Davao Oriental – Sampah makroplastik terus menumpuk di kawasan hutan mangrove dan mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir. Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Marlone M. Barrete dari Davao Oriental State University, yang dipublikasikan pada tahun 2026. Penelitian menemukan bahwa limbah plastik sekali pakai, seperti bungkus makanan, selofan, dan botol plastik, mendominasi jenis sampah yang ditemukan di kawasan mangrove Baganga, Davao Oriental, Filipina. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih efektif untuk melindungi ekosistem mangrove yang berperan penting sebagai pelindung pantai dan habitat berbagai organisme laut.
Pencemaran plastik telah menjadi salah satu persoalan lingkungan paling serius di dunia. Meningkatnya produksi plastik, tingginya penggunaan produk sekali pakai, serta sistem pengelolaan sampah yang belum optimal menyebabkan limbah plastik terus mengalir ke sungai, pesisir, dan laut. Di Filipina, kondisi tersebut semakin diperparah oleh garis pantai yang sangat panjang, curah hujan tinggi, banyaknya aliran sungai, serta keterbatasan sistem pengumpulan dan daur ulang sampah. Akibatnya, sampah rumah tangga maupun limbah dari aktivitas perikanan mudah terbawa menuju kawasan mangrove dan menetap dalam waktu yang lama.
Mangrove memiliki sistem akar yang rapat sehingga mampu menangkap sedimen sekaligus berbagai jenis sampah yang terbawa arus laut maupun sungai. Meskipun kemampuan tersebut membantu mengurangi perpindahan sampah ke wilayah laut terbuka, penumpukan plastik dalam jangka panjang justru dapat mengganggu fungsi ekologis mangrove. Plastik yang menutupi permukaan sedimen dapat menghambat pertukaran gas, merusak sistem perakaran, menghambat pertumbuhan bibit mangrove, hingga menurunkan tingkat kelangsungan hidup vegetasi pesisir.
Untuk mengetahui kondisi pencemaran tersebut, peneliti melakukan survei lapangan di kawasan mangrove Barangay Lucod dan Barangay Kinablangan, Baganga, Davao Oriental. Penelitian menggunakan tiga jalur pengamatan (transect) yang dibagi ke dalam beberapa plot pengambilan sampel. Seluruh sampah plastik berukuran lebih dari 5 milimeter dihitung, diklasifikasikan berdasarkan jenisnya, ditimbang massanya, serta didokumentasikan menggunakan foto dan titik koordinat geografis (geotag). Data kemudian dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan jumlah, massa, komposisi, dan persebaran sampah makroplastik di setiap lokasi pengamatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 317 potongan sampah makroplastik dengan massa total mencapai 9.625,5 gram di seluruh lokasi penelitian. Jalur pengamatan pertama mencatat jumlah sampah terbanyak, yaitu 208 potongan dengan massa 4.714,5 gram. Jalur kedua hanya memiliki 65 potongan, tetapi massanya hampir sama besar, yakni 4.036 gram, karena didominasi benda-benda berukuran besar seperti karung plastik dan ban bekas. Sementara itu, jalur ketiga mencatat 44 potongan dengan massa 875 gram, sehingga menjadi lokasi dengan tingkat pencemaran terendah di antara ketiga lokasi penelitian.
Penelitian menemukan bahwa bungkus makanan merupakan jenis sampah yang paling banyak ditemukan dengan 97 potongan, disusul selofan, pembungkus plastik, dan botol minuman. Walaupun sampah-sampah tersebut memiliki massa yang relatif ringan, jumlahnya sangat mendominasi sehingga menunjukkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai oleh masyarakat. Sebaliknya, limbah berukuran besar seperti karung plastik, ban bekas, terpal, dan material lainnya memberikan kontribusi terbesar terhadap total massa sampah meskipun jumlahnya lebih sedikit. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran berasal dari berbagai sumber, mulai dari aktivitas rumah tangga, kegiatan perikanan, usaha kecil, hingga pembuangan sampah secara langsung ke lingkungan.
Menurut Marlone M. Barrete, persebaran plastik sekali pakai di seluruh jalur pengamatan menunjukkan bahwa pencemaran tidak hanya berasal dari satu titik pembuangan. Sampah ringan mudah terbawa oleh angin, aliran sungai, limpasan air hujan, maupun pasang surut laut sebelum akhirnya tersangkut pada akar-akar mangrove. Sebaliknya, benda-benda yang lebih berat cenderung menunjukkan adanya aktivitas pembuangan sampah di lokasi yang relatif dekat dengan kawasan mangrove. Pola tersebut memperlihatkan bahwa pencemaran dipengaruhi oleh kombinasi aktivitas masyarakat lokal dan proses transportasi alami dari wilayah sekitarnya.
Penelitian juga mengingatkan bahwa keberadaan sampah makroplastik berpotensi memunculkan persoalan yang lebih besar di masa depan. Plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan perubahan suhu akan terurai menjadi mikroplastik yang jauh lebih sulit dibersihkan. Partikel mikroplastik tersebut dapat masuk ke rantai makanan melalui ikan, kerang, maupun organisme laut lainnya sehingga berpotensi mengancam kesehatan ekosistem dan manusia. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan peningkatan layanan pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, program pengumpulan kembali alat tangkap ikan yang rusak, penegakan aturan terhadap pembuangan sampah ilegal, serta pelaksanaan kegiatan pembersihan dan pemantauan mangrove secara rutin.
Profil Penulis
Marlone M. Barrete — Davao Oriental State University, Filipina.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Macroplastic Pollution in Mangrove Ecosystems of Baganga, Davao Oriental, Philippines
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.244
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar