Kajian tersebut berangkat dari perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang dahulu banyak dipahami sebagai proses penyampaian informasi dari guru kepada siswa kini berlangsung melalui berbagai lingkungan digital, seperti learning management system, kelas virtual, perangkat seluler, simulasi, dan aplikasi berbasis AI. Teknologi memberikan akses informasi yang lebih luas dan memungkinkan pembelajaran yang lebih personal. Namun, menurut para penulis, perubahan tersebut juga mengubah cara peserta didik berhubungan dengan pengetahuan, lingkungan, guru, dan sesama pembelajar.
Di sinilah pemikiran Maurice Merleau-Ponty menjadi penting. Filsuf tersebut memandang manusia bukan sebagai pikiran yang terpisah dari tubuh, melainkan sebagai individu yang mengalami dunia melalui tubuh, persepsi, tindakan, perasaan, dan interaksi dengan lingkungan. Dengan sudut pandang ini, belajar bukan sekadar menerima informasi dan mengingatnya. Belajar juga melibatkan pengalaman, perhatian, gerakan, interaksi sosial, serta kemampuan seseorang memberikan makna terhadap apa yang dialaminya.
Para penulis kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan perkembangan teknologi pendidikan. Menurut kerangka yang mereka kembangkan, teknologi bukan sekadar alat yang menyampaikan materi dari guru kepada siswa. Teknologi ikut membentuk cara siswa melihat, mengalami, berinteraksi, dan memahami dunia pembelajaran.
Sebagai contoh, kelas virtual, perangkat digital, simulasi, maupun antarmuka AI menawarkan cara tertentu bagi siswa untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. Teknologi dapat memperluas pengalaman yang sebelumnya sulit dilakukan secara langsung. Namun, pada saat yang sama, penggunaan teknologi tertentu juga dapat mengubah perhatian siswa dan mengurangi sebagian bentuk interaksi langsung atau pengalaman yang bersifat fisik dan sosial.
AI Memberikan Bantuan, tetapi Juga Membawa Risiko
Perhatian terbesar dalam kajian ini tertuju pada AI generatif. Berbeda dengan teknologi pendidikan yang terutama membantu mengakses atau menyampaikan informasi, AI generatif kini dapat menghasilkan penjelasan, rangkuman, argumen, umpan balik, bahkan berbagai bentuk konten yang menyerupai hasil pengetahuan manusia. Kondisi ini membuka peluang baru untuk pembelajaran yang lebih personal dan memberikan dukungan kognitif kepada siswa.
Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan risiko. Ketika siswa terlalu bergantung pada AI, tugas belajar dapat bergeser dari menghasilkan dan mengorganisasi pengetahuan menjadi sekadar menerima dan menilai hasil yang sudah dibuat oleh mesin.
Para penulis menekankan bahwa persoalannya bukan apakah siswa boleh menggunakan AI atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan.
AI dapat menjadi alat yang memperkuat pembelajaran ketika digunakan untuk memberikan alternatif penjelasan, memunculkan pertanyaan, membantu refleksi, dan memperluas eksplorasi. Sebaliknya, AI dapat menjadi masalah ketika siswa menyerahkan aktivitas inti pembelajaran kepada mesin, seperti mempertanyakan informasi, melakukan penalaran, menafsirkan, menyusun argumen, dan mengambil keputusan.
Kajian ini membedakan dua kondisi penting: AI sebagai augmentasi dan AI sebagai substitusi. Dalam kondisi pertama, AI membantu memperluas kemampuan manusia. Dalam kondisi kedua, AI mulai menggantikan tanggung jawab manusia dalam proses mengetahui dan menilai.
Jangan Sekadar Menyalin Jawaban AI
Para peneliti juga membahas fenomena cognitive offloading, yaitu penggunaan alat eksternal untuk membantu pekerjaan berpikir. Menurut kajian tersebut, tindakan ini sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Manusia telah lama menggunakan tulisan, diagram, kalkulator, peta, dan berbagai alat lainnya untuk memperluas kemampuan berpikir.
Masalah muncul ketika bantuan tersebut membuat manusia kehilangan tanggung jawab untuk memahami dan menilai informasi. Misalnya, seorang siswa menerima penjelasan AI tanpa mempertanyakan asumsi di baliknya, tidak memeriksa bukti yang digunakan, atau menggunakan kesimpulan AI yang sebenarnya tidak mampu ia pertanggungjawabkan sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan lagi sekadar berkurangnya usaha berpikir. Tanggung jawab untuk mengetahui dan membuat penilaian mulai berpindah dari manusia kepada mesin.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI di bidang pendidikan tidak cukup hanya berupa keterampilan teknis. Siswa juga perlu memahami bagaimana AI memengaruhi proses mereka dalam memperoleh, membangun, dan menilai pengetahuan.
Tiga Dimensi Utama Pembelajaran di Era AI
Dari sintesis berbagai literatur, Andreas, Samosir, dan Saragih mengembangkan kerangka pembelajaran yang menghubungkan tiga dimensi utama.
Pertama, embodied perception atau persepsi yang berakar pada pengalaman tubuh. Pembelajaran tetap berkaitan dengan bagaimana manusia mempersepsi, mengalami, bergerak, memperhatikan, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Kedua, technological mediation atau mediasi teknologi. Teknologi ikut membentuk bagaimana manusia berhubungan dengan pengetahuan dan dunia di sekitarnya.
Ketiga, human meaning-making atau pemaknaan manusia. Manusia tetap memiliki peran utama dalam menafsirkan pengalaman, mengevaluasi informasi, menghubungkan pengetahuan dengan konteks, dan membuat keputusan.
Ketiga unsur tersebut saling berhubungan. Karena itu, pembelajaran pada era AI tidak cukup dinilai berdasarkan seberapa cepat teknologi memberikan jawaban. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi membuat manusia semakin mampu memahami, bertanya, menilai, dan bertindak.
Peran Guru Justru Semakin Penting
Temuan konseptual ini juga memberikan perspektif baru terhadap peran guru. Ketika AI semakin mampu menghasilkan informasi dan memberikan penjelasan, guru tidak kehilangan relevansinya. Sebaliknya, peran guru dapat bergeser semakin kuat ke arah membangun dialog, pengalaman belajar, interpretasi, penilaian etis, dan kemampuan berpikir kritis.
Guru dapat membantu siswa agar tidak sekadar menerima jawaban yang dihasilkan teknologi, tetapi belajar mempertanyakan, mengontekstualisasikan, memeriksa, dan memberikan respons terhadap jawaban tersebut.
Implikasinya juga berlaku bagi lembaga pendidikan dan pengembang teknologi. Sistem AI untuk pendidikan sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan efisiensi, pencapaian akademik, atau personalisasi. Dampaknya terhadap perhatian, interaksi, pengalaman belajar, kemandirian, dan kemampuan siswa dalam mengambil keputusan juga perlu diperhatikan.
Para penulis menyarankan agar aktivitas pembelajaran berbasis AI tetap meminta siswa untuk bertanya, menafsirkan, mengevaluasi, dan merefleksikan hasil AI. Literasi AI juga perlu diperluas dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi menjadi kesadaran tentang bagaimana AI memengaruhi cara manusia mengetahui dan mengambil keputusan.
Kajian ini merupakan penelitian filosofis-konseptual berbasis interpretive literature review, bukan penelitian eksperimen dengan peserta didik. Karena itu, kerangka yang dihasilkan masih membutuhkan pengujian empiris pada berbagai tingkat pendidikan dan lingkungan teknologi. Para penulis merekomendasikan penelitian lanjutan untuk menguji apakah penggunaan AI dalam kondisi tertentu benar-benar memperkuat atau justru melemahkan berpikir kritis, kemandirian, dan keterlibatan bermakna dalam pembelajaran.
Profil Penulis
Otto Mart Andreas — Afiliasi: Universitas Pelita Harapan. Bidang kajian dalam artikel ini mencakup filsafat pendidikan, epistemologi pembelajaran, pembelajaran berbasis teknologi, dan AI dalam pendidikan. Gelar akademik tidak dicantumkan dalam artikel sumber.
Elisabet Marthawati Samosir — Afiliasi: Universitas Pelita Harapan. Kontribusi artikel berada dalam kajian konseptual mengenai pembelajaran, teknologi, dan AI. Gelar akademik tidak dicantumkan dalam artikel sumber.
Elfrida Saragih — Afiliasi: Universitas Pelita Harapan. Kontribusi artikel berada dalam kajian konseptual mengenai pembelajaran dan transformasi pendidikan di era digital dan AI. Gelar akademik tidak dicantumkan dalam artikel sumber.
0 Komentar