Penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) kini bukan lagi sekadar tren moral bagi dunia bisnis global, melainkan pendorong nyata nilai valuasi pasar perusahaan
Sinyal Positif bagi Investor vs Beban Biaya Operasional
Tuntutan regulasi yang semakin ketat, perubahan preferensi konsumen ke arah produk ramah lingkungan, serta pergeseran fokus komunitas investasi institusional menjadi motor utama adopsi pelaporan ESG
Nilai perusahaan sendiri mencerminkan persepsi investor terhadap keberhasilan bisnis, yang umumnya diukur melalui indikator keuangan seperti Tobin’s Q dan Price-to-Book Value (PBV)
Meski demikian, perdebatan akademik mengenai dampak ESG terhadap nilai keuangan perusahaan sempat diwarnai ketidakpastian
Analisis Data Berbasis Protokol Internasional PRISMA
Guna mendapatkan hasil yang objektif dan bebas bias, tim peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada protokol internasional PRISMA 2020
- Dari pencarian awal, ditemukan sebanyak 500 artikel ilmiah yang terbit dalam rentang tahun 2021 hingga 2025
. - Melalui penyaringan ketat berdasarkan relevansi topik, pemenuhan kriteria data empiris kuantitatif, serta status jurnal yang telah melalui penelaahan sejawat (peer-reviewed), terpilih 35 artikel final yang dianalisis secara mendalam
. - Sebaran geografis dari artikel riset yang dianalisis meliputi wilayah China (25,7%), riset multinegara (22,9%), Indonesia (22,9%), Korea Selatan (8,6%), Uni Eropa (8,6%), India (5,7%), serta beberapa kawasan lain seperti Australia dan Afrika
.
Temuan Utama: Mayoritas Riset Buktikan ESG Naikkan Valuasi
Analisis naratif terhadap puluhan data penelitian tersebut menghasilkan tiga poin temuan utama yang sangat krusial bagi lanskap bisnis modern
1. Enam dari Sepuluh Riset Catat Dampak Positif Nyata
Sebanyak 21 dari 35 artikel ilmiah yang diteliti (atau setara 60%) secara konsisten menunjukkan bahwa nilai skor ESG yang tinggi berhasil mendongkrak valuasi pasar perusahaan secara signifikan
2. Pengukuran Berbasis Materialitas Industri Jauh Lebih Informatif
Terdapat variasi besar dalam metodologi pengukuran ESG di berbagai negara, mulai dari skor agensi pemeringkat internasional (seperti Refinitiv dan Bloomberg) hingga indeks pengungkapan mandiri berbasis standar GRI
3. Kontroversi ESG Menghancurkan Nilai Saham
Riset juga menemukan bahwa manajemen risiko yang buruk berakibat fatal bagi korporasi
Implikasi bagi Dunia Usaha dan Kebijakan Publik
Hasil riset ini membawa pesan kuat bagi para manajer dan jajaran direksi korporasi agar memperlakukan pelaporan ESG sebagai instrumen investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif demi kepatuhan hukum semata
Bagi otoritas regulator keuangan, temuan ini mempertegas pentingnya merumuskan kerangka kerja keterbukaan informasi keberlanjutan yang lebih terstandardisasi dan adaptif terhadap karakteristik industri domestik
Profil Peneliti
Artikel ilmiah ini disusun oleh tim peneliti dari Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia
- Cindy Nur Azaria Mansa, S.E.: Peneliti utama di bidang akuntansi keberlanjutan dan pelaporan korporat
. - Prof. Dr. Haliah, S.E., M.Si., Ak., CA: Guru Besar Akuntansi Universitas Hasanuddin yang ahli dalam bidang akuntansi sektor publik, tata kelola, dan sistem pelaporan keuangan
. - Dr. Darmawati, S.E., M.Si., Ak., CA: Dosen dan peneliti senior dengan fokus keahlian pada tata kelola perusahaan (corporate governance) dan akuntansi manajemen
.
Sumber Penelitian
Nama Jurnal: International Journal of Asian Business and Management (IJABM)
Volume & Kinerja Publikasi: Vol. 5, No. 3, Tahun 2026, Halaman 167-184
DOI Resmi:
0 Komentar