Maraknya penggunaan media sosial di kalangan remaja tidak hanya membawa manfaat dalam berkomunikasi, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran ujaran kebencian (hate speech) di ruang digital. Menjawab tantangan tersebut, Nurul Fauziah dan Nada Farah Amrudhia dari Universitas Pamulang melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan komunikasi strategis bagi siswa SMK Ikhlas Jawilan, Kabupaten Serang, Banten. Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang ujaran kebencian sekaligus membangun kemampuan berkomunikasi secara lebih etis, kritis, dan bertanggung jawab di media sosial.
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja. Namun, tingginya intensitas penggunaan platform digital juga diikuti dengan meningkatnya penyebaran ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), provokasi, dan diskriminasi berbasis identitas. Rendahnya literasi digital serta kurangnya pemahaman mengenai etika komunikasi membuat sebagian remaja rentan menjadi pelaku maupun korban perilaku negatif tersebut.
Melihat kondisi tersebut, tim dari Universitas Pamulang menyelenggarakan pelatihan bagi siswa kelas X Program Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Ikhlas Jawilan. Program dilaksanakan menggunakan metode partisipatif yang menggabungkan penyuluhan, diskusi interaktif, studi kasus, simulasi, dan role play. Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata di media sosial.
Materi pelatihan meliputi pengenalan konsep komunikasi strategis, karakteristik ujaran kebencian, dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkannya, serta pentingnya etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Peserta juga diajak mendiskusikan pengalaman mereka menggunakan media sosial dan menganalisis berbagai contoh kasus ujaran kebencian yang sering ditemukan di internet.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada peserta.
- Pemahaman siswa mengenai bentuk, karakteristik, dan dampak hate speech meningkat.
- Siswa mampu membedakan antara kritik, opini, dan ujaran kebencian.
- Peserta dapat menyusun pesan alternatif (counter narrative) yang lebih santun dan konstruktif untuk meredam konflik di media sosial.
- Kemampuan komunikasi strategis siswa meningkat melalui praktik diskusi, simulasi, dan role play.
- Hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menganalisis kasus serta memberikan solusi terhadap permasalahan ujaran kebencian.
Selama sesi diskusi, sebagian besar peserta mengaku pernah menemukan bahkan menyaksikan berbagai bentuk ujaran kebencian, seperti penghinaan, stereotip negatif, perundungan siber, dan provokasi berbasis suku, agama, ras, maupun golongan (SARA). Setelah mengikuti pelatihan, siswa menunjukkan perubahan sikap menjadi lebih kritis, selektif, dan berhati-hati sebelum memberikan komentar atau membagikan informasi di media sosial.
Penulis menjelaskan bahwa hasil tersebut sejalan dengan Social Identity Theory yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John C. Turner. Teori tersebut menjelaskan bahwa individu cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu sehingga berpotensi memunculkan prasangka dan konflik antarkelompok. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi strategis menjadi bekal penting bagi remaja untuk mengelola perbedaan pendapat secara konstruktif dan mengurangi potensi konflik di ruang digital.
Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga berhasil memperkuat keterampilan komunikasi digital siswa. Peserta menjadi lebih mampu menyampaikan pendapat secara santun, menghargai perbedaan, serta merespons konten negatif tanpa menggunakan bahasa yang provokatif. Pendekatan edukatif berbasis komunikasi strategis dinilai efektif dalam membangun budaya bermedia sosial yang sehat sekaligus memperkuat literasi digital generasi muda.
Menurut Nurul Fauziah dan Nada Farah Amrudhia dari Universitas Pamulang, pendidikan komunikasi digital perlu terus diperkuat di lingkungan sekolah agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami etika komunikasi, dan mampu menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Program seperti ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya preventif untuk mengurangi penyebaran ujaran kebencian sekaligus menciptakan ruang digital yang lebih aman dan positif bagi masyarakat.
Profil Penulis
- Nurul Fauziah - Universitas Pamulang
- Nada Farah Amrudhia - Universitas Pamulang
Sumber Penelitian
Fauziah, N., & Amrudhia, N. F. (2026). Pelatihan Komunikasi Strategis pada Siswa SMK Ikhlas Jawilan Sebagai Upaya Meminimalisir Penyebaran Hate Speech di Media Sosial. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5, No. 6, hlm. 523–532.

0 Komentar