Menurut kedua peneliti, perubahan tren wisata global telah mendorong wisatawan mencari pengalaman yang lebih bermakna. Wisata tidak lagi hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pada pencarian ketenangan batin, keaslian budaya, pelestarian lingkungan, serta pengalaman spiritual yang autentik. Pergeseran tersebut membuka peluang bagi destinasi yang memiliki nilai religius dan budaya yang kuat, termasuk kawasan Ulun Danu Bratan di Bali.
Industri pariwisata sendiri masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa penerimaan devisa sektor pariwisata terus meningkat setelah pandemi dan diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Di Bali, sektor ini bahkan menyumbang lebih dari 23 persen terhadap perekonomian daerah sehingga inovasi dalam pengembangan destinasi menjadi kebutuhan strategis.
Ulun Danu Bratan dipilih sebagai fokus penelitian karena memiliki karakteristik yang unik. Kawasan ini berada di Desa Candikuning, Kabupaten Tabanan, dengan latar Danau Bratan yang sejuk dan menjadi lokasi salah satu dari sembilan Kahyangan Jagat di Bali. Selain dikenal sebagai ikon wisata, kawasan tersebut juga memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Hindu karena diyakini sebagai tempat pemujaan Dewi Sri, dewi kemakmuran dan kesuburan.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan analisis deskriptif berbasis kajian literatur. Berbagai hasil penelitian, konsep, dan teori mengenai wisata spiritual dihimpun, dievaluasi, kemudian disintesis secara sistematis untuk menggambarkan bagaimana pengembangan wisata spiritual dapat mendukung percepatan ekonomi regional. Pendekatan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai hubungan antara sektor pariwisata, budaya, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa wisata spiritual menawarkan sejumlah manfaat yang melampaui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Model pariwisata ini dinilai mampu:
- meningkatkan pendapatan daerah;
- menciptakan lapangan kerja baru;
- memperkuat pelestarian budaya lokal;
- menjaga keseimbangan lingkungan;
- meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Penelitian juga menegaskan bahwa wisata spiritual merupakan salah satu bentuk quality tourism, yaitu pariwisata berkualitas yang menghargai budaya lokal, lingkungan, dan pengalaman wisatawan secara mendalam.
Pengembangan kawasan Ulun Danu Bratan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur wisata. Peneliti menjelaskan bahwa berbagai fasilitas seperti area parkir, taman bunga, arena rekreasi, festival budaya, hingga penataan kawasan dilakukan dengan tujuan meningkatkan kenyamanan wisatawan. Namun, seluruh pengembangan tersebut harus tetap memperhatikan keseimbangan ekologi dan budaya agar tidak merusak lingkungan dan nilai-nilai sakral kawasan.
Penelitian juga mengingatkan bahwa aktivitas wisata yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, seperti erosi akibat aktivitas perahu, meningkatnya kekeruhan air danau, hingga terganggunya ekosistem perairan. Oleh karena itu, konsep Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan—dianggap sebagai fondasi penting dalam pengelolaan destinasi wisata spiritual di Bali.
Data kunjungan wisatawan memperlihatkan bahwa Ulun Danu Bratan mampu pulih setelah pandemi COVID-19. Jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara meningkat kembali sejak 2023 berkat berbagai inovasi pengelolaan destinasi yang dilakukan pemerintah daerah dan pengelola kawasan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa destinasi dengan karakter budaya dan spiritual yang kuat tetap memiliki daya tarik tinggi di tengah perubahan tren pariwisata global.
Salah satu temuan penting penelitian adalah besarnya peluang pengembangan empat bentuk wisata spiritual di kawasan Ulun Danu Bratan, yaitu:
- Wisata spiritual berbasis aktivitas fisik, seperti yoga dan aktivitas tradisional yang berkaitan dengan ritual keagamaan.
- Wisata spiritual berbasis kreativitas budaya, melalui tradisi lokal seperti Mapeed dan penyusunan pajeggan sebagai bagian dari persembahan adat.
- Wisata spiritual berbasis kegiatan religius, dengan memanfaatkan kompleks pura di sekitar Danau Bratan sebagai pusat aktivitas spiritual.
- Wisata spiritual berbasis upacara keagamaan, seperti Pujawali, Melasti, Galungan, Purnama, dan berbagai ritual Hindu lainnya yang dapat dikenalkan kepada wisatawan secara edukatif tanpa mengurangi kesakralannya.
Menurut Putu Krisna Adwitya Sanjaya dan I Putu Arya Dharmayasa, strategi pengembangan tersebut memberikan peluang besar bagi Kabupaten Tabanan untuk memperkuat posisi pariwisata sebagai sektor unggulan ekonomi daerah. Mereka menekankan bahwa wisata spiritual bukan sekadar berbicara mengenai agama, tetapi menghadirkan ruang bagi wisatawan untuk memperoleh ketenangan, harmoni, pengalaman budaya yang autentik, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Implikasi penelitian ini tidak hanya relevan bagi Bali, tetapi juga bagi berbagai daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan situs religius. Pendekatan wisata spiritual dapat menjadi alternatif pengembangan pariwisata yang tidak bergantung pada jumlah wisatawan semata, melainkan mengutamakan kualitas pengalaman, pelestarian warisan budaya, pemberdayaan masyarakat lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini memberikan dasar untuk menyusun kebijakan yang mengintegrasikan konservasi budaya, pelestarian lingkungan, dan pembangunan ekonomi. Sementara bagi pelaku industri pariwisata, penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman wisata yang autentik dan bermakna memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi di era pargeseran preferensi wisatawan global.
Profil Penulis
Putu Krisna Adwitya Sanjaya merupakan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana dengan bidang keahlian ekonomi pembangunan, pariwisata, pembangunan daerah, dan pengembangan wisata berkelanjutan.
I Putu Arya Dharmayasa adalah akademisi dari Fakultas Ekonomi, Universitas Pendidikan Ganesha yang memiliki fokus penelitian pada ekonomi regional, pembangunan pariwisata, serta strategi pengembangan destinasi berbasis masyarakat dan budaya.
Sumber Penelitian
Sanjaya, P. K. A., & Dharmayasa, I. P. A. (2026). Ulun Danu Bratan Spiritual Tourism Attraction: Scenario of Regional Economic Acceleration. International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, hlm. 709–720.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i7.20.
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar