Data yang dianalisis mencakup periode 2020–2024, yaitu masa pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19. Dalam periode tersebut, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh Tamiang atas dasar harga konstan meningkat dari sekitar Rp6,01 triliun pada 2020 menjadi Rp6,67 triliun pada 2024. Namun, pertumbuhan tersebut masih tertinggal dibandingkan PDRB Provinsi Aceh yang meningkat 16,87 persen.
Akibat perbedaan laju pertumbuhan tersebut, kontribusi Aceh Tamiang terhadap total PDRB Provinsi Aceh turun dari 4,57 persen pada 2020 menjadi 4,34 persen pada 2024. Artinya, ekonomi Aceh Tamiang memang tumbuh, tetapi pertumbuhannya belum cukup cepat untuk mempertahankan posisi relatifnya di dalam perekonomian Aceh.
Pertanian Masih Menjadi Penopang Utama
Struktur ekonomi Aceh Tamiang masih sangat bergantung pada sektor primer. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor terbesar dengan kontribusi 41,01 persen terhadap PDRB pada 2020. Pada 2024, kontribusinya masih mencapai 39,30 persen.
Pertambangan dan penggalian menempati posisi berikutnya. Namun, kontribusinya turun dari 14,08 persen pada 2020 menjadi 13,01 persen pada 2024.
Di sisi lain, sejumlah sektor mulai menunjukkan perubahan struktural. Industri pengolahan meningkatkan kontribusinya dari 5,75 persen menjadi 6,54 persen. Transportasi dan pergudangan juga mengalami peningkatan cukup besar, dari 2,89 persen menjadi 3,70 persen. Perubahan ini menunjukkan mulai munculnya diversifikasi ekonomi, meskipun dominasi sektor primer masih kuat.
Masalah utama terlihat ketika struktur ekonomi tersebut dibandingkan dengan kemampuan setiap sektor untuk bersaing. Para peneliti menggunakan analisis Shift-Share untuk memisahkan pengaruh pertumbuhan provinsi, struktur industri, dan daya saing lokal. Analisis tersebut kemudian dilengkapi dengan Location Quotient atau LQ untuk mengidentifikasi sektor basis.
Hasilnya menunjukkan nilai proportional shift atau pengaruh struktur industri sebesar minus Rp120,16 miliar. Sementara itu, differential shift yang menggambarkan keunggulan kompetitif lokal juga negatif, mencapai minus Rp228,70 miliar.
Dua angka tersebut menunjukkan bahwa Aceh Tamiang menghadapi dua persoalan sekaligus: struktur ekonominya masih banyak bertumpu pada sektor yang tumbuh relatif lambat, sementara sebagian sektor lokal juga belum mampu bersaing secepat sektor yang sama di tingkat Provinsi Aceh.
Pertanian dan Pertambangan Masuk Kategori Tertinggal
Temuan paling penting muncul dari pemetaan daya saing sektoral. Dari 17 sektor ekonomi, hanya sektor jasa lainnya yang masuk kategori progresif atau Kuadran I, yaitu sektor yang memiliki struktur industri menguntungkan sekaligus daya saing lokal positif.
Enam sektor masuk Kuadran II atau kategori berkembang. Di dalamnya terdapat perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, kesehatan dan kegiatan sosial, akomodasi dan penyediaan makanan-minuman, serta pengelolaan air dan limbah. Sektor-sektor tersebut berada dalam industri yang berkembang di tingkat provinsi, tetapi daya saing lokal Aceh Tamiang masih belum cukup kuat.
Tiga sektor lainnya—industri pengolahan, konstruksi, serta jasa keuangan dan asuransi—masuk kategori potensial atau Kuadran III. Sektor industri pengolahan menjadi perhatian khusus karena memiliki daya saing lokal positif sebesar sekitar Rp62,30 miliar.
Sebaliknya, tujuh sektor masuk kategori tertinggal atau Kuadran IV. Yang paling mengkhawatirkan adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan serta pertambangan dan penggalian karena keduanya merupakan penopang terbesar ekonomi Aceh Tamiang.
Industri Pengolahan Menjadi Peluang Baru
Analisis LQ memperkuat temuan tersebut. Pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki LQ 1,43 pada 2024, sedangkan pertambangan dan penggalian mencapai 1,74. Nilai di atas satu menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut memiliki konsentrasi ekonomi yang lebih tinggi di Aceh Tamiang dibandingkan rata-rata Provinsi Aceh.
Namun, menjadi sektor basis tidak otomatis berarti memiliki daya saing tinggi. Pertanian dan pertambangan justru berada di Kuadran IV. Kondisi ini menciptakan paradoks ekonomi: Aceh Tamiang sangat bergantung pada sektor-sektor tersebut, tetapi sektor yang menjadi fondasi ekonomi justru mengalami pelemahan daya saing relatif.
Industri pengolahan memberikan gambaran berbeda. LQ sektor ini meningkat dari 1,25 pada 2020 menjadi 1,53 pada 2024. Bersamaan dengan itu, sektor industri pengolahan mencatat daya saing lokal positif.
Para peneliti menilai kondisi tersebut membuka peluang untuk mempercepat hilirisasi komoditas lokal. Produk pertanian, perkebunan, pertambangan, dan perikanan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diproses menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Infrastruktur dan Produktivitas Menjadi Kunci
Rahmilia Hadiyani dan rekan-rekannya merekomendasikan agar pemerintah daerah tidak hanya mempertahankan sektor yang selama ini dominan, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan mengubah struktur ekonominya.
Untuk pertanian, langkah yang disarankan mencakup modernisasi, diversifikasi komoditas, intensifikasi produksi, dan peningkatan akses pembiayaan bagi petani. Untuk industri, kebijakan diarahkan pada penguatan hilirisasi komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan hasil perikanan.
Sementara itu, sektor perdagangan, transportasi, pergudangan, serta komunikasi membutuhkan dukungan infrastruktur. Jalan, pelabuhan, dan pusat logistik dinilai penting untuk mengubah potensi pertumbuhan sektor-sektor tersebut menjadi keunggulan kompetitif nyata di tingkat daerah.
Temuan ini juga memberi pesan penting bagi kebijakan pembangunan daerah. Aceh Tamiang tidak sedang mengalami stagnasi absolut karena ekonominya tetap tumbuh 11,07 persen. Persoalannya adalah pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan Provinsi Aceh yang tumbuh 16,87 persen. Dengan kata lain, tantangan utama Aceh Tamiang adalah mengejar ketertinggalan relatif melalui peningkatan produktivitas dan transformasi struktur ekonomi.
Profil Penulis
Rahmilia Hadiyani — Universitas Syiah Kuala, Aceh. Penulis korespondensi dalam artikel dan tercantum dengan afiliasi Universitas Syiah Kuala. Bidang kajian dalam artikel ini berfokus pada struktur ekonomi regional dan daya saing sektoral.
Darlis Azis — Universitas Syiah Kuala, Aceh. Terlibat dalam kajian mengenai dinamika struktur ekonomi dan daya saing sektor ekonomi Aceh Tamiang.
Haikal Syauqan — UIN Ar-Raniry, Aceh. Terlibat dalam analisis struktur dan perkembangan ekonomi regional Aceh Tamiang.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik ketiga penulis maupun profil keahlian yang lebih rinci di luar bidang kajian yang dibahas dalam publikasi.
0 Komentar