Sintesis Hijau Nanopartikel Emas dari Bunga Telang Buka Peluang Teknologi Ramah Lingkungan

Ilustrasi by AI

Makassar – Bunga telang yang selama ini dikenal sebagai tanaman herbal dan pewarna alami ternyata memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi masa depan. Penelitian yang dilakukan oleh Satria Putra Jaya Negara dan Andi Eka Kartika dari Universitas Negeri Makassar membuktikan bahwa ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea) dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nanopartikel emas (gold nanoparticles atau AuNPs) melalui metode sintesis hijau yang ramah lingkungan. Dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), penelitian ini menunjukkan bahwa metode berbasis tumbuhan mampu menggantikan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam produksi nanopartikel sekaligus menghasilkan material berkualitas tinggi yang berpotensi diaplikasikan di bidang kesehatan, lingkungan, hingga industri teknologi.

Nanoteknologi merupakan salah satu bidang ilmu yang berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Material berukuran nano memiliki sifat fisik, kimia, dan optik yang berbeda dibandingkan material berukuran biasa sehingga banyak dimanfaatkan dalam pengembangan sensor, perangkat elektronik, katalis, pengolahan limbah, hingga diagnosis penyakit. Di antara berbagai material nano yang telah dikembangkan, nanopartikel emas menjadi salah satu yang paling banyak diteliti karena memiliki stabilitas tinggi, biokompatibilitas yang baik, serta kemampuan optik yang sangat unik.

Namun demikian, sebagian besar metode sintesis nanopartikel emas masih bergantung pada bahan kimia sintetis seperti sodium borohidrid dan pelarut organik yang berpotensi mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan manusia. Kondisi tersebut mendorong para ilmuwan untuk mencari metode alternatif yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang kini berkembang adalah green synthesis atau sintesis hijau yang memanfaatkan senyawa alami dari tumbuhan sebagai agen pereduksi sekaligus penstabil nanopartikel.

Dalam penelitian ini, bunga telang dipilih karena kaya akan flavonoid, antosianin, tanin, dan berbagai senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Senyawa-senyawa tersebut mampu menyumbangkan elektron untuk mereduksi ion emas menjadi logam emas berukuran nano sekaligus melapisi permukaan nanopartikel sehingga lebih stabil tanpa memerlukan bahan kimia tambahan. Dengan demikian, proses pembentukan nanopartikel menjadi lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi limbah berbahaya.

Penelitian dilakukan menggunakan desain eksperimen laboratorium dengan memanfaatkan ekstrak metanol bunga telang sebagai agen bioreduktor. Larutan emas kemudian direaksikan dengan ekstrak bunga telang pada beberapa variasi waktu, yaitu 0, 30, 60, 90, dan 120 menit. Karakteristik nanopartikel yang terbentuk dianalisis menggunakan spektroskopi UV-Visible, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengetahui perubahan sifat optik, gugus fungsi, serta morfologi partikel yang dihasilkan. Seluruh percobaan dilakukan sebanyak tiga kali guna memastikan konsistensi hasil penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna larutan dari kuning pucat menjadi merah rubi selama proses reaksi berlangsung. Perubahan warna tersebut menjadi indikator awal terbentuknya nanopartikel emas. Analisis menggunakan spektroskopi UV-Visible memperlihatkan munculnya puncak serapan khas pada panjang gelombang sekitar 545,5 nanometer, yang merupakan ciri utama keberadaan nanopartikel emas. Intensitas serapan tertinggi diperoleh pada waktu reaksi 90 menit, menandakan bahwa kondisi tersebut merupakan waktu optimum untuk menghasilkan nanopartikel dengan jumlah terbanyak dan kualitas paling baik. Setelah melewati 120 menit, intensitas serapan justru sedikit menurun karena sebagian partikel mulai mengalami penggumpalan atau proses keseimbangan reaksi.

Analisis FTIR memperlihatkan bahwa ekstrak bunga telang mengandung berbagai gugus fungsi penting seperti hidroksil (O–H), metilen (C–H), ikatan rangkap karbon (C=C), dan gugus C–O. Gugus-gugus tersebut berperan aktif dalam mereduksi ion emas sekaligus membentuk lapisan pelindung alami pada permukaan nanopartikel. Keberadaan lapisan ini membuat nanopartikel lebih stabil dan mengurangi kemungkinan terjadinya agregasi selama proses sintesis. Dengan kata lain, senyawa bioaktif dalam bunga telang tidak hanya membentuk nanopartikel, tetapi juga menjaga kualitasnya secara alami.

Sementara itu, hasil pengamatan menggunakan SEM menunjukkan bahwa nanopartikel yang terbentuk memiliki ukuran skala nano dengan bentuk yang beragam, mulai dari semi-bulat hingga poligonal tidak beraturan. Meskipun masih ditemukan sedikit penggumpalan antarpartikel, secara keseluruhan morfologi yang dihasilkan menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang mampu berfungsi sebagai agen penstabil yang efektif. Hasil ini sejalan dengan pengamatan spektroskopi UV-Visible yang menunjukkan bahwa nanopartikel berhasil terbentuk secara stabil melalui pendekatan sintesis hijau.

Menurut Satria Putra Jaya Negara dan Andi Eka Kartika dari Universitas Negeri Makassar, penelitian ini membuktikan bahwa bunga telang merupakan sumber biomaterial yang sangat potensial untuk mendukung pengembangan nanoteknologi berkelanjutan. Pemanfaatan bahan alami tidak hanya mengurangi penggunaan senyawa kimia berbahaya, tetapi juga membuka peluang produksi nanopartikel yang lebih ekonomis, aman, dan mudah diterapkan dalam skala yang lebih besar. Pendekatan ini sekaligus mendukung upaya pengembangan teknologi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi berbagai bidang. Dalam dunia kesehatan, nanopartikel emas banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk biosensor, sistem penghantaran obat, terapi kanker, serta diagnosis penyakit. Di bidang lingkungan, material ini dapat digunakan untuk mendeteksi polutan maupun mempercepat proses degradasi zat berbahaya. Sementara itu, pada sektor industri, nanopartikel emas berpotensi dikembangkan untuk katalis, perangkat elektronik, dan berbagai teknologi canggih lainnya. Keberhasilan sintesis menggunakan bunga telang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku teknologi tinggi bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Profil Penulis

Satria Putra Jaya Negara
Universitas Negeri Makassar

Andi Eka Kartika
Universitas Negeri Makassar

Sumber Penelitian

Judul: Green Synthesis of Gold Nanoparticles (AuNPs) Using Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea) Extract: Effect of Reaction Time on Particle Characteristics

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 6, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i6.196

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar