Rasionalitas Penggunaan Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Kabupaten Kediri Tahun 2025

Gambar Ilustrasi AI

Kepatuhan Pengobatan Tuberkulosis di RS Kediri Capai Lebih dari 95 Persen

Penggunaan obat anti-tuberkulosis (OAT) pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kediri menunjukkan tingkat kepatuhan yang sangat tinggi terhadap pedoman nasional. Temuan ini dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) oleh Arifani Siswidiasari, Elly Megasari, Tri Doso Sapto Agus Priyono, dan Neni Probosiwi dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kadiri, Kediri, Indonesia. Hasil penelitian ini penting karena penggunaan obat yang rasional menjadi salah satu kunci keberhasilan pengobatan tuberkulosis sekaligus mencegah munculnya resistensi obat.

Tuberkulosis Masih Menjadi Tantangan Besar

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terutama menyerang paru-paru. Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus TB tertinggi di dunia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip dalam penelitian tersebut menunjukkan terdapat sekitar 877.531 kasus tuberkulosis di Indonesia, dengan Provinsi Jawa Timur menempati urutan kedua terbanyak, yaitu 130.683 kasus.

Keberhasilan pengobatan TB tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga pada ketepatan pemberian terapi. Kesalahan dalam memilih obat, menentukan dosis, atau lamanya pengobatan dapat menyebabkan kegagalan terapi, kekambuhan, hingga munculnya tuberkulosis resistan obat yang jauh lebih sulit dan mahal untuk diobati.

Karena itu, tim peneliti dari Universitas Kadiri mengevaluasi apakah penggunaan obat anti-tuberkulosis di RSUD Kabupaten Kediri telah sesuai dengan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.

Evaluasi Berdasarkan Rekam Medis Pasien

Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medis pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan selama tahun 2025.

Sebanyak 62 pasien yang memenuhi kriteria penelitian dianalisis. Peneliti kemudian mengevaluasi enam indikator utama rasionalitas penggunaan obat, yaitu:

  • ketepatan pasien;
  • ketepatan indikasi;
  • ketepatan pemilihan obat;
  • ketepatan dosis;
  • ketepatan lama pemberian obat; dan
  • ketepatan cara pemberian obat.

Seluruh data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui tingkat kepatuhan terhadap pedoman nasional pengobatan tuberkulosis.

Mayoritas Pasien Berusia Produktif dan Memiliki Diabetes

Karakteristik pasien menunjukkan bahwa:

  • 62,90% pasien berjenis kelamin laki-laki;
  • kelompok usia terbanyak adalah 46–55 tahun (32,26%);
  • 38,71% berpendidikan SMP;
  • 32,26% bekerja sebagai wiraswasta;
  • 58,06% memiliki penyakit penyerta diabetes melitus; dan
  • 85,48% sedang menjalani terapi kategori 1 atau fase intensif.

Tingginya jumlah pasien TB dengan diabetes melitus menjadi perhatian tersendiri karena diabetes diketahui dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, memperlambat proses penyembuhan, serta meningkatkan risiko kekambuhan tuberkulosis.

Tingkat Kepatuhan Terapi Sangat Tinggi

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar terapi yang diberikan telah sesuai dengan standar nasional.

Persentase rasionalitas penggunaan obat anti-tuberkulosis adalah sebagai berikut:

  • Ketepatan pasien: 100%
  • Ketepatan indikasi: 100%
  • Ketepatan cara pemberian obat: 100%
  • Ketepatan lama pengobatan: 98,39%
  • Ketepatan pemilihan obat: 96,77%
  • Ketepatan dosis: 95,16%

Angka tersebut menunjukkan bahwa dokter di RSUD Kabupaten Kediri secara umum telah memberikan terapi sesuai pedoman pengobatan tuberkulosis yang berlaku di Indonesia.

Meski demikian, penelitian masih menemukan beberapa kasus yang perlu mendapat perhatian. Tiga pasien menerima dosis yang belum sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi berdasarkan berat badan dan kategori pengobatan. Dua pasien memperoleh pilihan regimen yang berbeda dari pedoman nasional, sedangkan satu pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya sehingga dikategorikan sebagai pasien putus berobat (drop out).

Mengapa Rasionalitas Penggunaan Obat Sangat Penting?

Penggunaan obat anti-tuberkulosis secara rasional merupakan salah satu strategi utama dalam pengendalian TB.

Pemberian obat yang tepat dapat:

  • meningkatkan keberhasilan terapi;
  • mempercepat kesembuhan pasien;
  • menurunkan risiko efek samping obat;
  • mencegah terjadinya resistensi antibiotik;
  • mengurangi risiko penularan kepada masyarakat; dan
  • menekan angka kekambuhan penyakit.

Sebaliknya, kesalahan dosis atau penghentian pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan bakteri tetap bertahan hidup dan berkembang menjadi kebal terhadap obat yang tersedia.

Memberikan Gambaran Positif bagi Layanan Kesehatan

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di RSUD Kabupaten Kediri telah berjalan dengan baik. Evaluasi seperti ini penting dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Bagi tenaga kesehatan, hasil penelitian menjadi bukti bahwa kepatuhan terhadap pedoman klinis mampu meningkatkan kualitas pengobatan pasien. Bagi pengelola rumah sakit, evaluasi rasionalitas penggunaan obat dapat digunakan sebagai dasar perbaikan sistem pengawasan terapi.

Sementara itu, bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini mendukung pentingnya penguatan program pengendalian tuberkulosis, termasuk pelatihan tenaga kesehatan, audit penggunaan obat, serta integrasi layanan TB dengan penanganan penyakit penyerta seperti diabetes melitus.

Pandangan Peneliti

Arifani Siswidiasari dan tim peneliti dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri menyimpulkan bahwa penggunaan obat anti-tuberkulosis di RSUD Kabupaten Kediri secara umum telah sesuai dengan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Tingginya tingkat ketepatan pasien, indikasi, pemilihan obat, dosis, durasi, dan cara pemberian menunjukkan bahwa pelayanan terapi TB telah dilaksanakan sesuai prinsip penggunaan obat yang rasional sehingga berpotensi meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus menekan risiko resistensi obat.

Profil Penulis

Arifani Siswidiasari, S.Farm., Apt. merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kadiri, Kediri. Bidang keahliannya meliputi farmasi klinis, evaluasi penggunaan obat, pelayanan kefarmasian, dan terapi penyakit infeksi. Penelitian ini juga melibatkan Elly Megasari, Tri Doso Sapto Agus Priyono, dan Neni Probosiwi, yang berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri dan memiliki kompetensi di bidang farmasi serta pelayanan kesehatan.Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar