Pertumbuhan penduduk yang pesat di Kota Pekanbaru meningkatkan kebutuhan lahan dan perumahan. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang memadai. Akibatnya, sejumlah kawasan berkembang menjadi permukiman dengan kualitas lingkungan yang rendah.
Kelurahan Meranti Pandak menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan permukiman kumuh berdasarkan kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru. Kawasan ini menghadapi berbagai persoalan seperti pengelolaan sampah yang belum optimal, sistem sanitasi yang kurang memadai, drainase yang belum berfungsi maksimal, serta tingginya risiko banjir karena berada di sekitar Sungai Siak.
Untuk mengetahui tingkat kekumuhan sekaligus menentukan strategi penanganan yang tepat, tim peneliti melakukan survei lapangan, observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, serta pengumpulan data dari berbagai instansi pemerintah. Penelitian mencakup kawasan seluas 384 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 13.642 jiwa, terdiri atas 4.426 unit rumah dan 2.789 kepala keluarga. Sebanyak 96 responden dipilih sebagai sumber data utama untuk menggambarkan kondisi permukiman secara menyeluruh. Penilaian tingkat kekumuhan menggunakan indikator resmi dari Peraturan Menteri PUPR Nomor 2 Tahun 2018, sedangkan penyusunan strategi dilakukan melalui analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 425 kepala keluarga yang tinggal di kawasan yang teridentifikasi sebagai permukiman kumuh dan tersebar di sepuluh RT pada tujuh RW. Berdasarkan penilaian yang dilakukan, kawasan tersebut memperoleh skor 32, sehingga masuk dalam kategori permukiman kumuh ringan.
Penelitian menemukan bahwa kondisi bangunan rumah, akses jalan lingkungan, dan penyediaan air bersih secara umum sudah berada pada kondisi yang cukup baik. Namun, beberapa aspek lingkungan masih menjadi penyebab utama munculnya kekumuhan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Pengelolaan sampah menjadi penyumbang terbesar tingkat kekumuhan dengan skor 13.
- Ketiadaan sarana proteksi kebakaran memperoleh skor 10, menunjukkan masih minimnya fasilitas mitigasi bencana.
- Pengelolaan air limbah memperoleh skor 6, menandakan masih banyak limbah rumah tangga yang belum dikelola dengan baik.
- Kondisi bangunan, jalan lingkungan, dan akses air bersih memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap tingkat kekumuhan.
Menurut para peneliti, persoalan utama kawasan bukan lagi terletak pada kondisi fisik rumah, melainkan pada kualitas pelayanan lingkungan. Infrastruktur pendukung seperti sistem pengelolaan sampah, sanitasi, drainase, dan perlindungan terhadap kebakaran menjadi prioritas utama yang harus segera diperbaiki.
Analisis strategi yang dilakukan menunjukkan bahwa kawasan Meranti Pandak memiliki peluang pengembangan yang cukup besar. Nilai Internal Factor Analysis Summary (IFAS) sebesar 1,98 dan External Factor Analysis Summary (EFAS) sebesar 2,65 menunjukkan bahwa peluang eksternal lebih besar dibandingkan tantangan internal. Posisi strategi berada pada koordinat (0,28; 0,87) yang mengarah pada pendekatan pembangunan yang memanfaatkan peluang untuk mempercepat peningkatan kualitas lingkungan.
Berdasarkan hasil tersebut, peneliti merekomendasikan beberapa strategi utama, yaitu meningkatkan kualitas infrastruktur permukiman, memperkuat sistem pengelolaan lingkungan, memperluas program pemberdayaan masyarakat, serta meningkatkan kerja sama antarinstansi pemerintah.
Selain itu, pemerintah daerah juga dinilai perlu memperkuat edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting karena keberhasilan program penataan kawasan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku warga dalam mengelola lingkungan tempat tinggalnya.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya program pemerintah seperti bantuan perumahan layak huni, peningkatan kualitas kawasan melalui program penanganan permukiman kumuh, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan kawasan permukiman yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.
Shinta Dwi Oktaviani dan tim peneliti menegaskan bahwa peningkatan kualitas permukiman tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur. Perbaikan kualitas sumber daya manusia, peningkatan pendidikan masyarakat, pengurangan pengangguran, serta penguatan partisipasi warga juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan kawasan permukiman yang layak huni.
Ke depan, peneliti menyarankan agar kajian serupa memanfaatkan teknologi analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS) maupun metode Analytic Hierarchy Process (AHP) sehingga penentuan prioritas penanganan kawasan menjadi lebih objektif. Penelitian jangka panjang juga diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas program penanganan permukiman kumuh dari waktu ke waktu sehingga kebijakan yang diterapkan benar-benar memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Profil Penulis
Shinta Dwi Oktaviani merupakan peneliti dari Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Riau dengan bidang kajian pengelolaan lingkungan, perencanaan kawasan permukiman, dan pembangunan berkelanjutan.
Ridwan Manda Putra adalah akademisi dari Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Riau yang meneliti kebijakan lingkungan, tata ruang, serta pengelolaan wilayah perkotaan.
Indra Suandy merupakan dosen dan peneliti pada Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Riau dengan fokus penelitian pada ilmu lingkungan, pembangunan wilayah, dan pengelolaan sumber daya alam.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Strategic Planning for Slum Settlement Management in Meranti Pandak Village
Penulis: Shinta Dwi Oktaviani, Ridwan Manda Putra, Indra Suandy
Afiliasi: Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Riau, Indonesia
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume: 5, Nomor 2
Tahun: 2026
0 Komentar