Temuan ini menjadi penting karena Instagram kini menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan generasi muda Indonesia untuk membangun hubungan pertemanan maupun percintaan. Melalui pesan langsung (Direct Message), Story, komentar, hingga tombol suka (likes), pelaku dapat menciptakan kedekatan emosional secara cepat sebelum akhirnya mengendalikan bahkan meninggalkan korbannya.
Penelitian menunjukkan bahwa love bombing bukan sekadar memberikan perhatian berlebihan kepada pasangan. Di balik pujian, perhatian, dan janji masa depan yang terdengar romantis, terdapat pola komunikasi yang secara perlahan mengubah hubungan menjadi sarana kontrol emosional.
Instagram Mempercepat Kedekatan Sekaligus Mempermudah Manipulasi
Tim peneliti menjelaskan bahwa Instagram memiliki karakteristik yang memungkinkan hubungan berkembang sangat cepat. Balasan pesan yang instan, Story Reply, notifikasi likes, hingga interaksi publik membuat seseorang merasa diperhatikan secara terus-menerus.
Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi pelaku love bombing untuk membangun ketergantungan emosional.
Menurut penelitian ini, pelaku tidak menggunakan satu pola komunikasi saja. Mereka justru berganti-ganti strategi sesuai kondisi hubungan sehingga korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Penelitian Libatkan Lima Korban Gen Z di Kota Medan
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan lima informan Generasi Z di Kota Medan yang pernah mengalami love bombing dalam hubungan romantis melalui Instagram.
Data dikumpulkan melalui:
- wawancara mendalam,
- observasi nonpartisipan,
- dokumentasi,
- serta triangulasi sumber dengan akademisi bidang komunikasi.
Seluruh identitas informan disamarkan demi menjaga privasi mereka.
Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti memahami pengalaman korban secara langsung, mulai dari awal hubungan hingga berakhirnya komunikasi.
Empat Gaya Komunikasi Pelaku Love Bombing
Penelitian menemukan bahwa pelaku love bombing memanfaatkan empat gaya komunikasi utama.
1. Dynamic Style
Pelaku bergerak sangat cepat membangun kedekatan melalui pesan intensif, pujian terus-menerus, perhatian setiap hari, hingga ajakan bertemu dalam waktu singkat.
2. Equalitarian Style
Pelaku menciptakan kesan memiliki banyak kesamaan dengan korban, seperti hobi, nilai hidup, agama, atau tujuan masa depan sehingga korban merasa sangat dipahami.
3. Controlling Style
Setelah korban mulai terikat secara emosional, perhatian berubah menjadi pengawasan. Pelaku mulai menuntut balasan pesan yang cepat, mempertanyakan aktivitas korban, merasa cemburu terhadap teman lawan jenis, bahkan mengatur interaksi sosial korban.
4. Withdrawal Style
Pada tahap berikutnya pelaku mengurangi komunikasi secara tiba-tiba, melakukan ghosting, memblokir akun, atau menghilang tanpa penjelasan sehingga korban mengalami kebingungan dan tekanan emosional.
Peneliti menyimpulkan bahwa pergantian gaya komunikasi inilah yang menjadi inti manipulasi dalam praktik love bombing.
Hubungan Bergerak dalam Empat Tahapan
Selain menemukan pola komunikasi, penelitian juga mengidentifikasi tahapan love bombing yang relatif sama pada seluruh informan.
Idealization
Korban dibanjiri perhatian, pujian, hadiah, janji masa depan, dan validasi emosional sehingga merasa menjadi sosok yang sangat istimewa.
Devaluation
Perhatian mulai berubah menjadi tuntutan. Pelaku meminta korban selalu tersedia, membalas pesan secepat mungkin, membatasi pergaulan, serta mempertanyakan aktivitas sehari-hari.
Discarding
Setelah korban memiliki ikatan emosional yang kuat, pelaku tiba-tiba mengakhiri hubungan, menghilang, atau berpindah kepada pasangan lain.
Hoovering
Pada beberapa kasus, pelaku kembali muncul setelah hubungan berakhir, misalnya melalui balasan Story, menyukai unggahan lama, atau mengirim pesan bernada rindu untuk menarik perhatian korban kembali.
Peneliti menyebut pola ini dapat terus berulang apabila korban belum membangun batasan digital yang jelas.
Instagram Menjadi Infrastruktur Manipulasi Digital
Penelitian menegaskan bahwa Instagram bukan hanya tempat terjadinya love bombing, tetapi juga menjadi infrastruktur yang mempermudah manipulasi emosional.
Fitur seperti Direct Message memungkinkan komunikasi berlangsung secara privat dan intens. Story dan Story Reply memberi kesempatan bagi pelaku untuk selalu hadir dalam kehidupan korban. Likes dan komentar menciptakan validasi publik, sedangkan fitur blokir dapat digunakan untuk mengakhiri hubungan secara sepihak.
Dengan kata lain, teknologi tidak hanya memfasilitasi komunikasi romantis, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan emosi pasangan.
Pentingnya Literasi Hubungan Digital
Peneliti dari Universitas Sumatera Utara menilai hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penguatan literasi hubungan digital bagi Generasi Z.
Masyarakat perlu memahami bahwa perhatian berlebihan, balasan yang sangat cepat, janji menikah dalam waktu singkat, maupun pujian yang terus-menerus belum tentu menjadi tanda hubungan yang sehat.
Sebaliknya, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- pasangan selalu meminta balasan pesan secepat mungkin;
- muncul rasa cemburu yang berlebihan;
- pasangan mulai mengatur teman dan aktivitas sehari-hari;
- komunikasi digunakan untuk membuat korban merasa bersalah;
- pasangan tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan;
- hubungan kembali dimulai setelah pelaku muncul secara tiba-tiba di media sosial.
Penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya membantu korban lebih cepat mengenali manipulasi dan keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Pernyataan Peneliti
Dewi Suci Khairani bersama tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menyimpulkan bahwa love bombing merupakan bentuk komunikasi interpersonal digital yang berkembang secara bertahap.
Menurut mereka, perhatian yang tampak romantis dapat berubah menjadi alat pengendalian emosional ketika digunakan untuk menciptakan ketergantungan, mengurangi batasan pribadi, serta mengendalikan perilaku pasangan. Karena itu, kemampuan mengenali pola komunikasi manipulatif menjadi bagian penting dari literasi digital bagi Generasi Z.
Profil Singkat Penulis
Dewi Suci Khairani, S.I.Kom. (penulis utama) merupakan peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, dengan fokus kajian pada komunikasi interpersonal, komunikasi digital, media sosial, dan hubungan romantis di era digital.
Humaizi merupakan akademisi di Universitas Sumatera Utara yang memiliki bidang keahlian dalam ilmu komunikasi, komunikasi sosial, dan kajian media digital.
Feni Khairifa merupakan akademisi dari Universitas Sumatera Utara yang menaruh perhatian pada penelitian komunikasi digital, perilaku media sosial, dan dinamika komunikasi Generasi Z.
Sumber Penelitian
Khairani, Dewi Suci, Humaizi, & Feni Khairifa. "Love Bombing Communication Style on Instagram among Generation Z in Medan City." Journal of Social Interactions and Humanities (JSIH), Vol. 5, No. 2, 2026, hlm. 273–292.
DOI: 10.55927/jsih.v5i2.17
Jurnal resmi: https://journaljsih.my.id/index.php/jsih
0 Komentar