Pendampingan Bisnis Universitas Wiraraja Berhasil Dongkrak Produksi dan Penjualan Jajanan Tradisional Gambir Sumenep


Ilustrasi by AI 

Sebuah program pendampingan bisnis komprehensif yang diinisiasi oleh tim peneliti dari Universitas Wiraraja terbukti berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) jajanan tradisional khas Kabupaten Sumenep. Riset aksi lapangan ini digawangi oleh Nova Manda Amelia bersama Aprilya Dwi Yandari sebagai corresponding author, serta melibatkan sebelas peneliti lainnya dari universitas yang sama. Dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026, intervensi strategis ini menyasar UMKM Ayien, salah satu produsen kue tradisional Gambir di Desa Pagar Batu, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa digitalisasi pemasaran dan standardisasi manajemen keuangan mampu menyelamatkan produk kuliner warisan lokal dari risiko stagnasi pasar.

Menyelamatkan Kuliner Warisan Madura Lewat Digitalisasi

Sektor UMKM merupakan pilar krusial perekonomian nasional yang menyumbang sekitar 61% Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap hingga 97% total tenaga kerja di Indonesia. Di tingkat regional seperti Kabupaten Sumenep, pelaku usaha kecil menjadi motor penggerak ekonomi karena mampu memanfaatkan bahan baku lokal dan menyerap tenaga kerja sekitar. Salah satu komoditas warisan budaya kuliner Madura yang potensial adalah kue Gambir, jajanan renyah bercita rasa manis berbahan dasar tepung terigu, gula, dan telur.

Sayangnya, pelaku usaha mikro di perdesaan kerap kali terbentur oleh masalah klasik. UMKM Ayien, yang telah memproduksi kue Gambir sejak tahun 2020, sebelumnya mengalami keterbatasan volume produksi akibat ketergantungan pada peralatan manual. Selain itu, sistem pemasaran yang dijalankan masih bersifat konvensional, yakni hanya mengandalkan transaksi tatap muka atau promosi dari mulut ke mulut (word of mouth). Kelemahan ini diperparah oleh ketiadaan catatan finansial yang terstruktur, di mana penentuan harga jual produk selama ini hanya didasarkan pada estimasi kasar.

Tujuh Tahapan Transformasi Bisnis di Lapangan

Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, tim peneliti Universitas Wiraraja menerapkan metode pendekatan kualitatif deskriptif yang terstruktur. Data dikumpulkan melalui teknik observasi langsung, wawancara mendalam bersama pemilik usaha yakni Ibu Ayin, serta dokumentasi seluruh proses intervensi bisnis.

Proses pendampingan di lapangan dibagi ke dalam tujuh tahapan sistematis berikut:

  • Persiapan Internal: Koordinasi rencana pelaksanaan bersama Dosen Pendamping Lapangan (DPL) serta penyusunan instrumen wawancara.
  • Observasi dan Identifikasi Awal: Kunjungan pertama untuk menganalisis alur produksi manual kue Gambir dan memetakan masalah utama mitra.
  • Penentuan Program Kerja: Perumusan judul artikel ilmiah dan penyusunan rencana aksi pemecahan masalah berdasarkan temuan lapangan.
  • Praktik Produksi dan Promosi Langsung: Tim peneliti terlibat langsung dalam proses pembuatan produk, berdiskusi mengenai peningkatan higienitas, hingga melakukan siaran langsung (live) di TikTok untuk mempromosikan produk secara riil.
  • Pengembangan Identitas dan Strategi: Dialog mendalam guna merancang konsep logo kemasan baru serta menyusun strategi perluasan pasar secara digital.
  • Optimasi Digital dan Sinkronisasi Lokasi: Pelatihan penggunaan platform e-commerce serta melakukan sinkronisasi titik koordinat Google Maps (Google Business Profile) agar lokasi usaha mudah ditemukan konsumen.
  • Edukasi Lanjutan dan Keuangan: Pemberian literasi keuangan berupa pendampingan penyusunan laporan keuangan UMKM yang standar serta evaluasi akhir.

Hasil Nyata: Produksi Melonjak 30% dan Laporan Keuangan Mulai Tertata

Intervensi berkala selama kurang lebih dua bulan ini membuahkan hasil yang signifikan pada seluruh aspek operasional UMKM Ayien.

Peningkatan Kapasitas Produksi dan Varian Produk

Berkat optimasi proses pembuatan, kapasitas produksi kue Gambir melonjak hingga 30%. Dari yang awalnya hanya mampu memproduksi 40 hingga 50 bungkus per bulan, kini UMKM Ayien mampu menghasilkan 100 hingga 150 bungkus per bulan. Tidak hanya itu, tim peneliti juga membantu standardisasi resep demi menjaga konsistensi rasa dan mendiversifikasi produk menjadi empat varian rasa: original, cokelat, pandan, dan keju. Inovasi juga menyasar optimalisasi produk pendukung yang unik berbahan dasar ulat sutra dengan rasa gurih yang diminati pasar.

Perubahan Kemasan dan Pemasaran Modern

Kemasan plain plastik transparan yang lama diganti dengan standing pouch modern yang dilengkapi label informatif. Label baru ini memuat nama produk, merek, komposisi, berat bersih, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, hingga kontak penjual. Untuk pemasaran, jangkauan penjualan kini melebar ke ranah nasional melalui platform digital seperti TikTok Shop dan Instagram, didukung oleh akurasi titik Google Maps yang memperkuat kredibilitas bisnis di internet.

Pengelolaan Keuangan Berbasis Data

Aspek paling transformatif terlihat dari migrasi pola pikir pemilik usaha dari yang semula berbasis asumsi menjadi berbasis data (data-driven). Tim peneliti menyusun pembukuan keuangan tahunan yang rapi dan terstandardisasi.

Laporan laba rugi tahunan yang berhasil dibukukan mencerminkan struktur finansial usaha yang sehat:

Kategori KeuanganNilai Akun Terverifikasi (IDR)
Pendapatan Penjualan Kue Gambir

10.200.000

Pendapatan Penjualan Ulat Sutra

13.200.000

Total Pendapatan Usaha (1 Tahun)

23.400.000

Harga Pokok Penjualan (HPP / COGS)

16.920.000

Laba Kotor (Gross Profit)

6,480,000

Laba Bersih Tahunan (Net Profit)

6.360.000

Saldo Kas Akhir (Ending Cash)

6.250.000

Rekomendasi Kebijakan untuk Keberlanjutan UMKM Daerah

Keberhasilan program Universitas Wiraraja ini membuktikan bahwa edukasi berkelanjutan mampu mengerek performa bisnis mikro perdesaan secara drastis. Hasil studi ini merekomendasikan pentingnya keterlibatan aktif dari pemerintah daerah setempat dalam hal fasilitasi sertifikasi produk resmi (seperti BPOM dan Halal), penyediaan akses permodalan yang ramah, serta penyelenggaraan program inkubasi bisnis yang konsisten. Selain itu, kolaborasi antar-pelaku UMKM kue Gambir di Sumenep perlu didorong untuk membentuk sebuah kluster atau sentra produksi terpadu demi meningkatkan efisiensi dan daya saing kolektif di pasar nasional.

Profil Tim Peneliti Universitas Wiraraja

Riset aksi dan pendampingan bisnis ini diselesaikan oleh kelompok peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Wiraraja, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Indonesia.

  • Nova Manda Amelia merupakan peneliti utama yang berfokus pada strategi operasional usaha mikro, pengembangan produk lokal, dan program pemberdayaan UMKM perdesaan.
  • Aprilya Dwi Yandari adalah akademisi senior sekaligus corresponding author di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wiraraja yang memiliki keahlian di bidang manajemen pemasaran regional, literasi keuangan usaha kecil, dan pengembangan industri kreatif.
  • Anggota Tim Peneliti: Nanda Yudistio, Syalinda Nur Azizah, Miftahul Ulum, Rendian Saputra, Adi Wahyudi, Selviana Ulfa, Siti Cholifatul Choir, Alvina Sofia Fajrin, Melissa Fellicia Shirati Nurdiana, Zayidah Amatillah Aziziyah, dan Fadilah Sriwahyuni merupakan staf peneliti spesialis pemberdayaan ekonomi masyarakat dan integrasi pemasaran digital.

Informasi Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: Business Assistance for MSMEs in Increasing Production and Sales of Gambir Traditional Snacks, a Specialty of Sumenep Regency
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Society Development (IJSD)
Tahun Publikasi: 2026
Volume & Halaman: Vol. 5, No. 3, Halaman 223–234
Tautan Resmi DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i3.22
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index

Posting Komentar

0 Komentar