![]() |
| Illustration by Ai |
Perencanaan kebutuhan material yang tepat dapat menghemat biaya proyek konstruksi secara signifikan. Temuan ini ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Trio Pendekar Lonan, Daisy D. G. Pangemanan, Estrellita V. Y. Waney, dan Nixon Mantiri dari Politeknik Negeri Manado. Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) ini mengkaji penggunaan metode Material Requirements Planning (MRP) untuk mengendalikan kebutuhan material dan biaya beton ready-mix pada proyek pembangunan Politeknik Pariwisata Solo Raya. Hasilnya menunjukkan bahwa pemilihan metode pemesanan material yang tepat mampu menekan biaya operasional secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi pengadaan material proyek.
Dalam industri konstruksi, material merupakan salah satu
komponen biaya terbesar selain tenaga kerja, peralatan, dan metode pelaksanaan.
Kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan material atau menentukan jadwal
pengadaan sering menyebabkan pemborosan biaya. Material yang berlebih
meningkatkan biaya penyimpanan, sedangkan kekurangan material dapat menghambat
pekerjaan dan menyebabkan keterlambatan proyek.
Para peneliti menjelaskan bahwa pengendalian material
menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran proyek. Persediaan harus
tersedia sesuai kebutuhan tanpa menimbulkan kelebihan stok yang tidak
diperlukan. Karena itu, diperlukan metode perencanaan yang mampu menentukan
jumlah material yang harus dipesan, kapan harus dipesan, dan berapa biaya yang
paling efisien.
Meneliti Pengadaan Beton pada Proyek Politeknik
Pariwisata Solo Raya
Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Politeknik
Pariwisata Solo Raya yang berlokasi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Pengumpulan data berlangsung selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada
periode Agustus hingga Desember 2023.
Tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kuantitatif
dengan menganalisis berbagai dokumen proyek, seperti Bill of Quantities (BoQ),
kurva-S, gambar kerja, jadwal proyek, harga material, biaya pemesanan, dan
biaya penyimpanan. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi lapangan,
wawancara dengan personel proyek, serta dokumentasi kondisi aktual di lokasi
pembangunan.
Metode utama yang digunakan adalah Material Requirements
Planning (MRP), yaitu sistem perencanaan kebutuhan material yang membantu
menentukan jumlah dan waktu pemesanan material secara lebih akurat. Dalam
penelitian ini, MRP dikombinasikan dengan tiga teknik lot sizing atau penentuan
ukuran pemesanan, yaitu:
- Lot-for-Lot
(LFL)
- Part
Period Balancing (PPB)
- Least
Unit Cost (LUC)
Ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mengetahui
strategi pengadaan material yang paling hemat biaya.
Lot-for-Lot Menjadi Metode Paling Efisien
Hasil analisis menunjukkan bahwa metode Lot-for-Lot (LFL)
memberikan biaya operasional paling rendah dibandingkan dua metode lainnya.
Pada metode Lot-for-Lot, material dipesan sesuai kebutuhan
setiap periode sehingga biaya penyimpanan dapat ditekan hingga nol. Meskipun
frekuensi pemesanan menjadi lebih sering, total biaya yang dihasilkan tetap
lebih rendah dibandingkan metode lain.
Perbandingan biaya yang diperoleh dalam penelitian adalah
sebagai berikut:
|
Metode |
Total Biaya |
|
Lot-for-Lot (LFL) |
Rp29.580.000 |
|
Part Period Balancing (PPB) |
Rp38.238.205 |
|
Least Unit Cost (LUC) |
Rp56.442.800 |
Data tersebut menunjukkan bahwa metode LFL mampu
menghasilkan penghematan biaya sekitar Rp8,66 juta dibandingkan metode PPB dan
lebih dari Rp26 juta dibandingkan metode LUC.
Selain menghasilkan biaya terendah, metode LFL juga
menghilangkan biaya penyimpanan karena material datang sesuai jadwal kebutuhan
proyek. Sebaliknya, metode PPB dan LUC masih menimbulkan biaya inventori akibat
adanya stok material yang harus disimpan sebelum digunakan.
Mengurangi Pemborosan Material
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah kemampuan
metode MRP dalam mengurangi kebutuhan material yang berlebihan.
Analisis menunjukkan bahwa penerapan MRP dapat menurunkan
kebutuhan beton ready-mix mutu Fc’25 dari 3.475,50 meter kubik menjadi 3.375,34
meter kubik. Pengurangan ini menunjukkan bahwa perencanaan material yang lebih
baik mampu mencegah pembelian berlebih tanpa mengurangi kebutuhan pekerjaan di
lapangan.
Menurut para peneliti, pengurangan volume tersebut bukan
hanya berdampak pada efisiensi biaya material, tetapi juga membantu mengurangi
risiko pemborosan sumber daya konstruksi. Dengan jumlah material yang lebih
tepat, proyek dapat berjalan lebih terkendali dan penggunaan anggaran menjadi
lebih efektif.
Dampak bagi Industri Konstruksi
Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa teknologi
perencanaan material dapat menjadi solusi bagi berbagai proyek konstruksi yang
menghadapi masalah keterlambatan maupun pembengkakan biaya.
Dengan menggunakan MRP, manajer proyek dapat menentukan
kebutuhan material secara lebih sistematis berdasarkan jadwal pekerjaan.
Pendekatan ini membantu mengurangi risiko kekurangan material yang dapat
menghambat pekerjaan sekaligus menghindari penumpukan stok yang membebani biaya
penyimpanan.
Penelitian juga menegaskan bahwa pemilihan metode lot sizing
harus disesuaikan dengan karakteristik proyek. Meskipun terdapat beberapa
alternatif metode, hasil studi pada proyek Politeknik Pariwisata Solo Raya
menunjukkan bahwa Lot-for-Lot merupakan pilihan paling ekonomis untuk pengadaan
beton ready-mix.
Menurut Daisy D. G. Pangemanan dan tim peneliti dari
Politeknik Negeri Manado, penggunaan MRP yang dipadukan dengan teknik
Lot-for-Lot dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mengendalikan kebutuhan
beton ready-mix, meminimalkan inventori yang tidak diperlukan, serta
meningkatkan efisiensi pengadaan material dalam proyek konstruksi.
Bagi industri konstruksi yang saat ini menghadapi tekanan
biaya dan tuntutan penyelesaian proyek yang semakin ketat, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu diperoleh dari pengurangan kualitas
pekerjaan, melainkan dari perencanaan material yang lebih cermat dan berbasis
data.
Profil Penulis
Sumber Penelitian

0 Komentar