Melejitkan Nilai Ekonomi Buah Tomi-Tomi, Selai dan Jus Jadi Peluang Bisnis Menguntungkan di Maluku


Ilustrasi by AI 

Buah tomi-tomi (Flacourtia inermis Roxb), tanaman khas yang tumbuh subur secara alami di daratan Maluku, kini terbukti mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang sangat potensial. Tim peneliti dari Universitas Pattimura yang terdiri dari Miranthy S. Maspaitella, Martha Turukay, dan Johanna M. Luhukay melakukan studi mendalam pada pertengahan tahun 2026 untuk mengukur seberapa besar lonjakan nilai ekonomi yang dihasilkan dari pemrosesan buah lokal ini. Hasil riset mereka menegaskan bahwa diversifikasi produk buah tomi-tomi menjadi jam (selai), jus, dan wine bukan sekadar inovasi kuliner, melainkan sebuah strategi bisnis riil yang sukses melipatgandakan pendapatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Potensi Tersembunyi di Balik Rasa Masam Buah Lokal

Selama ini, pemanfaatan komoditas buah di Indonesia dinilai belum berjalan optimal. Data menujukkan angka konsumsi buah masyarakat Indonesia hanya menyentuh 37,2 kg per kapita per tahun, masih jauh dari standar yang ditetapkan FAO sebesar 65 kg per kapita per tahun. Di sisi lain, buah tomi-tomi yang memiliki warna merah keunguan eksotis sebenarnya kaya akan kandungan antosianin dan antioksidan yang bermanfaat untuk membantu mengontrol tekanan darah hingga menurunkan kadar gula darah.

Di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, tanaman ini tumbuh liar dan kelestariannya dijaga ketat lewat program sinergi antara pemerintah daerah setempat dan pihak gereja. Peluang inilah yang ditangkap oleh UMKM Wayasel sejak tahun 2017. Mereka mengolah buah bercita rasa masam-manis tersebut agar memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar.

Mengintip Dapur Produksi UMKM Wayasel

Untuk membedah keuntungan dari bisnis ini, tim peneliti Universitas Pattimura mengamati langsung jalannya satu siklus produksi di UMKM Wayasel. Pengumpulan data dilakukan secara cermat melalui metode observasi lapangan dan wawancara bersama para anggota pengrajin.

Proses pengolahan buah tomi-tomi di unit usaha ini melibatkan tiga orang tenaga kerja perempuan yang bekerja secara bergantian di setiap siklusnya. Waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan produksi pun bervariasi; pembuatan selai membutuhkan waktu sekitar 2 jam, jus memerlukan waktu 1 jam, sedangkan proses fermentasi wine membutuhkan durasi paling lama hingga 22 hari. Dalam setiap kali proses masak, bahan baku buah tomi-tomi yang digunakan terbagi menjadi 5 kg untuk selai, 2 kg untuk jus, dan 3 kg untuk wine.

Berapa Lonjakan Nilai Tambah dan Keuntungannya?

Berdasarkan analisis finansial yang disusun oleh Miranthy S. Maspaitella dan kolega menggunakan Metode Hayami, semua produk olahan tomi-tomi terbukti memberikan kontribusi keuntungan yang positif. Berikut adalah rincian performa ekonomi dari masing-masing produk per kilogram bahan baku:

  • Produk Wine Tomi-Tomi: Mencatatkan lonjakan ekonomi tertinggi dengan nilai tambah mencapai IDR 374.701 per kilogram bahan baku dan rasio nilai tambah menembus angka 75,06%. Angka fantastis ini didorong oleh harga jual wine yang tinggi di pasaran.
  • Produk Jus Tomi-Tomi: Menghasilkan nilai tambah sebesar IDR 224.235 per kilogram dengan rasio sebesar 62,29%. Menariknya, jus menjadi produk yang paling efisien dari segi operasional karena proses produksinya singkat dan beban biaya tenaga kerjanya relatif sangat rendah.
  • Produk Selai (Jam): Memperoleh nilai tambah paling rendah, yaitu IDR 41.468 per kilogram dengan rasio 34.56%. Nilai tambah selai berada di kategori moderat karena penyusutan volume bahan baku yang cukup tinggi saat dimasak dan tingginya biaya pembelian input penunjang seperti gula pasir.

Secara keseluruhan, dalam satu siklus produksi gabungan, total pendapatan yang diraup oleh UMKM Wayasel mencapai IDR 2.800.000. Setelah dikurangi total biaya produksi sebesar IDR 1.166.720, usaha ini berhasil mengantongi keuntungan bersih sebesar IDR 1.633.280.

Manfaat Nyata bagi Perekonomian Masyarakat

Riset dari akademisi Universitas Pattimura ini membawa pesan penting bagi pengembangan dunia usaha dan kebijakan publik di sektor industri kreatif. Keberhasilan UMKM Wayasel mengonfirmasi bahwa hilirisasi komoditas pertanian lokal murni merupakan jalan keluar yang efektif untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Johanna M. Luhukay bersama timnya menekankan bahwa meskipun wine memberikan nilai ekonomi terbesar, produk jus justru menjadi alternatif terbaik untuk dikembangkan secara massal oleh masyarakat luas. Hal itu dikarenakan modal produksinya yang terjangkau, pengerjaannya cepat, dan efisiensi tenaga kerjanya yang sangat baik. Agar skala bisnis ini bisa terus meluas, para peneliti menyarankan pelaku UMKM untuk mulai membenahi estetika kemasan produk serta memanfaatkan media sosial sebagai pilar pemasaran digital.

Profil Peneliti

Studi mengenai hilirisasi buah tomi-tomi ini disusun oleh tim pakar dari Universitas Pattimura, Ambon, Maluku.

  • Miranthy S. Maspaitella merupakan peneliti utama yang aktif mengkaji pengembangan ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM daerah.
  • Martha Turukay adalah akademisi senior dengan kepakaran di bidang manajemen agribisnis dan analisis finansial usaha tani.
  • Johanna M. Luhukay bertindak sebagai corresponding author dalam studi ini, yang berfokus pada penguatan kapasitas kelembagaan UMKM pangan berbasis kearifan lokal.

Sumber Informasi Penelitian

Judul Artikel Jurnal: Analysis of Value Added and Income of Processed Tomi-Tomi (Flacourtia Inermis Roxb) Products (A Case Study of the Wayasel MSMEs In Negeri Rutong, Leitimur Selatan District)
Penulis: Miranthy S. Maspaitella, Martha Turukay, Johanna M. Luhukay
Afiliasi: Universitas Pattimura (Pattimura University)
Tahun Publikasi: 2026 

Posting Komentar

0 Komentar