Persepsi Publik terhadap Underpass Joglo Solo Positif, tetapi Komunikasi Digital Menentukan Kepercayaan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surakarta - Persepsi masyarakat terhadap pembangunan Underpass Joglo di Kota Solo cenderung positif karena infrastruktur tersebut dinilai mampu mengurangi kemacetan, meningkatkan aksesibilitas, memperlancar mobilitas, dan mendorong aktivitas ekonomi lokal. Temuan ini diungkap dalam penelitian Haryo Kusumo Aji dan Christian Andhika Pramudia dari Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Penelitian yang mengkaji percakapan publik di media sosial, wawancara, survei daring, dan observasi lapangan ini dipublikasikan pada 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan infrastruktur perkotaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas fisiknya, tetapi juga oleh cara pemerintah berkomunikasi dan merespons masyarakat di era digital.

Solo, atau secara resmi disebut Surakarta, dikenal sebagai salah satu kota budaya dan pariwisata penting di Indonesia. Kota ini memiliki tradisi Jawa, seni, dan warisan sejarah yang kuat. Di sisi lain, perkembangan kota menuntut adanya infrastruktur modern yang mampu mendukung mobilitas warga sekaligus meningkatkan akses wisatawan.

Salah satu proyek infrastruktur yang paling banyak mendapat perhatian adalah Underpass Joglo. Infrastruktur ini diresmikan pada 11 Januari 2025 untuk membantu mengurangi kemacetan di wilayah utara Kota Solo, memperbaiki konektivitas antardaerah, serta mendukung transformasi Solo sebagai kota modern dan ramah wisatawan.

Sebelum pembangunan underpass, kawasan Simpang Joglo dikenal sebagai salah satu titik kemacetan utama di Solo. Namun, proyek berskala besar tersebut juga memunculkan beragam tanggapan masyarakat, mulai dari dukungan hingga kritik terkait dampak sosial, ekonomi, lingkungan, dan identitas budaya kota.

Media Sosial Menjadi Ruang Utama Pembentukan Opini Publik

Penelitian Haryo Kusumo Aji dan Christian Andhika Pramudia menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara masyarakat merespons kebijakan pembangunan. Masyarakat tidak lagi hanya menerima informasi satu arah dari pemerintah. Melalui platform seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan TikTok, warga dapat menyampaikan pengalaman, kritik, dukungan, dan saran secara langsung.

Perhatian publik terhadap Underpass Joglo semakin besar setelah beredar video viral yang memperlihatkan genangan air di sekitar kawasan proyek pada Desember 2024. Peristiwa tersebut memicu diskusi mengenai sistem drainase dan dampak lingkungan pembangunan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan komunikasi publik yang transparan dan partisipatif. Informasi resmi pemerintah menjadi salah satu sumber pembentukan opini, tetapi pengalaman langsung masyarakat dan konten yang dibuat pengguna media sosial juga memiliki pengaruh besar.

Pengalaman Langsung Mendorong Persepsi Positif

Secara umum, masyarakat memberikan penilaian positif terhadap Underpass Joglo. Faktor paling kuat yang membentuk persepsi tersebut adalah pengalaman langsung setelah infrastruktur mulai digunakan.

Warga merasakan waktu tempuh yang lebih singkat dan arus lalu lintas yang lebih lancar. Pengemudi transportasi daring dan pekerja kantoran menjadi kelompok yang banyak merasakan manfaat dari peningkatan efisiensi mobilitas.

Salah satu responden menyebutkan bahwa perjalanan yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk melewati persimpangan tersebut kini dapat ditempuh hanya dalam beberapa menit.

Dampaknya juga dirasakan oleh pelaku usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan. Akses yang lebih mudah meningkatkan kunjungan pelanggan dan membuat lokasi usaha menjadi lebih terlihat.

Selain menghemat waktu perjalanan, infrastruktur ini juga berpotensi mengurangi biaya operasional dan konsumsi bahan bakar. Mobilitas yang lebih lancar membuat perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, fasilitas umum, dan wilayah lain di Solo menjadi lebih nyaman.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa Underpass Joglo memberikan dampak sosial dan ekonomi. Infrastruktur ini meningkatkan interaksi antarkawasan, memperluas mobilitas masyarakat, membantu distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan daya tarik kota bagi kegiatan pariwisata dan investasi.

Kritik Tetap Muncul pada Drainase, Pemeliharaan, dan Identitas Budaya

Meskipun persepsi masyarakat secara umum positif, sejumlah persoalan masih menjadi perhatian. Kritik terutama berkaitan dengan sistem drainase, potensi genangan, pemeliharaan infrastruktur, keselamatan jalan, dan aspek estetika.

Sebagian masyarakat juga menilai bahwa desain Underpass Joglo belum sepenuhnya menampilkan identitas budaya Solo. Minimnya ornamen budaya dan elemen visual yang mencerminkan karakter kota menjadi salah satu catatan yang muncul dalam penelitian.

Persepsi masyarakat juga berubah sesuai tahapan pembangunan. Pada tahap sebelum pembangunan, masyarakat optimistis terhadap potensi penyelesaian masalah kemacetan, tetapi tetap mengkhawatirkan dampak sosial dan lingkungan. Saat pembangunan berlangsung, muncul persepsi yang beragam karena adanya pengalihan lalu lintas, kebisingan, dan ketidakpastian durasi pekerjaan.

Setelah underpass beroperasi, persepsi positif menjadi lebih dominan karena masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya. Namun, persoalan teknis seperti drainase dan pemeliharaan tetap berpengaruh terhadap kepercayaan publik dalam jangka panjang.

Lima Faktor Membentuk Persepsi Masyarakat

Penelitian ini mengidentifikasi lima faktor utama yang memengaruhi persepsi publik terhadap Underpass Joglo.

Pertama, pengalaman langsung menjadi faktor paling dominan. Masyarakat cenderung memberikan penilaian positif ketika mereka benar-benar merasakan manfaat pembangunan.

Kedua, kredibilitas dan aksesibilitas informasi. Informasi pemerintah yang jelas, terbuka, dan mudah diakses dapat memperkuat kepercayaan masyarakat.

Ketiga, interaksi sosial dan opini komunitas. Percakapan antarwarga, termasuk melalui media sosial, turut memperkuat atau mengubah pandangan masyarakat.

Keempat, nilai budaya dan identitas kota. Penerimaan publik meningkat ketika pembangunan dianggap selaras dengan karakter dan budaya Solo.

Kelima, respons pemerintah terhadap masalah dan krisis. Kecepatan serta kejelasan pemerintah dalam merespons persoalan seperti genangan air dan kritik publik berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat.

Komunikasi Digital Menjadi Bagian dari Tata Kelola Kota

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya perbedaan gaya komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Pemerintah cenderung menyampaikan informasi dengan bahasa teknis dan formal, terutama mengenai kemajuan pembangunan dan manfaat infrastruktur. Sementara itu, masyarakat lebih banyak berbicara berdasarkan pengalaman sehari-hari, perasaan, foto, video, dan persoalan praktis yang mereka hadapi.

Konten yang dibuat oleh masyarakat sering kali lebih mudah dipahami karena menunjukkan kondisi nyata di lapangan. Perbedaan antara bahasa teknis pemerintah dan bahasa pengalaman masyarakat dapat menimbulkan kesenjangan informasi.

Karena itu, Aji dan Pramudia menilai komunikasi digital harus dipandang sebagai bagian penting dari tata kelola pembangunan kota. Pemerintah perlu memperkuat komunikasi dua arah melalui media sosial, papan informasi publik, serta forum tatap muka.

Respons cepat terhadap kritik dan persoalan teknis juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik.

Underpass Joglo Berpotensi Memperkuat Branding Pariwisata Solo

Selain mengatasi persoalan transportasi, Underpass Joglo memiliki potensi untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Solo.

Akses yang lebih baik dapat memudahkan perjalanan menuju berbagai destinasi seperti Pasar Gede, Keraton Kasunanan, Boyolali, dan Karanganyar. Infrastruktur ini juga dapat memperkuat citra Solo sebagai kota modern yang tetap memiliki identitas budaya.

Namun, para peneliti menilai potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Underpass Joglo dapat lebih terintegrasi dengan strategi branding pariwisata melalui penambahan ornamen budaya, pencahayaan tematik, pemanfaatan konten buatan pengguna, serta integrasi dengan rute wisata dan berbagai kegiatan budaya.

Dengan strategi tersebut, Underpass Joglo tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transportasi. Infrastruktur ini juga dapat berkembang menjadi ikon visual dan bagian dari narasi digital Kota Solo.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan kota tidak hanya ditentukan oleh beton, jalan, dan teknologi konstruksi. Kepercayaan masyarakat juga dibangun melalui komunikasi yang transparan, keterlibatan publik, penghormatan terhadap identitas budaya, dan respons pemerintah terhadap persoalan yang muncul.

Bagi Solo dan kota-kota lain yang sedang mengembangkan infrastruktur untuk mendukung pariwisata, Underpass Joglo memberikan pelajaran penting. Infrastruktur yang baik dapat memperlancar mobilitas dan mendorong ekonomi lokal, tetapi legitimasi jangka panjangnya bergantung pada sejauh mana masyarakat merasa didengar, mendapatkan informasi yang jelas, dan dilibatkan dalam proses perubahan kota.

Profil Penulis

Haryo Kusumo Aji merupakan peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Indonesia. Bidang kajiannya mencakup komunikasi publik, persepsi masyarakat, komunikasi digital, pembangunan infrastruktur, dan komunikasi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Christian Andhika Pramudia merupakan peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Indonesia. Kajian akademiknya berkaitan dengan ilmu komunikasi dan komunikasi publik dalam konteks pembangunan perkotaan dan sosial.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Public Perception Toward Infrastructure Development in Solo City as a Tourism Destination through Digital Communication: A Case Study of Social Media Discourse on the Joglo Underpass Project

Penulis: Haryo Kusumo Aji dan Christian Andhika Pramudia

Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)

Tahun publikasi: 2026

Volume: 5, Nomor 7, halaman 1229–1242

DOI: 10.55927/ijar.v5i7.16908

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar