Hasil penelitian ini menjadi penting karena Indonesia merupakan produsen sekaligus eksportir CPO terbesar di dunia. Meskipun produksi nasional terus berada pada level tinggi, volume ekspor tidak selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Fluktuasi nilai tukar rupiah, perubahan harga komoditas dunia, kondisi pertumbuhan ekonomi, hingga tingkat inflasi menjadi faktor yang turut memengaruhi daya saing ekspor sawit Indonesia.
Sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar, industri kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional. Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari 47 juta ton, atau sekitar 82 persen dari total produksi komoditas perkebunan nasional. Indonesia juga mempertahankan posisinya sebagai produsen CPO terbesar di dunia.
Namun, tingginya produksi tersebut tidak selalu diikuti oleh peningkatan volume ekspor. Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa ekspor CPO sepanjang 2024 mengalami fluktuasi. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk menelaah lebih jauh pengaruh berbagai indikator ekonomi terhadap ekspor CPO Indonesia.
Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan 84 data bulanan selama tujuh tahun. Data berasal dari berbagai lembaga resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Perkebunan, World Bank, dan berbagai publikasi ekonomi lainnya.
Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat mengukur pengaruh langsung nilai tukar rupiah, Produk Domestik Bruto (PDB), harga CPO internasional, serta inflasi terhadap volume ekspor CPO, sekaligus melihat apakah inflasi memperkuat atau memperlemah hubungan antarvariabel tersebut.
Penelitian menemukan beberapa hasil yang menarik.
Pertama, nilai tukar rupiah terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor CPO Indonesia. Ketika nilai rupiah melemah terhadap mata uang asing, produk CPO Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar internasional sehingga permintaan ekspor cenderung meningkat.
Kedua, Produk Domestik Bruto (PDB) justru menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap volume ekspor CPO. Temuan ini berbeda dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang menganggap pertumbuhan ekonomi selalu mendorong ekspor. Dalam penelitian ini, peningkatan PDB diperkirakan mendorong konsumsi domestik sehingga sebagian produksi CPO lebih banyak diserap pasar dalam negeri daripada diekspor.
Ketiga, harga CPO internasional juga berpengaruh negatif terhadap volume ekspor. Saat harga dunia meningkat, permintaan dari negara pengimpor justru cenderung menurun karena mereka mulai beralih ke minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, maupun minyak rapa.
Keempat, inflasi tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap volume ekspor CPO Indonesia. Selama periode penelitian, tingkat inflasi relatif stabil sehingga tidak cukup kuat memengaruhi biaya produksi maupun daya saing ekspor.
Penelitian juga mengungkap bahwa inflasi memiliki peran yang lebih kompleks sebagai variabel moderasi.
Ketika inflasi meningkat, pengaruh perubahan nilai tukar terhadap volume ekspor menjadi semakin kuat. Dengan kata lain, dampak depresiasi maupun apresiasi rupiah terhadap ekspor CPO menjadi lebih besar ketika inflasi berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Sebaliknya, inflasi tidak terbukti memperkuat ataupun memperlemah hubungan antara pertumbuhan PDB dengan volume ekspor CPO. Inflasi juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antara harga CPO internasional dan volume ekspor Indonesia.
Model penelitian yang digunakan mampu menjelaskan sekitar 51,5 persen variasi perubahan volume ekspor CPO Indonesia. Artinya, masih terdapat hampir separuh faktor lain yang turut menentukan kinerja ekspor, seperti permintaan internasional, kebijakan perdagangan, biaya produksi, tarif ekspor, maupun kondisi geopolitik global yang belum dianalisis dalam penelitian ini.
Menurut para penulis, hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar tetap menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan daya saing ekspor sawit Indonesia. Di sisi lain, pelaku industri juga perlu memperhatikan perkembangan harga CPO dunia karena kenaikan harga belum tentu menghasilkan peningkatan volume ekspor apabila permintaan global justru melemah.
Temuan ini juga memberikan masukan bagi pemerintah agar tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi sawit, tetapi juga memperkuat strategi perdagangan internasional, diversifikasi pasar ekspor, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri sawit. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Wawan Sumarno dan tim peneliti menilai bahwa penelitian lanjutan perlu memasukkan variabel lain seperti permintaan internasional, kebijakan ekspor, biaya produksi, harga minyak nabati pesaing, hingga perbandingan dengan negara produsen utama lain seperti Malaysia. Dengan demikian, faktor-faktor yang memengaruhi ekspor CPO Indonesia dapat dipahami secara lebih menyeluruh.
Profil Penulis
Mahmud - Universitas - Ekasakti Padang
Wawan Sumarno, - Universitas Ekasakti Padang
Nessa Amelia - Universitas Ekasakti Padang
Gusriati - Universitas Ekasakti Padang
Wanda Ramadhana - Universitas Teuku Umar
Sumber Penelitian
Mahmud, Wawan Sumarno, Nessa Amelia, Gusriati, dan Wanda Ramadhana. Analysis of Indonesia's Palm Oil (CPO) Export Volume Moderated by Inflation. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 2026, halaman 1655–1666. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i6.98
0 Komentar