Longsor tebing sungai menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan infrastruktur di kawasan yang mengalami perubahan muka air sungai secara ekstrem. Di Bojonegoro, perubahan debit sungai yang cepat menyebabkan tekanan air di dalam tanah berubah drastis sehingga meningkatkan risiko runtuhnya lereng. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam jalan dan bangunan di sekitar sungai, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat apabila tidak segera ditangani.
Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa kondisi tebing eksisting berada dalam kategori tidak aman. Analisis terhadap enam penampang lereng (P1–P6) memperlihatkan hampir seluruh lokasi memiliki Factor of Safety (FoS) di bawah batas minimum 1,50 yang dipersyaratkan. Penampang P3 menjadi lokasi paling kritis dengan nilai keamanan yang sangat rendah sehingga memerlukan penguatan struktur secara menyeluruh.
Untuk merancang solusi yang tepat, tim peneliti melakukan investigasi lapangan melalui pengeboran tanah di tiga titik, pengujian laboratorium, serta uji permeabilitas. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam perangkat lunak GEO5 guna mensimulasikan perilaku tanah dan struktur pengaman dalam berbagai kondisi lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengevaluasi performa struktur secara lebih realistis sebelum diterapkan di lapangan.
Penelitian menguji tiga skenario utama yang mewakili kondisi sungai sepanjang tahun, yaitu:
- Kondisi normal (C1) ketika muka air berada pada kondisi alami.
- Kondisi banjir (C2) saat tekanan air sungai meningkat.
- Rapid drawdown (C3) ketika permukaan air sungai turun dengan sangat cepat setelah banjir.
Skenario terakhir menjadi perhatian utama karena sering terjadi setelah debit sungai menurun secara mendadak, sementara tekanan air di dalam tanah belum sempat berkurang. Kondisi ini menyebabkan lereng kehilangan penyangga alami dari air sungai sehingga potensi longsor meningkat tajam.
Simulasi menunjukkan bahwa dinding bronjong atau gabion wall bekerja dengan baik pada kondisi normal. Struktur tersebut memenuhi persyaratan stabilitas terhadap guling, geser, dan daya dukung pondasi sesuai SNI 8460:2017. Namun, ketika diuji pada kondisi banjir dan terutama rapid drawdown, stabilitas gabion tanpa tambahan penguatan mengalami penurunan yang signifikan. Pada salah satu penampang, nilai keamanan terhadap guling turun hingga 0,54, sedangkan keamanan terhadap geser hanya 0,26, jauh di bawah batas yang diizinkan.
Menurut peneliti, penyebab utama kondisi tersebut adalah sifat tanah lempung lanauan di lokasi penelitian yang memiliki permeabilitas sangat rendah. Air di dalam tanah tidak dapat keluar dengan cepat ketika permukaan sungai turun secara tiba-tiba sehingga tekanan pori tetap tinggi. Akibatnya, kekuatan tanah menurun dan lereng menjadi lebih mudah longsor.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, penelitian mengembangkan sistem perlindungan terpadu yang menggabungkan tiga komponen utama, yaitu gabion sebagai pelindung permukaan, Flat Concrete Sheet Pile (FCSP) sebagai penahan deformasi lereng, serta mini pile sebagai fondasi tambahan. Kombinasi ini terbukti meningkatkan kemampuan struktur dalam menahan tekanan tanah dan beban lingkungan yang berubah-ubah.
Hasil verifikasi menunjukkan bahwa FCSP memiliki kapasitas struktur yang memadai. Simulasi menghasilkan momen lentur maksimum sebesar 26,95 kN·m/m dan gaya geser maksimum 22,06 kN/m, masih berada dalam batas aman desain. Selain itu, sistem memperoleh Factor of Safety terhadap tekanan tanah pasif sebesar 9,18, jauh melampaui syarat minimum 1,50, sehingga menunjukkan cadangan keamanan yang tinggi untuk penggunaan jangka panjang.
Penelitian juga menemukan bahwa perpindahan maksimum struktur FCSP hanya mencapai sekitar 14,6 milimeter, yang menunjukkan deformasi masih berada dalam batas yang dapat diterima. Dengan demikian, struktur tetap mempertahankan integritasnya meskipun menghadapi kondisi hidrologi yang paling berat.
Berdasarkan keseluruhan analisis, tim peneliti menyimpulkan bahwa sistem perlindungan tebing sungai yang mengombinasikan gabion, mini pile, dan FCSP merupakan solusi teknik yang paling efektif untuk lokasi penelitian di Desa Ledok Kulon. Sistem tersebut dinilai memenuhi ketentuan SNI 8460:2017 dan mampu meningkatkan stabilitas lereng secara signifikan dibandingkan kondisi eksisting.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi pengelolaan infrastruktur sungai di Indonesia. Banyak wilayah yang memiliki karakteristik tanah serupa serta mengalami fluktuasi muka air sungai berpotensi menghadapi risiko longsor yang sama. Pendekatan desain berbasis investigasi geoteknik dan simulasi numerik seperti yang digunakan dalam penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, konsultan, maupun kontraktor dalam merancang sistem perlindungan tebing yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
Wahyu Nursamhuda dan Hendrik Richard menegaskan bahwa kondisi rapid drawdown merupakan fase yang paling berbahaya dalam stabilitas tebing sungai. Oleh karena itu, perencanaan struktur pengaman tidak cukup hanya mempertimbangkan kondisi normal atau banjir, tetapi juga harus mampu mengantisipasi penurunan muka air secara cepat agar risiko longsor dapat diminimalkan.
Profil Penulis
Wahyu Nursamhuda merupakan akademisi dari Universitas Kristen Cipta Wacana yang memiliki fokus penelitian pada bidang teknik sipil, geoteknik, stabilitas lereng, dan rekayasa perlindungan tebing sungai.
Hendrik Richard adalah dosen dan peneliti di Universitas Kristen Cipta Wacana dengan bidang keahlian rekayasa struktur, geoteknik, dan perencanaan infrastruktur sipil, khususnya pengembangan sistem perlindungan lereng menggunakan analisis numerik. (Bidang keahlian disusun berdasarkan topik penelitian yang dipublikasikan dalam artikel.)
Sumber Penelitian
Judul artikel: Design and Planning of Riverbank Protection in Ledok Kulon Village, Bojonegoro
Penulis: Wahyu Nursamhuda, Hendrik Richard
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4 No. 7, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i7.21
URL Jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar