Selat Hormuz Jadi Penentu Stabilitas Energi Dunia, Studi Poltekad Ungkap Dampaknya bagi Ekonomi Global

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Malang - Selat Hormuz menjadi salah satu jalur laut paling strategis di dunia karena menjadi pintu utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar internasional. Dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026, Joseph Robert Giri dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) menjelaskan bahwa gangguan keamanan di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi pasokan energi, tetapi juga dapat memicu gejolak ekonomi global melalui lonjakan harga energi, inflasi, dan gangguan rantai pasok internasional.

Temuan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz dilalui sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan itu berpotensi memberikan dampak yang dirasakan hingga ke berbagai negara, termasuk negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Menurut Joseph Robert Giri, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran internasional, melainkan maritime choke point atau titik sempit strategis yang menentukan kelancaran distribusi energi dunia. Posisi geografisnya menjadikan kawasan ini memiliki nilai ekonomi, politik, sekaligus pertahanan yang sangat tinggi.

Dalam kajiannya, Giri menjelaskan bahwa keamanan laut menjadi bagian penting dari stabilitas ekonomi global. Ketika jalur pelayaran terganggu akibat konflik atau ancaman militer, distribusi minyak dan gas akan melambat. Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi, tetapi menjalar ke berbagai sektor ekonomi melalui kenaikan biaya produksi, peningkatan harga barang, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Konflik Maritim Memicu Efek Berantai

Artikel tersebut menyoroti rivalitas geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko keamanan di Selat Hormuz. Persaingan tersebut menciptakan potensi gangguan terhadap jalur pelayaran internasional yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi global.

Berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya yang membahas aspek pertahanan atau ekonomi secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan keduanya dalam satu kerangka analisis. Giri menunjukkan bahwa konflik maritim memiliki hubungan langsung dengan stabilitas ekonomi internasional melalui mekanisme yang saling berkaitan.

Ketika pasokan energi terganggu, harga minyak cenderung meningkat. Kenaikan tersebut kemudian memicu inflasi, memperbesar biaya logistik, mengganggu aktivitas industri, serta meningkatkan tekanan terhadap perekonomian berbagai negara. Efek tersebut berlangsung secara berantai dan tidak selalu terjadi secara langsung, melainkan melalui proses yang saling memengaruhi.

Menggunakan Pendekatan Dinamika Sistem

Penelitian ini menggunakan pendekatan system dynamics dengan metode kualitatif eksplanatori. Pendekatan tersebut dipilih karena mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat yang kompleks antara konflik geopolitik, keamanan maritim, distribusi energi, dan stabilitas ekonomi global.

Data penelitian diperoleh melalui studi literatur strategis, laporan lembaga energi internasional, serta berbagai referensi mengenai geopolitik, keamanan maritim, dan ekonomi global. Analisis kemudian disusun menggunakan konsep dynamic thinking, sehingga mampu menggambarkan bagaimana perubahan pada satu bagian sistem dapat menghasilkan dampak luas terhadap keseluruhan sistem internasional.

Menurut Giri, pendekatan ini lebih tepat dibandingkan analisis linear karena hubungan antara keamanan maritim dan ekonomi dunia berlangsung melalui mekanisme feedback dan delay effect, yaitu proses yang saling memengaruhi dalam jangka waktu tertentu.

Sea Power dan Diplomasi Angkatan Laut Berperan Penting

Salah satu temuan penting penelitian adalah pentingnya sea power atau kekuatan maritim dalam menjaga keamanan jalur energi internasional.

Mengacu pada teori Geoffrey Till, laut tidak hanya dipandang sebagai wilayah pertahanan, tetapi juga sebagai sistem distribusi perdagangan, energi, dan logistik dunia. Karena itu, keberadaan kekuatan laut yang mampu menjaga kebebasan navigasi menjadi faktor penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi global.

Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya naval diplomacy atau diplomasi angkatan laut. Kehadiran armada laut negara-negara besar dinilai bukan hanya sebagai kekuatan militer, melainkan juga sebagai instrumen pencegahan konflik, menjaga stabilitas kawasan, serta memberikan jaminan keamanan terhadap jalur perdagangan internasional.

Menurut penulis, strategi tersebut dapat mengurangi risiko gangguan distribusi energi yang berpotensi menimbulkan dampak ekonomi berskala global.

Implikasi bagi Indonesia dan Dunia

Hasil penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia.

Meskipun Indonesia tidak berada di kawasan Teluk Persia, gejolak di Selat Hormuz tetap dapat memengaruhi harga energi domestik, biaya impor, nilai tukar, inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, pemantauan perkembangan geopolitik internasional menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi maupun pertahanan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keamanan maritim tidak lagi hanya menjadi isu pertahanan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ketahanan ekonomi nasional dan global. Stabilitas jalur laut internasional merupakan faktor penting untuk menjaga kelancaran perdagangan, distribusi energi, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi dunia.

Selain memberikan kontribusi akademik, penelitian ini menawarkan kerangka analisis yang dapat digunakan sebagai referensi dalam penyusunan kebijakan keamanan maritim, diplomasi pertahanan, serta strategi mitigasi risiko terhadap gangguan rantai pasok global.

Profil Penulis

Joseph Robert Giri merupakan akademisi dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad). Melalui penelitian ini, ia mengembangkan kajian yang mengintegrasikan perspektif pertahanan, keamanan maritim, geopolitik energi, dan ekonomi makro global menggunakan pendekatan system dynamics untuk menjelaskan hubungan kompleks antara konflik maritim dan stabilitas ekonomi internasional.

Sumber Penelitian

Giri, Joseph Robert. "The Strait of Hormuz as a Strategic Choke Point: An Analysis of the Risks of Global Energy Supply Disruption and Its Implications for Macroeconomic Stability." Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5, No. 7, 2026. DOI: 10.55927/fjst.v5i7.124.

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar