Penelitian ini menjadi relevan karena Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu gerbang internasional tersibuk di Indonesia sekaligus tulang punggung sektor pariwisata Bali. Tingginya intensitas penerbangan membuat fase pendekatan dan pendaratan menjadi area operasi yang membutuhkan standar keselamatan sangat tinggi, terutama saat hujan, kabut, atau kondisi malam hari.
Menurut penulis, karakter geografis Runway 27 menghadirkan tantangan tersendiri karena jalur pendekatan pesawat langsung menghadap kawasan laut. Kondisi ini dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai black-hole approach, yaitu situasi ketika pilot kehilangan referensi visual karena lingkungan sekitar jalur pendaratan terlihat sangat gelap. Akibatnya, persepsi terhadap ketinggian, jarak, dan sudut pendekatan dapat terganggu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian mengusulkan penerapan PALS Category II sebagai sistem pencahayaan pendekatan presisi yang dirancang khusus untuk membantu pilot mempertahankan orientasi visual selama proses pendaratan.
Alih-alih melakukan simulasi laboratorium, penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, peninjauan dokumen teknis bandara, wawancara dengan personel operasional, serta evaluasi terhadap standar internasional ICAO Annex 14. Peneliti juga meninjau kondisi lingkungan sekitar landasan, konfigurasi sistem pencahayaan yang telah digunakan, serta kemungkinan hambatan di area pendekatan.
Dalam rancangan yang diusulkan, sistem PALS Category II menggunakan konfigurasi ALSF-II dengan panjang total 900 meter dari ambang landasan. Sistem tersebut terdiri atas beberapa komponen utama:
- Lampu garis tengah (centerline lights) untuk membantu pesawat tetap berada pada jalur pendekatan.
- Lampu melintang (crossbars) untuk memperjelas posisi lateral pesawat.
- Lampu pembatas sisi (side row barrettes) untuk memberikan batas visual.
- Lampu kilat berurutan (sequence flashing lights) yang membantu identifikasi landasan dari jarak jauh.
Seluruh sistem dirancang mengikuti standar ICAO dan dipadukan dengan teknologi lampu LED berintensitas tinggi yang lebih hemat energi dibanding sistem konvensional.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan pilot dalam menjaga kestabilan sudut pendekatan dan mempertahankan posisi pesawat saat memasuki fase akhir pendaratan. Sistem pencahayaan berurutan juga membantu mempercepat identifikasi posisi landasan, terutama ketika visibilitas menurun akibat hujan atau kelembapan tinggi.
Penelitian juga menyoroti manfaat operasional yang lebih luas. Dengan meningkatnya kemampuan operasi saat jarak pandang rendah, peluang terjadinya go-around atau pembatalan pendaratan dapat ditekan. Dampaknya bukan hanya pada keselamatan, tetapi juga efisiensi lalu lintas udara dan pengurangan potensi keterlambatan penerbangan.
Yang membedakan penelitian ini dari pendekatan teknis konvensional adalah masuknya konsep Tri Hita Karana sebagai bagian dari desain keselamatan penerbangan.
Tri Hita Karana merupakan filosofi hidup masyarakat Bali yang menekankan tiga harmoni utama: hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan).
Dalam konteks sistem pencahayaan bandara, konsep tersebut diterjemahkan menjadi tiga pendekatan praktis.
Pertama, keselamatan penerbangan diposisikan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kehidupan manusia. Kedua, sistem dirancang untuk meningkatkan rasa aman bagi seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pilot, penumpang, teknisi, hingga operator bandara. Ketiga, pembangunan infrastruktur mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan pesisir melalui efisiensi energi dan pengendalian area sekitar landasan.
Penggunaan lampu LED menjadi salah satu contoh implementasi pendekatan tersebut karena dapat menekan konsumsi energi dan mengurangi kebutuhan pemeliharaan jangka panjang.
I Wayan Dikse Pancane menilai bahwa pengembangan sistem keselamatan modern tidak harus bertentangan dengan identitas lokal suatu wilayah. Dalam konteks Bali sebagai destinasi wisata internasional berbasis budaya, integrasi teknologi dan nilai lokal dipandang dapat menciptakan model pengembangan bandara yang lebih berkelanjutan.
Jika diterapkan, rancangan PALS Category II diperkirakan dapat memperkuat kesiapan Bandara I Gusti Ngurah Rai dalam memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional sekaligus mendukung operasi penerbangan pada kondisi cuaca yang lebih menantang.
Ke depan, penelitian merekomendasikan pengembangan lanjutan berupa integrasi sistem pencahayaan dengan teknologi smart airport, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), hingga pemanfaatan energi terbarukan untuk menciptakan ekosistem bandara yang semakin efisien dan ramah lingkungan.
0 Komentar