Penelitian ini menjadi penting karena kawasan Danau Lut Tawar merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Provinsi Aceh yang terus mengalami peningkatan kunjungan wisatawan. Namun hingga kini akses menuju berbagai objek wisata di sekitar danau masih didominasi kendaraan pribadi. Belum tersedia angkutan wisata khusus yang mampu menghubungkan terminal, pusat kota, dan lokasi wisata secara terencana.
Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan terutama pada musim liburan. Aktivitas parkir di bahu jalan, meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, serta belum adanya sistem transportasi terpadu membuat perjalanan wisata menjadi kurang nyaman. Selain memperpanjang waktu tempuh, kondisi ini juga meningkatkan biaya operasional kendaraan dan emisi gas buang yang berdampak terhadap lingkungan.
Menurut Mareza Bagus Candra Pradana dan tim peneliti, pembangunan sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari sistem transportasi. Destinasi wisata yang menarik tetap membutuhkan aksesibilitas yang baik agar wisatawan dapat menjangkaunya dengan aman, nyaman, dan efisien. Oleh karena itu, penyediaan angkutan wisata yang ramah lingkungan menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Aceh Tengah.
Dalam penelitian ini, tim menggunakan pendekatan pemodelan transportasi berbasis perangkat lunak PTV Visum dan ArcGIS. Kedua aplikasi tersebut dimanfaatkan untuk menganalisis pola perjalanan wisatawan, memetakan jaringan jalan, serta menentukan rute yang paling efektif berdasarkan permintaan perjalanan. Selain itu, peneliti juga melakukan survei kepada wisatawan menggunakan metode Slovin untuk memperkirakan potensi jumlah pengguna angkutan wisata apabila layanan tersebut tersedia.
Hasil analisis menghasilkan dua alternatif jalur transportasi wisata menuju kawasan Pante Menye Danau Lut Tawar. Jalur pertama melewati wilayah Kebayakan, sedangkan jalur kedua melalui kawasan Lut Tawar. Setelah dilakukan simulasi beban lalu lintas menggunakan PTV Visum, rute melalui Kebayakan terbukti memiliki permintaan penumpang yang jauh lebih tinggi sehingga dinilai paling layak untuk dioperasikan.
Rute terpilih memiliki panjang sekitar 23 kilometer dan menghubungkan Terminal Tipe A Paya Ilang menuju kawasan wisata Pante Menye melalui Jalan Pengulu Gayo, Jalan Lebe Kader, Jalan Abdul Wahab, hingga Simpang Kebayakan–Bintang. Terminal Paya Ilang dipilih sebagai titik awal karena berfungsi sebagai pusat perpindahan penumpang dari angkutan antarkota maupun antardaerah menuju kawasan wisata.
Penelitian ini juga merekomendasikan penggunaan bus kecil berkapasitas 14 penumpang sebagai armada utama. Pilihan tersebut disesuaikan dengan kondisi jalan di sekitar Danau Lut Tawar yang relatif sempit, berkelok, dan berada di kawasan perbukitan. Kendaraan berukuran kecil dinilai lebih aman, fleksibel, dan mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan dibandingkan bus berukuran besar.
Berdasarkan hasil perhitungan operasional, layanan transportasi wisata disarankan beroperasi selama 10 jam setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kecepatan operasi dirancang sekitar 40 kilometer per jam, dengan waktu tempuh rata-rata 35 menit untuk satu kali perjalanan. Agar pelayanan tetap optimal, diperlukan empat unit bus dengan interval keberangkatan atau headway sekitar 18 menit.
Selain menentukan rute dan jumlah armada, penelitian juga menghitung biaya operasional kendaraan (Vehicle Operating Cost/VOC) untuk memastikan tarif angkutan tetap ekonomis sekaligus menguntungkan operator. Perhitungan dilakukan berdasarkan pedoman Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dengan mempertimbangkan biaya langsung maupun tidak langsung.
Hasil analisis menunjukkan biaya operasional kendaraan mencapai sekitar Rp8.855 per kilometer. Dengan asumsi tingkat keterisian penumpang sebesar 70 persen dan penambahan margin keuntungan 10 persen, tarif yang direkomendasikan sebesar Rp11.500 untuk satu kali perjalanan per penumpang. Besaran tarif tersebut dinilai masih kompetitif dan terjangkau bagi wisatawan domestik maupun masyarakat lokal.
Menurut para peneliti, kehadiran transportasi wisata tidak hanya mempermudah mobilitas pengunjung, tetapi juga berpotensi mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di kawasan wisata. Dampaknya adalah penurunan kemacetan, peningkatan keselamatan lalu lintas, serta pengurangan emisi kendaraan di sekitar Danau Lut Tawar yang dikenal sebagai kawasan wisata alam dengan nilai ekologis tinggi.
Sistem transportasi wisata yang terintegrasi juga diyakini mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Wisatawan akan lebih mudah mengakses berbagai destinasi di sekitar Danau Lut Tawar seperti Bur Telege, Pantan Terong, Pantai Pante Menye, Pantai Mendale, hingga berbagai objek wisata budaya dan sejarah di Aceh Tengah. Kemudahan mobilitas tersebut berpotensi meningkatkan lama tinggal wisatawan sehingga berdampak pada pertumbuhan pendapatan pelaku usaha lokal, mulai dari sektor kuliner, penginapan, transportasi, hingga usaha mikro masyarakat sekitar.
Mareza Bagus Candra Pradana dan tim juga menekankan bahwa pengembangan transportasi wisata sebaiknya diintegrasikan dengan Terminal Paya Ilang maupun Bandara Rembele sehingga wisatawan dapat berpindah moda transportasi dengan lebih mudah. Integrasi tersebut dinilai menjadi salah satu kunci pembangunan sistem transportasi wisata yang berkelanjutan di Aceh Tengah.
Profil Penulis
Mareza Bagus Candra Pradana - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dr. Hanie Teki Tjendani - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Prof. Bambang Trigunarsyah - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Sumber Penelitian
Pradana, M. B. C., Tjendani, H. T., & Trigunarsyah, B. (2026). Tourist Transportation Strategy for Pante Lake Lut Tawar in Central Aceh Region. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, hlm. 1359–1374. DOI: 10.55927/fjst.v5i6.93.
0 Komentar