Strategi Pemangkasan Waktu Tunggu dan Peremajaan Armada Siap Hidupkan Kembali Angkutan Umum Kota Singaraja yang Meredup

Ilustrasi by AI

SINGARAJA — Dominasi kendaraan pribadi di Kota Singaraja memicu berbagai persoalan transportasi serius, mulai dari penumpukan arus kendaraan hingga penurunan efisiensi sistem lalu lintas secara keseluruhan. Fenomena ini mendorong I Gede Agung Wisnu Segara, Putu Alit Suthanaya, dan Dewa Made Priyantha Wedagama dari Universitas Udayana melakukan studi mendalam pada tahun 2026 mengenai pergeseran perilaku dan preferensi masyarakat agar mereka bersedia kembali menggunakan transportasi massal. Penelitian yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menjadi sangat krusial sebagai landasan strategis bagi jajaran pemerintah daerah dalam merancang penataan ulang sistem angkutan perkotaan yang berkelanjutan.

Kondisi transportasi publik di wilayah urban Kabupaten Buleleng tersebut saat ini memang berada di fase yang memprihatinkan. Dari total sekitar 24 rute angkutan umum konvensional atau bemo yang tercatat secara administratif di Buleleng, kenyataannya hanya tersisa sekitar 7 rute saja yang masih aktif beroperasi secara nyata di kawasan Singaraja. Penurunan drastis ini dipicu oleh rendahnya tingkat kenyamanan armada, waktu tunggu di halte yang tidak pasti, serta cakupan rute yang tidak lagi menyentuh pusat-pusat kegiatan warga secara maksimal. Kondisi tersebut diperparah oleh kemudahan kepemilikan sepeda motor serta maraknya transportasi berbasis aplikasi digital yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi, sehingga memicu migrasi besar-besaran penumpang meninggalkan angkutan umum.

Untuk membedah kemauan serta ekspektasi masyarakat terhadap layanan angkutan umum, tim peneliti Universitas Udayana mengandalkan pendekatan Stated Preference. Metode survei ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terstruktur kepada para penduduk Kota Singaraja, di mana responden disodorkan beberapa simulasi skenario pilihan mode perjalanan. Skenario-skenario hipotesis tersebut dirancang dengan memasukkan indikator-indikator perbaikan kinerja layanan yang belum tersedia di lapangan saat ini, seperti simulasi perubahan tarif, pemotongan waktu tunggu, peremajaan fasilitas kenyamanan armada, hingga reorganisasi jaringan rute. Melalui instrumen ini, peneliti mampu mendeteksi secara presisi faktor-faktor apa saja yang paling sensitif dalam menggeser minat warga untuk beralih moda.

Berdasarkan hasil pengolahan data, tingkat utilitas angkutan umum di Singaraja saat ini terbukti sangat rendah karena tingginya ketergantungan mobilitas harian pada kendaraan pribadi. Kendati demikian, hasil analisis preferensi menangkap adanya sinyal positif yang kuat dari masyarakat untuk berpindah ke angkutan umum, asalkan ada komitmen pembenahan kualitas pelayanan secara struktural. Faktor paling dominan yang memengaruhi keputusan warga untuk beralih adalah pemangkasan durasi waktu tunggu serta peningkatan aspek kenyamanan fisik armada kendaraan. Masyarakat menyatakan kesiapan penuh untuk memanfaatkan kembali jasa angkutan umum apabila kendaraannya bersih, sistem ventilasi udara berfungsi baik, kapasitas penumpang dikontrol agar tidak terlalu padat, serta memiliki kepastian jadwal keberangkatan yang tepat waktu.

Implikasi dari riset ini memberikan peta jalan kebijakan yang sangat konkret bagi perbaikan sistem transportasi dan tata ruang perkotaan di Bali Utara. Merujuk pada keinginan warga, prioritas utama yang harus diambil oleh pembuat kebijakan bersama pihak operator adalah melakukan revitalisasi menyeluruh pada armada yang sudah tidak layak operasi serta menyusun kembali rute-rute strategis agar mampu menjangkau kawasan pemukiman padat, area sekolah, dan pusat perdagangan secara langsung. Langkah ini juga wajib didukung oleh pembangunan sarana penunjang seperti halte yang representatif dan pemasangan papan informasi rute yang transparan untuk mendongkrak aksesibilitas serta kepercayaan masyarakat terhadap efisiensi angkutan massal.

Penerapan strategi penataan berbasis preferensi ini diyakini tidak hanya sanggup menghidupkan kembali denyut nadi perekonomian sektor transportasi lokal, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pelestarian lingkungan kota Singaraja. Penurunan penggunaan kendaraan pribadi secara otomatis akan mengurangi pemborosan konsumsi bahan bakar fosil dan menekan tingkat emisi gas buang di jalan raya. Lewat kebijakan transportasi yang inklusif dan berorientasi nyata pada kebutuhan pengguna, angkutan umum di Singaraja dapat bertransformasi menjadi moda mobilitas yang kompetitif, aman, dan ramah lingkungan.

Profil Penulis

I Gede Agung Wisnu Segara — Universitas Udayana.

Putu Alit Suthanaya — Universitas Udayana.
Dewa Made Priyantha Wedagama — Universitas Udayana.

Sumber Penelitian
Judul Artikel: Analysis of Community Preferences and Strategies to Increase Public Transportation Utilization in Singaraja City Using a Stated Preference Approach
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: [https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i6.189](https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i6.189)
URL Resmi: [https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr](https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr)

Posting Komentar

0 Komentar