Penelitian ini berangkat dari persoalan kepuasan kerja guru yang belum sepenuhnya optimal. Salah satu indikator yang diperhatikan peneliti adalah tingkat ketidakhadiran guru PPPK di SMK XYZ selama Januari hingga Oktober 2025. Data administrasi sekolah menunjukkan persentase ketidakhadiran meningkat menjadi 5,5 persen pada Agustus dan September, kemudian 5,6 persen pada Oktober. Dalam kategori yang digunakan penelitian, angka tersebut termasuk tinggi.
Selain absensi, peneliti menemukan sejumlah persoalan pada kondisi fisik tempat kerja. Hasil wawancara dan observasi awal menunjukkan beberapa ruang kelas memiliki akses cahaya matahari yang terbatas sehingga terasa gelap. Sebagian ruangan juga belum memiliki fasilitas pendingin seperti AC atau kipas yang memadai, sehingga udara panas dapat mengganggu kegiatan belajar. Beberapa fasilitas yang kurang terawat juga menimbulkan persoalan bau dan kenyamanan.
Persoalan lain muncul dari beban tugas guru. Para guru PPPK tidak hanya menjalankan kegiatan mengajar, tetapi juga dapat memperoleh tugas tambahan sebagai wali kelas, operator sekolah, maupun pembimbing kegiatan ekstrakurikuler. Menurut hasil wawancara yang dicantumkan dalam artikel, sebagian guru merasa tugas tambahan tersebut cukup menyita waktu dan terkadang harus diselesaikan di rumah setelah jam kerja.
Melibatkan 54 guru PPPK
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan asosiatif dengan melibatkan seluruh 54 guru PPPK di SMK XYZ sebagai responden. Data diperoleh melalui survei, wawancara, dan dokumentasi. Kuesioner menggunakan skala diferensial semantik, kemudian data dianalisis menggunakan SPSS 27 melalui uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi.
Hasil pengukuran menunjukkan kondisi lingkungan kerja fisik secara umum berada dalam kategori baik. Pada tabel hasil penelitian di halaman 5, pencahayaan memperoleh skor rata-rata tertinggi, yakni 3,86 dan masuk kategori terang. Kenyamanan udara memperoleh skor 3,72, sedangkan aspek bau mendapat skor 3,57. Secara keseluruhan, lingkungan kerja fisik memperoleh nilai rata-rata 3,71 dan dikategorikan baik.
Sementara itu, beban kerja guru memperoleh nilai rata-rata 3,68 dan masuk kategori sesuai. Aspek target yang harus dicapai memperoleh skor 3,92, sedangkan waktu kerja mendapatkan skor 3,45. Perbedaan ini menunjukkan bahwa jenis dan jumlah target pekerjaan dinilai cukup sesuai, tetapi pengaturan waktu untuk menyelesaikan berbagai tugas masih menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Kepuasan kerja sendiri memperoleh skor rata-rata 4,01 dan masuk kategori puas. Aspek ukuran organisasi memperoleh skor tertinggi, 4,29, sedangkan tingkat absensi memperoleh skor 3,82. Peneliti mengaitkan tingginya kepuasan dengan kelancaran koordinasi dan partisipasi guru dalam kegiatan sekolah.
Beban kerja menunjukkan pengaruh positif
Temuan statistik memperlihatkan perbedaan penting antara kedua faktor yang diteliti. Lingkungan kerja fisik tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial terhadap kepuasan kerja guru. Nilai signifikansinya tercatat 0,095, lebih besar dari batas 0,05. Sebaliknya, beban kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan dengan nilai signifikansi 0,000 serta koefisien regresi 0,711.
Dalam model regresi penelitian, persamaannya adalah Y = 5,317 + 0,168X1 + 0,711X2, dengan X1 sebagai lingkungan kerja fisik dan X2 sebagai beban kerja. Penulis melaporkan koefisien 0,711 untuk beban kerja dan menjelaskan adanya pengaruh positif terhadap kepuasan kerja.
Temuan ini perlu dibaca sesuai konteks penelitian. Hasil penelitian tidak menyatakan bahwa semakin berat pekerjaan selalu membuat guru semakin puas. Sebaliknya, pembahasan artikel menjelaskan bahwa tugas tambahan yang masih sesuai dengan kompetensi guru dapat membuat mereka merasa dipercaya dan dihargai. Masalah muncul ketika beban tersebut tidak diimbangi waktu yang cukup dan dukungan organisasi.
Secara bersama-sama, lingkungan kerja fisik dan beban kerja terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Uji F menghasilkan nilai 64,531 dengan signifikansi 0,000. Koefisien determinasi atau R² mencapai 0,717, yang berarti kedua variabel dalam model menjelaskan 71,7 persen variasi kepuasan kerja guru PPPK dalam sampel penelitian tersebut.
Sekolah perlu memperbaiki pengaturan waktu kerja
Syifa Lutfiah Syaadah dan Dian Lestari menilai sekolah tetap perlu mempertahankan kondisi lingkungan kerja fisik yang sudah baik, sembari memperhatikan aspek yang nilainya lebih rendah, terutama pengelolaan bau, kebersihan, dan kenyamanan udara. Pada aspek beban kerja, perhatian lebih besar diperlukan pada waktu penyelesaian tugas. Peneliti merekomendasikan pelatihan peningkatan kompetensi guru, manajemen waktu, dan produktivitas.
Sekolah juga disarankan melakukan evaluasi berkala terhadap tingkat kehadiran guru untuk mengetahui penyebab ketidakhadiran dan menentukan langkah pembinaan yang sesuai. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada fasilitas, tetapi juga pada pembagian tugas, waktu kerja, koordinasi, dan komunikasi di lingkungan sekolah.
Bagi dunia pendidikan, penelitian ini memberikan gambaran bahwa kepuasan guru tidak cukup dijaga hanya dengan menyediakan ruang kerja yang nyaman. Pengaturan beban dan waktu kerja, pemberian tugas yang sesuai kompetensi, serta hubungan koordinasi yang baik juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung guru menjalankan tugasnya.
Profil Penulis
Syifa Lutfiah Syaadah — Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Bidang kajian dalam artikel ini mencakup lingkungan kerja fisik, beban kerja, dan kepuasan kerja guru PPPK.
Dian Lestari — Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis.
0 Komentar