Kecamatan Maluk selama dua dekade dikenal sebagai wilayah yang ekonominya bertumpu pada industri tambang. Namun, sifat pertambangan yang padat modal dan terbatas dalam menyerap tenaga kerja membuat tingkat pengangguran tetap relatif tinggi. Sementara itu, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah masih di bawah lima persen, meskipun wilayah ini memiliki bentang alam pesisir dan kekayaan budaya yang besar. Kondisi tersebut mendorong peneliti memetakan potensi desa wisata sebagai dasar kebijakan diversifikasi ekonomi.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis dokumen di lima desa: Maluk, Benete, Bukit Damai, Mantun, dan Pasir Putih. Potensi desa dinilai menggunakan konsep 4A/5A pariwisata yang mencakup daya tarik, aksesibilitas, fasilitas pendukung, kelembagaan, dan aktivitas wisata. Pendekatan ini membantu melihat kesiapan tiap desa secara menyeluruh tanpa bergantung pada indikator teknis yang rumit.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat kesiapan desa. Desa Pasir Putih dan Desa Mantun muncul sebagai wilayah paling siap dikembangkan. Kedua desa memiliki kekuatan utama pada wisata bahari, panorama pantai, serta aktivitas wisata alami seperti berenang, memancing, hingga menikmati kuliner laut. Akses menuju kedua desa relatif baik dan sudah terdapat aktivitas wisata yang berjalan secara organik di masyarakat. Namun, peneliti menilai penguatan kelembagaan lokal dan peningkatan fasilitas wisata masih menjadi kebutuhan mendesak.
Desa Benete memiliki karakter unik karena berada di kawasan industri tambang. Selain pantai dan bentang alam pesisir, desa ini berpotensi mengembangkan wisata edukasi industri yang menceritakan transformasi ekonomi masyarakat dari nelayan menuju kawasan industri. Infrastruktur dasar di desa ini relatif lengkap, sehingga peluang pengembangan pariwisata dinilai lebih cepat jika didukung pengelolaan yang terstruktur.
Sementara itu, Desa Maluk dan Desa Bukit Damai masih berada pada tahap perintisan. Desa Maluk memiliki keunggulan sebagai pusat layanan dan pintu masuk kawasan, dengan fasilitas kuliner dan penginapan sederhana yang dapat mendukung wisata regional. Desa Bukit Damai menawarkan lanskap perbukitan dan suasana pedesaan yang cocok untuk ekowisata atau wisata retreat. Namun, kedua desa masih membutuhkan penguatan akses ke lokasi wisata, fasilitas dasar, serta kelembagaan pengelola pariwisata.
Dari sisi ekonomi, pemetaan ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata berpotensi menciptakan lapangan kerja baru yang lebih inklusif dibanding sektor tambang. Profesi seperti pemandu wisata, pengelola homestay, instruktur olahraga air, hingga pelaku usaha kuliner mulai muncul seiring meningkatnya kunjungan wisatawan. Penelitian juga menemukan bahwa sekitar 18 persen UMKM di Maluk sudah berkaitan langsung dengan aktivitas wisata, menandakan adanya efek ganda ekonomi dari belanja wisatawan di tingkat lokal.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, pariwisata juga dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga. Pendapatan harian dari wisata menjadi sumber likuiditas alternatif di tengah ketidakpastian harga komoditas tambang. Peneliti menyebut bahwa desa yang mengelola wisata berbasis masyarakat dapat memperoleh kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Desa dalam beberapa tahun mendatang.
Hendra Atmam dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menjelaskan bahwa pemetaan potensi desa wisata bukan sekadar inventarisasi aset, tetapi instrumen kebijakan publik berbasis data. Menurutnya, data yang jelas memungkinkan pemerintah desa dan daerah mengarahkan investasi, memperbaiki infrastruktur, serta merancang strategi pengembangan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
Penelitian ini merekomendasikan pemerintah daerah segera menyusun rencana induk pengembangan pariwisata terpadu di Kecamatan Maluk agar setiap desa memiliki tema wisata yang jelas dan tidak saling bersaing secara tidak sehat. Pemerintah desa juga disarankan memperkuat peran BUMDes dan kelompok sadar wisata, termasuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang pengelolaan destinasi dan pemasaran digital.
0 Komentar