Penelitian dilakukan pada 408 mahasiswa aktif PGMI IAIN Curup dari berbagai semester menggunakan pendekatan survei kuantitatif. Tim peneliti menguji hubungan antara lima faktor utama self-efficacy atau keyakinan diri, dukungan teknologi, motivasi belajar, lingkungan belajar, dan literasi digital terhadap kesiapan pedagogis mahasiswa sebagai calon pendidik.
Hasilnya menunjukkan seluruh faktor tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan mengajar. Namun, motivasi belajar muncul sebagai faktor dengan kontribusi terbesar.
Di tengah transformasi pendidikan yang semakin terdigitalisasi, hasil ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa kesiapan menjadi guru bukan sekadar soal penguasaan materi pelajaran, melainkan juga kesiapan psikologis, lingkungan pendukung, dan kemampuan memanfaatkan teknologi.
Kesiapan pedagogis sendiri mencakup kemampuan memahami karakter peserta didik, merancang pembelajaran, memilih metode dan media yang tepat, memanfaatkan teknologi, melakukan evaluasi, hingga merefleksikan proses belajar mengajar.
Selama beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi dan perubahan model pembelajaran pascapandemi. Guru masa depan dituntut bukan hanya mampu mengajar secara konvensional, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi dan menciptakan pengalaman belajar yang relevan.
Dalam konteks itu, mahasiswa PGMI dipandang sebagai kelompok strategis karena mereka dipersiapkan menjadi guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang akan membentuk fondasi pendidikan anak.
Untuk memperoleh hasil yang kuat secara statistik, peneliti menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Teknik ini memungkinkan analisis hubungan beberapa faktor sekaligus dalam satu model penelitian.
Responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling agar mewakili mahasiswa dari semester dua, empat, enam, dan delapan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur berbagai indikator kesiapan pedagogis dan faktor pendukungnya.
Analisis menunjukkan model penelitian mampu menjelaskan 78,7 persen variasi kesiapan pedagogis mahasiswa. Angka ini tergolong tinggi dan menunjukkan bahwa kombinasi lima faktor yang diuji memang memiliki pengaruh besar terhadap kesiapan calon guru.
Secara rinci, urutan faktor yang paling berpengaruh adalah:
Motivasi belajar menjadi penentu utama karena mahasiswa yang memiliki semangat belajar tinggi cenderung lebih aktif mencari pengalaman, lebih gigih menghadapi tantangan akademik, dan lebih siap mengembangkan kompetensi mengajar.
Lingkungan belajar juga terbukti penting. Dukungan dosen, interaksi akademik yang sehat, kolaborasi antar mahasiswa, dan kesempatan berpartisipasi aktif memberikan pengalaman yang memperkuat identitas profesional calon guru.
Sementara itu, self-efficacy berkontribusi melalui rasa percaya diri mahasiswa dalam memahami materi, menyelesaikan tugas, dan menghadapi tantangan pendidikan. Mahasiswa yang percaya pada kemampuannya cenderung lebih siap menjalankan peran sebagai pendidik.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa dukungan teknologi dan literasi digital tidak dapat dipisahkan dari pembentukan guru masa depan. Akses terhadap perangkat, internet, kenyamanan menggunakan teknologi, serta kemampuan menilai dan mengelola informasi digital menjadi bagian penting dari kesiapan pedagogis.
Menurut Guntur Gunawan dan Yuyun Yumiarty dari IAIN Curup, pengembangan calon guru tidak seharusnya dilakukan secara parsial. Perguruan tinggi perlu membangun strategi yang terintegrasi—mulai dari memperkuat motivasi belajar, menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, menyediakan infrastruktur digital yang memadai, hingga memberi pengalaman praktik mengajar yang lebih intensif.
Temuan ini juga memberi pesan penting bagi lembaga pendidikan guru di Indonesia. Di era pembelajaran berbasis teknologi dan kecerdasan buatan, keberhasilan mencetak guru berkualitas tidak cukup hanya melalui kurikulum akademik. Faktor psikologis dan lingkungan belajar memiliki peran yang sama pentingnya.
Meski demikian, peneliti mencatat bahwa studi ini masih terbatas pada satu institusi sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh program pendidikan guru di Indonesia. Penelitian lanjutan dengan cakupan universitas yang lebih luas serta penambahan variabel lain masih diperlukan.
Yuyun Yumiarty — Akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup dengan bidang kajian pendidikan, pengembangan kompetensi mahasiswa, dan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
0 Komentar