Modal Intelektual Tingkatkan Risiko Pasar Perusahaan Industri di Bursa Efek Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bekasi - Investasi pada pengetahuan, keahlian karyawan, dan sistem teknologi modern ternyata tidak hanya mendongkrak nilai perusahaan, tetapi juga menyimpan sisi lain yang jarang disadari, yaitu meningkatnya kerentanan terhadap gejolak pasar saham. Penelitian yang dilakukan oleh Atika Rahmi, Raisya Puspa Septiani, dan Ria Fitria Andriani, dari Universitas Muhammadiyah Bekasi Karawang. dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Finance and Business Digital (JFBD) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa berbagai faktor penentu risiko sistematis pada perusahaan sektor barang baku dan industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang periode krusial 2018 hingga 2022.

Menatap Sisi Lain Aset Tak Berwujud
Sektor industri dan barang baku merupakan pilar berat bagi perekonomian Indonesia, mencakup komoditas kimia, logam, semen, hingga manufaktur besar yang sangat bergantung pada siklus ekonomi dunia. Antara tahun 2018 dan 2022, sektor ini menghadapi ujian nyata, mulai dari masa stabil pramademi, kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 37 persen akibat syok awal COVID-19 pada tahun 2020, hingga masa pemulihan yang tidak merata. Dalam situasi penuh ketidakpastian tersebut, pergerakan saham antarperusahaan menunjukkan variasi yang sangat kontras; beberapa perusahaan tetap kokoh, sementara yang lain jatuh searah dengan kemerosotan pasar. Risiko pasar global seperti fluktuasi suku bunga, perubahan nilai tukar, dan ketegangan geopolitik memang tidak bisa dihindari oleh diversifikasi portofolio biasa. Namun, penelitian ini bertujuan menguak mengapa dampak risiko tersebut berbeda bagi setiap perusahaan, dengan menyoroti tiga indikator utama: Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added), struktur utang (capital gearing), serta modal intelektual (intellectual capital).

Metodologi Sederhana di Balik Data Kompleks

Untuk mendapatkan kesimpulan yang akurat, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menguji data laporan keuangan audit dari 21 perusahaan sektor barang baku dan industri yang memenuhi kriteria ketat di BEI. Dari total 21 perusahaan tersebut, terkumpul sebanyak 205 observasi tahunan yang mencakup periode lima tahun penelitian. Indikator modal intelektual diukur menggunakan kerangka kerja efisiensi yang menilai seberapa baik perusahaan memanfaatkan modal kerja, kapasitas keahlian manusia, dan keandalan sistem internal mereka. Sementara itu, risiko sistematis diukur lewat koefisien beta saham yang menunjukkan sensitivitas imbal hasil saham perusahaan terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan. Semua data dianalisis menggunakan pemodelan regresi data panel untuk melihat efek langsung maupun tidak langsung melalui mediasi nilai perusahaan di pasar modal.

Tiga Temuan Utama Hasil Penelitian
Analisis statistik yang dilakukan oleh Atika Rahmi dan timnya menghasilkan beberapa fakta mengejutkan yang mendobrak asumsi keuangan konvensional:

  • Modal Intelektual Meningkatkan Risiko Pasar peranti. Investasi yang tinggi pada modal intelektual secara signifikan meningkatkan risiko sistematis perusahaan (nilai p = 0,0001). Perusahaan yang sarat pengetahuan dinilai lebih sulit diprediksi nilainya oleh investor luar, sehingga memicu pergerakan harga saham yang lebih liar saat pasar bergejolak.
  • Nilai Perusahaan Berperan sebagai Jembatan Risiko. Nilai perusahaan yang teercermin dari tingginya harga pasar dibanding nilai buku aset (Market-to-Book Value) terbukti meningkatkan sensitivitas terhadap risiko pasar (nilai p = 0,004). Lebih jauh lagi, nilai perusahaan bertindak sebagai mediator yang menyalurkan pengaruh modal intelektual terhadap peningkatan risiko pasar tersebut.
  • Efisiensi Modal Internal dan Utang Tidak Berpengaruh Langsung. Indikator Economic Value Added (EVA) dan proporsi utang jangka panjang terhadap total investasi (capital gearing) terbukti tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap risiko sistematis saham dalam riset ini. Kebijakan bantuan kredit pemerintah selama pandemi dinilai turut meredam dampak negatif utang perusahaan pada periode tersebut.
Implikasi Bagi Dunia Usaha dan Investor
Hasil penelitian ini memberikan sudut pandang baru yang menyerupai pisau bermata dua bagi pengelolaan dunia usaha dan strategi investasi. Di satu sisi, pengembangan kompetensi karyawan, sistem operasional, dan hubungan pelanggan sangat krusial untuk inovasi dan meningkatkan penilaian premium perusahaan di mata investor. Namun, di sisi lain, tingginya ekspektasi pertumbuhan yang melekat pada perusahaan berbasis pengetahuan tersebut membuat harga sahamnya menjadi jauh lebih sensitif terhadap sentimen makroekonomi global.

Profil Peneliti
Atika Rahmi adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Bekasi Karawang. Fokus keahlian akademisnya berada di bidang Manajemen Keuangan, Pasar Modal, dan Akuntansi Digital.
Raisya Puspa Septiani merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Bekasi Karawang yang aktif melakukan riset terkait tata kelola perusahaan dan perilaku pasar saham Indonesia.
Ria Fitria Andriani adalah peneliti dari Universitas Muhammadiyah Bekasi Karawang dengan spesialisasi pada analisis kinerja keuangan perusahaan, investasi, dan penilaian bisnis digital.

Sumber Penelitian
Atika Rahmi, Raisya Puspa Septiani, Ria Fitria Andriani. Exploring the Impact of EVA, Capital Gearing, and Intellectual Capital on Systematic Risk: The Mediating Role of Corporate Value. Journal of Finance and Business Digital (JFBD). Vol. 5 No. 2, 187-202
DOI: https://doi.org/10.55927/jfbd.v5i2.22
URL: https://journaljfbd.my.id/index.php/jfbd

Posting Komentar

0 Komentar