Strategi Olahan Ubi Jalar Ungu Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Pendapatan Petani di Timor Tengah Selatan

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Timor Tengah - Pengembangan produk olahan ubi jalar ungu berupa stik terbukti menjadi salah satu strategi yang dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Temuan tersebut dipublikasikan oleh Marsianus Falo, Yosefina Marice Fallo, Petrus Kobesi, Melkisedek Bukifan, dan Thomas A. Riberu dari Universitas Timor serta Universitas Lambung Mangkurat dalam Formosa Journal of Science and Technology Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Ketahanan pangan masih menjadi tantangan besar di Indonesia meskipun negara ini memiliki sumber daya alam yang melimpah. Permasalahan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh pangan secara berkelanjutan serta meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian. Salah satu solusi yang dinilai menjanjikan adalah diversifikasi pangan melalui pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kelompok Wanita Tani UP2K Suka Maju di Desa Ajaobaki telah mengembangkan usaha produksi stik ubi jalar ungu sejak tahun 2016. Produk tersebut menjadi alternatif pemanfaatan hasil pertanian lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga petani. Namun, kelompok usaha ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari fluktuasi harga bahan baku, keterbatasan modal, hingga akses pemasaran yang belum optimal. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mengkaji strategi pengembangan usaha agar lebih berkelanjutan.

Ubi jalar ungu dipilih karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber pangan alternatif sekaligus kaya antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan tersebut menjadikan ubi jalar ungu tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu melindungi tubuh dari berbagai penyakit degeneratif. Dengan mengolahnya menjadi produk siap konsumsi seperti stik, nilai jual komoditas ini meningkat dibandingkan jika hanya dipasarkan dalam bentuk segar.

Penelitian dilakukan di Kelompok Wanita Tani UP2K Suka Maju, Desa Ajaobaki, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tim peneliti mengumpulkan data primer melalui observasi lapangan, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada responden. Selain itu, penelitian juga memanfaatkan berbagai sumber data sekunder dari buku, jurnal ilmiah, dokumen pemerintah, dan literatur terkait. Untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai usaha tersebut, peneliti menggunakan analisis deskriptif, analisis pendapatan usaha, dan analisis SWOT yang mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dalam pengembangan bisnis stik ubi jalar ungu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam satu kali proses produksi, total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp2.038.500, terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Dari satu kali produksi dihasilkan sekitar 250 bungkus stik ubi jalar ungu yang dijual seharga Rp10.000 per bungkus sehingga menghasilkan penerimaan sebesar Rp2.500.000. Setelah dikurangi seluruh biaya produksi, kelompok tani memperoleh keuntungan sekitar Rp461.500 setiap kali produksi. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa usaha pengolahan ubi jalar ungu masih memberikan keuntungan ekonomi dan layak untuk terus dikembangkan.

Penelitian juga memperlihatkan bagaimana pandemi COVID-19 sempat menurunkan kapasitas produksi secara signifikan. Pada tahun 2018, kelompok mampu memproduksi sekitar 1.000 bungkus per bulan dengan pendapatan sekitar Rp10 juta per bulan. Ketika pembatasan aktivitas masyarakat diberlakukan, produksi turun menjadi sekitar 450 bungkus per bulan dengan pendapatan sekitar Rp4,5 juta. Setelah kondisi mulai pulih pada 2021, produksi kembali meningkat menjadi sekitar 600 bungkus per bulan dengan pendapatan sekitar Rp6 juta setiap bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan usaha pangan skala rumah tangga.

Selain menghitung keuntungan usaha, para peneliti juga menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan bisnis. Kekuatan utama kelompok tani antara lain pengalaman anggota dalam mengolah ubi jalar ungu, kualitas produk yang baik, kepemilikan peralatan produksi sendiri, serta kepercayaan konsumen terhadap produk yang telah memiliki identitas. Sementara itu, kelemahan yang masih dihadapi meliputi keterbatasan pendidikan, kekurangan tenaga kerja, modal usaha yang masih lemah, keterbatasan informasi pasar, dan daya simpan produk yang relatif pendek.

Dari sisi eksternal, penelitian menemukan peluang yang cukup besar berupa ketersediaan bahan baku, kondisi iklim yang sesuai untuk budidaya ubi jalar, serta lokasi Desa Ajaobaki yang berada di jalur wisata sehingga berpotensi memperluas pasar. Ancaman yang perlu diantisipasi antara lain persaingan produk sejenis, kerusakan bahan baku, serta dampak gangguan eksternal seperti pandemi. Berdasarkan hasil analisis SWOT, posisi usaha berada pada Kuadran I (Strategi Agresif), yang berarti usaha memiliki kekuatan internal dan peluang eksternal yang sama-sama tinggi sehingga layak dikembangkan secara lebih ekspansif.

Strategi Pengembangan Berbasis SWOT

Berdasarkan hasil analisis SWOT, para peneliti menyimpulkan bahwa usaha stik ubi jalar ungu yang dijalankan Kelompok Wanita Tani UP2K Suka Maju berada pada Kuadran I atau strategi agresif. Posisi ini menunjukkan bahwa usaha memiliki kekuatan internal yang lebih besar dibandingkan kelemahannya, sekaligus memiliki peluang pasar yang lebih besar daripada ancaman yang dihadapi. Dengan kondisi tersebut, pengembangan usaha sebaiknya difokuskan pada pemanfaatan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat daya saing produk lokal.

Penelitian merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk mempercepat pengembangan usaha. Pertama, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendampingan dari instansi pertanian agar petani mampu mengelola produksi secara lebih modern dan efisien. Kedua, meningkatkan volume produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. Ketiga, memperbaiki manajemen usaha mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran sehingga produk memiliki daya saing yang lebih tinggi. Selain itu, kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, dan sektor pariwisata, dinilai penting untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus membuka akses terhadap permodalan dan teknologi.

Peneliti juga menilai bahwa keberadaan Desa Ajaobaki yang berada di kawasan wisata merupakan peluang ekonomi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Produk stik ubi jalar ungu berpotensi menjadi oleh-oleh khas daerah yang dapat dipasarkan kepada wisatawan maupun konsumen di berbagai wilayah. Dengan strategi pemasaran yang lebih luas, produk lokal tidak hanya meningkatkan pendapatan kelompok tani, tetapi juga memperkenalkan potensi pangan lokal Nusa Tenggara Timur kepada pasar yang lebih besar.
Menurut Marsianus Falo dan tim peneliti dari Universitas Timor, pengembangan agroindustri berbasis komoditas lokal tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Keberhasilan usaha juga ditentukan oleh kemampuan petani mengelola usaha secara profesional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membangun jejaring pemasaran, serta memanfaatkan peluang yang tersedia di lingkungan sekitar. Dengan strategi tersebut, usaha pengolahan ubi jalar ungu dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Temuan ini memberikan implikasi yang luas bagi pembangunan pertanian di Indonesia. Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan tertentu, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun program pemberdayaan kelompok tani melalui pelatihan, bantuan peralatan, akses pembiayaan, hingga penguatan pemasaran produk UMKM berbasis pertanian. Sementara bagi pelaku usaha, penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi produk lokal mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan memperkuat ekonomi masyarakat desa.

Profil Penulis

Marsianus Falo merupakan akademisi dari Universitas Timor yang memiliki fokus penelitian pada bidang agribisnis, ekonomi pertanian, pembangunan pedesaan, serta strategi pengembangan usaha tani. Penelitian ini juga melibatkan Yosefina Marice Fallo, Melkisedek Bukifan, dan Thomas A. Riberu dari Universitas Timor, serta Petrus Kobesi dari Universitas Lambung Mangkurat. Kolaborasi para peneliti tersebut berfokus pada pengembangan pertanian berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Sumber Penelitian

Falo, M., Fallo, Y. M., Kobesi, P., Bukifan, M., & Riberu, T. A. (2026). Strategies to Increase Farmers' Food Security Through the Development of Purple Sweet Potato Stick Production in North Mollo District, South Central Timor Regency (Case Study: UP2K Group of Farming Women Like to Advance Ajaobaki Village). Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 7, 1753–1770.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.107

Jurnal: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar