pada infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan sektor produktif. Investasi pada pelabuhan dan jaringan transportasi, misalnya, dapat menurunkan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan lokal.

Namun, besarnya anggaran tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas belanja pemerintah dipengaruhi oleh kualitas, waktu pelaksanaan, dan arah penggunaannya. Belanja yang terlambat terealisasi atau tidak diarahkan pada kegiatan produktif dapat memberikan dampak ekonomi yang terbatas.

Peneliti Menggunakan Wawancara dan Data Pemerintah

Untuk memperoleh gambaran mengenai persoalan tersebut, Yanti, Halilintar, dan Syaiful menggunakan pendekatan deskriptif-analitis kualitatif.

Data diperoleh dari dua sumber utama. Pertama, peneliti melakukan wawancara dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pejabat Bappeda Aceh, otoritas pelabuhan, dan pakar ekonomi daerah. Kedua, mereka menggunakan data sekunder dari laporan pemerintah, Badan Pusat Statistik Aceh, serta dokumen hukum yang berkaitan dengan pemerintahan Aceh.

Data kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi tema-tema utama, termasuk efektivitas dana otonomi khusus, hambatan logistik, prioritas belanja pemerintah, dan hubungan antara kebijakan fiskal dengan kinerja ekspor.

Peneliti juga membandingkan informasi dari berbagai sumber untuk memastikan temuan yang diperoleh konsisten dengan kondisi ekonomi Aceh.

Aceh Perlu Menahan Lebih Banyak Nilai Tambah di Dalam Daerah

Salah satu pesan utama penelitian adalah bahwa Aceh tidak cukup hanya meningkatkan volume ekspor. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa proses produksi, pengolahan, distribusi, dan aktivitas ekonomi terkait ekspor sebanyak mungkin berlangsung di dalam Aceh.

Ketergantungan pada komoditas mentah juga menjadi tantangan. Batu bara dan kopi memang memiliki nilai ekonomi besar, tetapi ketergantungan terhadap komoditas tertentu membuat daerah lebih rentan terhadap perubahan harga global.

Karena itu, pengembangan industri pengolahan menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Produk pertanian dan sumber daya alam yang diproses di Aceh berpotensi menghasilkan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan jika langsung dikirim sebagai komoditas mentah.

Langkah tersebut juga dapat membuka peluang bagi usaha lokal, meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, dan memperluas basis ekonomi daerah.

Infrastruktur Pelabuhan Menjadi Prioritas

Para peneliti merekomendasikan modernisasi infrastruktur pelabuhan lokal untuk mengurangi kebocoran logistik dan mempertahankan nilai ekspor di Aceh.

Selain itu, belanja pemerintah disarankan bergeser dari pengeluaran operasional umum menuju investasi modal yang memiliki dampak ekonomi tinggi, terutama pada infrastruktur dan sektor yang mendukung daya saing pertanian serta industri.

Pemerintah Aceh juga disarankan menerapkan penganggaran berbasis kinerja secara lebih ketat. Dengan pendekatan tersebut, setiap pengeluaran publik diharapkan memiliki hubungan yang lebih jelas dengan peningkatan produktivitas dan pertumbuhan PDRB.

Rekomendasi ini menjadi semakin penting ketika Aceh memasuki fase akhir penggunaan dana otonomi khusus. Penelitian menilai bahwa daerah perlu membangun sumber pertumbuhan yang lebih mandiri dan tidak hanya mengandalkan transfer fiskal.

Ekspor dan Belanja Pemerintah Harus Berjalan Bersama

Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa ekspor atau belanja pemerintah secara terpisah dapat menjadi solusi tunggal bagi pertumbuhan Aceh. Sebaliknya, keduanya perlu dihubungkan dengan infrastruktur, kualitas institusi, konektivitas pasar, investasi swasta, dan kemampuan industri lokal menciptakan nilai tambah.

Dengan kata lain, peningkatan ekspor akan lebih bermanfaat apabila didukung pelabuhan yang efisien. Sementara itu, belanja pemerintah akan lebih berdampak apabila diarahkan untuk membangun infrastruktur dan ekosistem usaha yang meningkatkan produktivitas.

Para peneliti menyimpulkan bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tetapi potensi tersebut masih tertahan oleh hambatan logistik dan ketidakefisienan pelaksanaan anggaran. Modernisasi infrastruktur dan perubahan strategi fiskal menjadi dua langkah utama yang mereka rekomendasikan.

Profil Penulis

Sepni Yanti — University of Borobudur. Penulis pertama sekaligus corresponding author artikel. Penelitian ini berkaitan dengan ekspor, kebijakan fiskal, dan pertumbuhan ekonomi regional.

Muh. Halilintar — University of Borobudur. Penulis kedua dalam kajian mengenai hubungan ekspor, belanja pemerintah, dan pertumbuhan ekonomi Aceh.

Syaiful — University of Borobudur. Penulis ketiga dalam penelitian mengenai kebijakan perdagangan dan fiskal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis, sehingga gelar tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi informasi.

Sumber Penelitian

Judul: The Role of Exports and Government Expenditure on Economic Growth in Aceh Province

Penulis: Sepni Yanti, Muh. Halilintar, Syaiful

Afiliasi: University of Borobudur

Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

Volume: 4, No. 7

Tahun: 2026

Halaman: 557–566

DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i7.232

URL jurnal: https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijir

 


Posting Komentar

0 Komentar