Padang Lamun Baganga Tetap Kaya Keanekaragaman Meski Tertekan Aktivitas Manusia

Ilustrasi by AI

Baganga, Filipina — Padang lamun di wilayah pesisir Baganga, Davao Oriental, masih menunjukkan tingkat keanekaragaman hayati yang baik meskipun sebagian kawasan telah mengalami tekanan akibat aktivitas manusia. Temuan tersebut dipublikasikan melalui penelitian yang dilakukan Christine M. Young dari Davao Oriental State University berdasarkan survei lapangan yang dilaksanakan pada Oktober 2024. Hasil penelitian ini menjadi data dasar yang penting untuk mendukung konservasi ekosistem pesisir, pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan, serta pemantauan kondisi lamun di masa mendatang.

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di dasar laut dangkal dan membentuk hamparan padang lamun. Keberadaan ekosistem ini memiliki peran yang sangat penting karena menjadi tempat mencari makan, berkembang biak, dan berlindung bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, hingga biota laut lainnya. Selain itu, padang lamun juga membantu menjaga kestabilan sedimen, melindungi garis pantai dari abrasi, menyerap karbon biru, serta menjaga kualitas lingkungan pesisir. Namun, berbagai aktivitas manusia seperti pembangunan kawasan pantai, pariwisata, penangkapan ikan, lalu lintas kapal, hingga pencemaran lingkungan terus meningkatkan tekanan terhadap keberlangsungan ekosistem lamun di berbagai wilayah dunia, termasuk Filipina.

Filipina sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman lamun tertinggi di kawasan Indo-Pasifik. Meskipun demikian, informasi ilmiah mengenai kondisi lamun di wilayah timur Mindanao masih relatif terbatas. Kondisi tersebut mendorong Christine M. Young melakukan penelitian di tiga barangay pesisir, yaitu Baculin, Kinablangan, dan Lambajon, untuk mengetahui bagaimana struktur komunitas lamun pada kawasan yang mengalami gangguan aktivitas manusia dibandingkan dengan kawasan yang masih relatif alami.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan survei langsung di enam lokasi pengamatan yang mewakili habitat terganggu dan habitat yang tidak terganggu. Setiap lokasi diamati menggunakan jalur pengamatan dan petak ukur yang ditempatkan secara sistematis sehingga seluruh jenis lamun yang ditemukan dapat diidentifikasi serta dihitung jumlah individunya. Selain itu, peneliti juga membandingkan tingkat kelimpahan, penyebaran, kekayaan spesies, dan tingkat keanekaragaman setiap lokasi untuk memperoleh gambaran kondisi ekosistem secara menyeluruh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah pesisir Baganga memiliki sembilan jenis lamun yang berasal dari empat kelompok utama. Spesies Cymodocea rotundata menjadi jenis yang paling dominan karena ditemukan di seluruh lokasi penelitian, baik pada kawasan yang mengalami gangguan maupun kawasan yang relatif alami. Sebaliknya, Halophila ovalis merupakan spesies yang paling jarang ditemukan dan hanya tercatat pada habitat yang tidak terganggu di Kinablangan.

Penelitian ini juga mencatat sebanyak 6.088 individu lamun dari seluruh lokasi pengamatan. Kawasan Baculin memiliki jumlah individu lamun terbanyak, disusul Lambajon, sedangkan Kinablangan memiliki jumlah individu paling sedikit. Meski demikian, jumlah individu yang tinggi tidak selalu menunjukkan kualitas ekosistem yang lebih baik. Analisis menunjukkan bahwa beberapa lokasi didominasi oleh satu atau dua spesies tertentu sehingga tingkat keanekaragamannya justru lebih rendah dibandingkan lokasi yang memiliki jumlah individu lebih sedikit tetapi penyebaran spesiesnya lebih merata.

Lokasi yang menunjukkan kondisi ekologi terbaik adalah Kinablangan, terutama pada habitat yang tidak mengalami gangguan aktivitas manusia. Kawasan ini memiliki jumlah spesies paling banyak, tingkat keanekaragaman tertinggi, serta distribusi spesies yang paling seimbang dibandingkan lokasi lainnya. Sebaliknya, Baculin dan Lambajon memperlihatkan dominasi spesies tertentu yang lebih kuat sehingga tingkat keanekaragamannya relatif lebih rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa habitat yang masih terjaga umumnya mampu mendukung komunitas lamun yang lebih stabil dan lebih beragam.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa pengaruh aktivitas manusia tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kondisi padang lamun. Pada salah satu lokasi di Lambajon, habitat yang dikategorikan tidak terganggu justru memiliki tingkat keanekaragaman lebih rendah dibandingkan habitat terganggu. Menurut Christine M. Young dari Davao Oriental State University, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain, seperti jenis substrat, kedalaman perairan, arus laut, ketersediaan nutrien, hingga interaksi antarspesies. Dengan kata lain, kondisi ekosistem lamun merupakan hasil interaksi antara tekanan aktivitas manusia dan karakteristik lingkungan setempat.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa padang lamun memiliki nilai strategis yang jauh melampaui keberadaan tumbuhan laut semata. Ekosistem ini berperan menjaga produktivitas perikanan, melindungi pesisir dari kerusakan, mempertahankan keanekaragaman hayati, sekaligus membantu mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon biru. Oleh karena itu, peningkatan aktivitas wisata dan pembangunan pesisir di Baganga perlu diimbangi dengan kebijakan konservasi yang lebih kuat agar manfaat ekologis tersebut tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan bahwa padang lamun di Baganga masih memiliki kondisi yang relatif baik dengan tingkat keanekaragaman yang cukup tinggi. Namun demikian, keberlanjutan ekosistem tersebut memerlukan pemantauan secara berkala, perlindungan terhadap kawasan yang masih alami, serta pengelolaan aktivitas manusia di wilayah pesisir. Data dasar yang dihasilkan melalui penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan pesisir, maupun peneliti lain dalam menyusun strategi konservasi lamun yang lebih efektif di masa depan.

Profil Penulis

Christine M. Young
Davao Oriental State University, Filipina.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Seagrass Community Structure in Disturbed and Undisturbed Coastal Habitats in Baganga, Davao Oriental, Philippines
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.207

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr/article/view/207

Posting Komentar

0 Komentar