![]() |
| Illustration by Ai |
Peneliti dari Politeknik Negeri Manado menemukan bahwa struktur beton bertulang Terminal Bandara Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, masih berada dalam kondisi aman secara teknis. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa lendutan atau pergeseran lateral pada bagian lantai atas bangunan sudah sangat dekat dengan batas yang diizinkan. Temuan ini menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi kenyamanan operasional dan kinerja komponen nonstruktural bandara.
Penelitian dilakukan oleh Franky R. Tombokan, Don R. G. Kabo, Herman Alfis Tumengkol, Noldie E. Kondoj, Dwars Soukotta, dan Nixon Mantiri dari Politeknik Negeri Manado. Hasil penelitian dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Volume 6 Nomor 6 tahun 2026.
Berbeda dari studi sebelumnya yang berfokus pada desain dan kebutuhan tulangan struktur, penelitian ini menelaah seberapa besar cadangan keamanan atau reserve capacity yang masih dimiliki bangunan setelah proses desain selesai. Pendekatan tersebut penting karena bangunan publik seperti terminal bandara tidak hanya harus kuat menahan beban, tetapi juga harus tetap nyaman dan berfungsi normal selama masa operasional.
Mengapa Evaluasi Ini Penting?
Terminal bandara merupakan fasilitas publik dengan tingkat aktivitas tinggi dan digunakan oleh banyak orang setiap hari. Dalam bangunan seperti ini, kerusakan kecil pada elemen nonstruktural seperti kaca, plafon, partisi, atau instalasi mekanikal dan elektrikal dapat mengganggu pelayanan meskipun struktur utama masih aman.
Menurut tim peneliti, evaluasi pasca-desain diperlukan untuk mengetahui bagian mana dari bangunan yang memiliki margin keamanan paling kecil sehingga dapat menjadi prioritas pengawasan selama konstruksi maupun operasional.
"Bangunan yang lolos pemeriksaan kekuatan belum tentu memiliki cadangan kinerja yang besar. Karena itu, perlu diketahui indikator mana yang paling mendekati batas layan," tulis para peneliti dari Politeknik Negeri Manado.
Analisis Menggunakan Data Struktur yang Sudah Ada
Penelitian menggunakan pendekatan analisis kuantitatif sekunder. Tim tidak melakukan desain ulang bangunan, melainkan memanfaatkan data hasil perencanaan yang sudah tersedia sebelumnya.
Data yang dianalisis meliputi:
- Hasil pemodelan struktur menggunakan perangkat lunak ETABS v21.
- Parameter gempa dan beban angin.
- Kapasitas pondasi bored pile.
- Perkiraan penurunan pondasi.
- Data lendutan antar lantai (inter-story drift).
Seluruh data tersebut kemudian diubah menjadi rasio antara beban yang diterima dengan kapasitas yang tersedia. Semakin mendekati angka 1, semakin kecil cadangan keamanan yang dimiliki komponen tersebut.
Lendutan Lantai Atas Menjadi Faktor Paling Kritis
Hasil analisis menunjukkan bahwa indikator yang paling mendekati batas aman adalah lendutan pada lantai atas bangunan.
Pada ketinggian 10 meter, nilai lendutan tercatat sebesar 29,04 milimeter, sedangkan batas yang diperbolehkan adalah 30 milimeter.
Artinya, struktur sudah menggunakan sekitar 96,8 persen dari kapasitas lendutan yang diizinkan dan hanya menyisakan margin sekitar 3,2 persen.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Lendutan maksimum lantai atas mencapai 29,04 mm.
- Batas lendutan yang diizinkan adalah 30 mm.
- Rasio pemanfaatan mencapai 0,968.
- Sisa margin keamanan hanya sekitar 3,2 persen.
Meski masih memenuhi standar, angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan kecil pada kondisi bangunan dapat membuat nilai lendutan semakin mendekati batas yang diperbolehkan.
Para peneliti menjelaskan bahwa faktor seperti toleransi konstruksi, distribusi massa bangunan, kekakuan struktur, maupun pemasangan komponen nonstruktural dapat memengaruhi hasil akhir di lapangan.
Pondasi Masih Memiliki Cadangan Keamanan Besar
Berbeda dengan lendutan bangunan, kondisi pondasi menunjukkan hasil yang jauh lebih aman.
Penelitian menemukan bahwa pondasi bored pile memiliki kapasitas dukung sebesar 169,22 ton, sementara beban maksimum yang bekerja hanya sekitar 121,02 ton.
Dengan demikian, pemanfaatan kapasitas pondasi baru mencapai sekitar 71,5 persen, sehingga masih tersedia cadangan kapasitas hampir 40 persen dibandingkan beban yang diterima.
Selain itu, penurunan pondasi yang diperkirakan hanya sebesar 4,956 milimeter, jauh di bawah batas layanan yang ditetapkan sebesar 25,4 milimeter.
Secara sederhana, pondasi masih memiliki ruang keamanan yang cukup besar dan bukan menjadi faktor utama yang perlu dikhawatirkan dalam struktur terminal ini.
Dampak bagi Operasional Bandara
Temuan penelitian menunjukkan bahwa perhatian utama sebaiknya difokuskan pada bagian atas bangunan, terutama elemen yang sensitif terhadap pergerakan struktur.
Komponen seperti:
- Panel kaca.
- Sambungan fasad.
- Plafon.
- Sistem mekanikal dan elektrikal.
- Partisi interior.
- Sambungan atap.
perlu diperiksa secara lebih detail agar tetap mampu berfungsi dengan baik ketika bangunan mengalami pergerakan akibat angin atau gempa.
Menurut para peneliti, gangguan pada komponen-komponen tersebut dapat memengaruhi kenyamanan pengguna dan kelancaran operasional bandara meskipun struktur utama tidak mengalami kerusakan.
Rekomendasi untuk Pengawasan Konstruksi
Berdasarkan hasil evaluasi, tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah lanjutan.
Pertama, melakukan pemeriksaan ulang model struktur dengan mempertimbangkan kondisi nyata material beton yang telah mengalami retak mikro akibat beban kerja.
Kedua, memastikan sistem diafragma lantai dan distribusi beban bekerja sesuai asumsi perencanaan.
Ketiga, memeriksa kompatibilitas antara struktur utama dan komponen nonstruktural agar mampu mengakomodasi pergerakan bangunan.
Keempat, tetap melakukan pengendalian mutu pondasi dan pekerjaan konstruksi meskipun hasil analisis menunjukkan cadangan keamanan yang memadai.
Menurut Don R. G. Kabo dan tim peneliti, pendekatan berbasis margin cadangan seperti ini dapat menjadi lapisan tambahan dalam pengendalian mutu proyek infrastruktur, khususnya bangunan publik yang berada di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Serviceability Margin and Foundation Reserve Assessment of a Reinforced Concrete Airport Terminal Structure in Bolaang Mongondow, Indonesia
Penulis: Franky R. Tombokan, Don R. G. Kabo, Herman Alfis Tumengkol, Noldie E. Kondoj, Dwars Soukotta, dan Nixon Mantiri
Afiliasi: Politeknik Negeri Manado
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Volume dan Nomor: Vol. 6, No. 6 (2026)

0 Komentar