Aceh — Cedera siku jenis terrible triad, yang selama ini hampir selalu ditangani dengan operasi, ternyata dalam kondisi tertentu bisa pulih dengan terapi konservatif tanpa pembedahan. Temuan ini dipublikasikan oleh Saidil Mursalin dari Universitas Abulyatama Aceh dalam jurnal East Asian Journal of Multidisciplinary Research tahun 2026. Kajian ini menjadi penting karena membuka peluang pengobatan yang lebih aman, lebih murah, dan minim risiko komplikasi bagi pasien dengan kondisi stabil setelah tindakan awal.
Cedera terrible triad elbow dikenal sebagai salah satu cedera ortopedi paling rumit. Kondisi ini terjadi ketika siku mengalami dislokasi dan bersamaan dengan patah tulang kepala radius serta proses koronoid. Kombinasi cedera ini selama bertahun-tahun dianggap berisiko tinggi menyebabkan kekakuan, nyeri berkepanjangan, ketidakstabilan sendi, hingga radang sendi permanen.
Karena kompleksitasnya, dokter biasanya memilih operasi sebagai langkah utama. Operasi dilakukan untuk memperbaiki struktur tulang, ligamen, dan memastikan sendi tetap stabil agar pasien dapat segera mulai latihan gerak. Namun, operasi bukan tanpa risiko. Komplikasi seperti infeksi, kekakuan sendi, gangguan saraf, dan kebutuhan operasi ulang sering terjadi.
Melihat tantangan itu, Saidil Mursalin dari Universitas Abulyatama Aceh meneliti apakah semua kasus terrible triad memang harus dioperasi. Ia melakukan tinjauan sistematis terhadap berbagai penelitian internasional untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan konservatif pada pasien yang kondisi sikunya tetap stabil setelah reposisi tertutup atau closed reduction.
Dalam kajian ini, Mursalin menelusuri tiga basis data besar, yaitu PubMed, Cochrane Library, dan ScienceDirect. Dari total 560 artikel yang ditemukan, hanya lima studi yang memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut. Secara keseluruhan, lima studi tersebut melibatkan 83 pasien dewasa dengan cedera terrible triad elbow yang ditangani tanpa operasi. Diagram seleksi penelitian dalam artikel menunjukkan proses penyaringan yang sangat ketat untuk memastikan kualitas data.
Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas pasien dengan kondisi stabil dapat pulih cukup baik tanpa pembedahan. Rentang gerak siku akhir rata-rata mencapai 128 hingga 134 derajat, angka yang dinilai cukup untuk mendukung aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, atau mengangkat benda ringan.
Skor fungsi siku juga tergolong tinggi. Beberapa studi menunjukkan nilai Mayo Elbow Performance Score berada di kisaran 94 hingga 95, yang masuk kategori sangat baik. Dalam seri penelitian terbesar, sebanyak 77 persen pasien mencapai hasil baik hingga sangat baik.
Mursalin menjelaskan bahwa kunci keberhasilan terapi tanpa operasi terletak pada seleksi pasien yang tepat. Pasien harus memiliki posisi sendi yang tetap sejajar setelah reposisi, tidak ada hambatan mekanis saat bergerak, dan fraktur yang relatif kecil serta stabil.
“Cedera terrible triad tidak selalu berarti harus operasi. Yang paling penting adalah melihat stabilitas sendi setelah reposisi,” tulis Saidil Mursalin dalam kajiannya.
Meski hasilnya menjanjikan, terapi konservatif tetap memiliki risiko. Sekitar 13 persen pasien dalam beberapa studi akhirnya tetap memerlukan operasi lanjutan akibat ketidakstabilan berulang, kekakuan, atau terbentuknya jaringan tulang abnormal di sekitar sendi.
Selain itu, beberapa pasien mengalami bunyi klik saat menggerakkan siku, keterbatasan rotasi lengan bawah, dan perubahan degeneratif ringan yang dapat berkembang menjadi artritis pascatrauma. Namun, sebagian besar keluhan ini tidak selalu berdampak besar pada fungsi sehari-hari.
Temuan ini membawa dampak penting bagi dunia medis, terutama dalam pengambilan keputusan klinis. Dokter kini memiliki dasar lebih kuat untuk mempertimbangkan opsi nonoperatif bagi pasien tertentu, khususnya mereka yang memiliki penyakit penyerta, risiko anestesi tinggi, atau memilih menghindari operasi.
Bagi pasien, pendekatan ini dapat mengurangi biaya pengobatan, mempercepat pemulihan awal, dan menghindari risiko komplikasi pembedahan. Namun, pengawasan ketat tetap wajib dilakukan melalui pemeriksaan radiologi berkala dan rehabilitasi terstruktur.
Menurut Mursalin, masa depan penanganan cedera siku kompleks akan lebih mengarah pada pengobatan yang dipersonalisasi. Bukan lagi berdasarkan label cedera semata, tetapi berdasarkan bagaimana sendi merespons setelah penanganan awal.
Temuan ini sekaligus memperkuat pandangan baru di dunia ortopedi bahwa stabilitas fungsional lebih penting daripada sekadar melihat tingkat keparahan cedera di awal.
0 Komentar