Riset Universitas Quality Berastagi: Kombinasi Urine Kambing dan NPK Mutiara Tingkatkan Hasil Panen Pakcoy

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Berastagi- Kombinasi pupuk organik cair berbahan dasar urine kambing dengan pupuk NPK Mutiara terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen pakcoy (Brassica rapa L.). Temuan ini dipublikasikan pada 2026 oleh Sherina Br Bangun, Agus Susanto Ginting, dan Wajib Pandia dari Universitas Quality Berastagi setelah melakukan uji lapangan di Desa Kutagaluh, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Hasil penelitian ini menjadi informasi penting bagi petani karena menawarkan strategi pemupukan yang lebih efektif sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.

Pakcoy merupakan salah satu sayuran daun yang semakin banyak dibudidayakan di Indonesia. Selain memiliki kandungan gizi tinggi seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi, tanaman ini juga memiliki masa panen yang relatif singkat, yakni sekitar 30–40 hari setelah tanam. Tingginya permintaan pasar mendorong petani untuk terus meningkatkan produktivitas, namun di sisi lain penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus berisiko menurunkan kualitas tanah dan meningkatkan biaya produksi.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti Universitas Quality Berastagi mengevaluasi efektivitas kombinasi pupuk organik cair dari urine kambing dengan pupuk NPK Mutiara sebagai alternatif pemupukan yang lebih efisien. Urine kambing dipilih karena mengandung nitrogen, fosfor, kalium, serta senyawa alami yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus memanfaatkan limbah peternakan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Menguji 16 Kombinasi Pemupukan

Penelitian berlangsung pada Desember 2025 hingga Februari 2026 menggunakan rancangan percobaan faktorial. Peneliti mengombinasikan empat konsentrasi pupuk organik cair urine kambing, yaitu 0 ml/L, 75 ml/L, 150 ml/L, dan 225 ml/L, dengan empat dosis pupuk NPK Mutiara, yakni 0 gram, 5 gram, 10 gram, dan 15 gram.

Sebanyak 16 kombinasi perlakuan diuji dengan tiga kali ulangan sehingga menghasilkan 48 unit percobaan yang melibatkan 288 tanaman pakcoy. Selama penelitian, peneliti mengamati tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, bobot basah per sampel, dan bobot basah per plot untuk mengetahui respons tanaman terhadap berbagai kombinasi pupuk.

Kombinasi 75 ml Urine Kambing dan 15 Gram NPK Paling Efektif untuk Pertumbuhan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair urine kambing maupun pupuk NPK Mutiara sama-sama memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan pakcoy. Namun, hasil terbaik untuk sebagian besar parameter pertumbuhan diperoleh pada kombinasi 75 ml/L urine kambing dan 15 gram pupuk NPK Mutiara (U1N3).

Pada kombinasi tersebut, tanaman menghasilkan:

  • Tinggi tanaman mencapai 22,42 cm.
  • Lebar daun mencapai 14,19 cm.
  • Pertumbuhan vegetatif berlangsung lebih optimal dibandingkan sebagian besar perlakuan lainnya.

Sementara itu, jumlah daun tertinggi diperoleh pada kombinasi 75 ml/L urine kambing dan 5 gram NPK Mutiara (U1N1) dengan rata-rata 16 helai daun pada umur lima minggu setelah tanam.

Menurut peneliti, dosis urine kambing yang tidak terlalu tinggi diperkirakan mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah sehingga unsur hara tersedia secara lebih stabil. Ketika dikombinasikan dengan pupuk NPK, tanaman memperoleh pasokan nitrogen, fosfor, dan kalium yang lebih seimbang untuk mendukung pertumbuhan daun dan batang.

Produksi Tertinggi Dicapai pada Dosis Urine Kambing Lebih Tinggi

Menariknya, dosis terbaik untuk menghasilkan biomassa ternyata berbeda dengan dosis terbaik untuk pertumbuhan vegetatif.

Bobot basah tanaman per sampel tertinggi diperoleh pada kombinasi 225 ml/L urine kambing dan 15 gram NPK Mutiara (U3N3) dengan rata-rata 1.233,33 gram. Pada tingkat plot, kombinasi yang sama menghasilkan bobot basah mencapai 7.936,67 gram, tertinggi dibandingkan seluruh perlakuan yang diuji.

Peneliti menjelaskan bahwa ketersediaan nitrogen yang lebih tinggi pada kombinasi tersebut meningkatkan pembentukan klorofil sehingga proses fotosintesis berlangsung lebih intensif. Akibatnya, tanaman menghasilkan lebih banyak biomassa yang berkontribusi terhadap peningkatan hasil panen.

Peluang Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Temuan ini menunjukkan bahwa pupuk organik cair dari urine kambing berpotensi menjadi pelengkap pupuk anorganik dalam budidaya pakcoy. Selain menyediakan unsur hara, pemanfaatan limbah peternakan juga dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Bagi petani, strategi pemupukan kombinasi ini berpotensi meningkatkan produktivitas tanpa sepenuhnya bergantung pada pupuk sintetis. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya mengembangkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan penggunaan kombinasi 75 ml/L urine kambing dan 15 gram pupuk NPK Mutiara sebagai dosis yang paling efektif untuk mendukung pertumbuhan pakcoy. Mereka juga menyarankan penelitian lanjutan untuk menguji dosis yang lebih spesifik serta mengevaluasi efektivitas kombinasi tersebut pada musim dan kondisi lingkungan yang berbeda.

Profil Penulis

Sherina Br Bangun merupakan penulis utama dari Universitas Quality Berastagi yang meneliti bidang budidaya tanaman dan pemupukan pertanian.

Agus Susanto Ginting merupakan dosen dan peneliti di Universitas Quality Berastagi yang memiliki fokus pada ilmu budidaya tanaman dan teknologi pertanian.

Wajib Pandia merupakan akademisi di Universitas Quality Berastagi yang berkontribusi dalam penelitian bidang pertanian dan pengembangan produksi tanaman. Informasi keahlian yang lebih rinci tidak dijelaskan dalam artikel jurnal.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Response of Pakcoy (Brassica rapa L.) Growth and Yield to the Application of Goat Urine and Mutiara NPK Fertilizer

Penulis: Sherina Br Bangun, Agus Susanto Ginting, Wajib Pandia

Afiliasi: Universitas Quality Berastagi

Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 2 (2026)

DOI: https://doi.org/10.55927/ijaea.v5i2.16860

Posting Komentar

0 Komentar