Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Palangkaraya - Hutan Desa di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar namun belum tergarap secara maksimal. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Rosana Elvince, Eti Dewi Nopembereni, Yuli Ruthena, Evnaweri, Ivone Christhiana, Norhayani, dan Firlianty dari Universitas Palangka Raya dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 6 Tahun 2026 menyoroti bahwa program pemberdayaan masyarakat untuk mendorong pemanfaatan kawasan hutan seluas 8.583 hektare ini menjadi area budidaya ikan yang berkelanjutan melalui sistem silvofishery .
Tantangan Lingkungan dan Potensi Sektor Perikanan
Secara geografis, pemukiman warga Desa Pilang berada tepat di tepian Sungai Kahayan . Letak strategis ini sebenarnya sangat menguntungkan untuk sektor perikanan . Namun, kondisi air sungai saat ini rentan terhadap pencemaran akibat aktivitas penambangan pasir dan emas di bagian hulu . Pencemaran tersebut memicu perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi air yang dapat mengancam ekosistem perairan . Oleh karena itu, budidaya ikan yang adaptif dan ramah lingkungan menjadi kebutuhan mendesak bagi warga . Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 4 Tahun 2023, masyarakat sebenarnya diizinkan memanfaatkan kawasan hutan sosial untuk sektor perikanan melalui metode silvofishery (wana mina), dengan batas maksimal 30 persen dari total luas wilayah kerja hutan desa . Metode ini mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan perlindungan vegetasi hutan, sehingga fungsi konservasi tetap berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi .
Metodologi Sederhana Berbasis Peta Partisipatif
Untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keterampilan warga, tim peneliti Universitas Palangka Raya menerapkan metode yang memadukan ceramah interaktif dan demonstrasi praktis . Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta aktif yang merupakan anggota kelompok Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pilang . Pendekatan dilakukan melalui dua tahapan utama:
Melalui sesi pemetaan partisipatif tersebut, tim peneliti menemukan sejumlah fakta penting di lapangan:
Program yang diinisiasi oleh Universitas Palangka Raya ini membuka cakrawala baru bagi tata kelola lingkungan dan kebijakan publik di tingkat desa . Dengan menerapkan sistem silvofishery, masyarakat Desa Pilang kini mengetahui cara memanfaatkan saluran bekas gambut untuk menebar benih ikan lokal . Jenis ikan lokal dipilih karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap karakteristik air dan tanah setempat, sehingga mampu menekan biaya pemeliharaan . Secara jangka panjang, keberadaan KUPS Perikanan yang teredukasi akan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi desa . Kesejahteraan masyarakat dapat meningkat melalui diversifikasi usaha, tanpa harus membuka lahan hutan baru secara ilegal yang berisiko merusak alam .
Profil Penulis
Rosana Elvince – Dosen dan Peneliti di Universitas Palangka Raya. Memiliki keahlian di bidang Manajemen Sumberdaya Perairan dan Perikanan Budidaya .
Eti Dewi Nopembereni – Akademisi Universitas Palangka Raya, aktif dalam riset sosial ekonomi perikanan dan pemberdayaan masyarakat pesisir .
Yuli Ruthena – Staf pengajar Universitas Palangka Raya, fokus pada pengembangan teknologi budidaya ramah lingkungan .
Evnaweri – Peneliti Universitas Palangka Raya yang menekankan kajiannya pada pengelolaan kawasan perairan terpadu .
Ivone Christhiana – Akademisi Universitas Palangka Raya dengan kepakaran pada konservasi ekosistem perairan darat .
Norhayani – Peneliti bidang perikanan Universitas Palangka Raya, fokus pada kelembagaan masyarakat sekitar hutan .
Firlianty – Dosen dan ilmuwan Universitas Palangka Raya yang mendalami bidang teknologi hasil perikanan dan nutrisi ikan .
Sumber Penelitian
Rosana Elvince, Eti Dewi Nopembereni, Yuli Ruthena, Evnaweri, Ivone Christhiana, Norhayani, dan Firlianty. Community Empowerment through the Utilization of Village Forests for Sustainable Fish Farming. Asian Journal of Community Services (AJCS). Volume 5, Nomor 6 2026, Halaman 377-386.
DOI:https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i6.37
URL:https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs
Tantangan Lingkungan dan Potensi Sektor Perikanan
Secara geografis, pemukiman warga Desa Pilang berada tepat di tepian Sungai Kahayan
Metodologi Sederhana Berbasis Peta Partisipatif
Untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keterampilan warga, tim peneliti Universitas Palangka Raya menerapkan metode yang memadukan ceramah interaktif dan demonstrasi praktis
- Tahap Observasi dan Koordinasi: Tim melakukan kunjungan lapangan untuk mengidentifikasi masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi warga
. Setelah itu, koordinasi dilakukan bersama kepala desa dan tokoh masyarakat setempat untuk menyamakan persepsi dan menyusun jadwal kegiatan . - Tahap Implementasi: Sesi ini diisi dengan pemaparan materi mengenai regulasi perhutanan sosial serta potensi sektor perikanan
. Selanjutnya, masuk pada sesi demonstrasi di mana warga diminta memetakan langsung area potensial di atas kertas peta kerja Hutan Desa Pilang yang telah disiapkan .
Melalui sesi pemetaan partisipatif tersebut, tim peneliti menemukan sejumlah fakta penting di lapangan:
- Rendahnya Pemahaman Warga: Lebih dari 50 persen peserta ternyata belum memahami bahwa kawasan hutan desa dapat legal digunakan untuk aktivitas budidaya perikanan
. Hal ini terlihat dari canggungnya peserta saat diminta memberikan informasi atau menandai area potensial pada peta kerja . - Dominasi Sektor Perkebunan: Kawasan hutan desa selama ini baru dimanfaatkan secara masif untuk sektor perkebunan karet dan kelapa sawit, sementara sektor perikanan sama sekali belum dioptimalkan
. - Ketidaksesuaian Lokasi Usaha: Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pilang sebenarnya sudah memiliki Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) bidang Perikanan
. Namun, karena keterbatasan informasi, mereka selama ini menjalankan usaha budidaya ikan di luar kawasan wilayah kerja hutan desa . - Peluang Saluran Bekas Penambangan: Hasil analisis peta menunjukkan bahwa bagian hutan desa yang memiliki saluran atau kanal bekas lahan gambut sangat ideal dan potensial untuk dikembangkan menjadi lokasi budidaya ikan lokal
.
Program yang diinisiasi oleh Universitas Palangka Raya ini membuka cakrawala baru bagi tata kelola lingkungan dan kebijakan publik di tingkat desa
Profil Penulis
Rosana Elvince – Dosen dan Peneliti di Universitas Palangka Raya. Memiliki keahlian di bidang Manajemen Sumberdaya Perairan dan Perikanan Budidaya
Eti Dewi Nopembereni – Akademisi Universitas Palangka Raya, aktif dalam riset sosial ekonomi perikanan dan pemberdayaan masyarakat pesisir
Yuli Ruthena – Staf pengajar Universitas Palangka Raya, fokus pada pengembangan teknologi budidaya ramah lingkungan
Evnaweri – Peneliti Universitas Palangka Raya yang menekankan kajiannya pada pengelolaan kawasan perairan terpadu
Ivone Christhiana – Akademisi Universitas Palangka Raya dengan kepakaran pada konservasi ekosistem perairan darat
Norhayani – Peneliti bidang perikanan Universitas Palangka Raya, fokus pada kelembagaan masyarakat sekitar hutan
Firlianty – Dosen dan ilmuwan Universitas Palangka Raya yang mendalami bidang teknologi hasil perikanan dan nutrisi ikan
Sumber Penelitian
Rosana Elvince, Eti Dewi Nopembereni, Yuli Ruthena, Evnaweri, Ivone Christhiana, Norhayani, dan Firlianty. Community Empowerment through the Utilization of Village Forests for Sustainable Fish Farming. Asian Journal of Community Services (AJCS). Volume 5, Nomor 6 2026, Halaman 377-386.
DOI:
URL:

0 Komentar