Hulu Citarum selama bertahun-tahun menghadapi tekanan lingkungan akibat alih fungsi lahan, pembukaan hutan, serta aktivitas pertanian intensif di wilayah berlereng. Kondisi tersebut mempercepat terjadinya erosi tanah, sedimentasi sungai, penurunan kesuburan tanah, hingga meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir. Jika tidak dikendalikan, kerusakan DAS dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, mengurangi ketersediaan air bersih, dan menurunkan produktivitas pertanian masyarakat.
Penelitian ini berfokus pada Sub-DAS Cisangkuy, salah satu bagian penting dari DAS Citarum Hulu yang mengalami degradasi cukup serius. Selain perubahan tutupan lahan, lemahnya pengelolaan kawasan serta minimnya penerapan teknik konservasi menyebabkan laju limpasan permukaan dan sedimentasi terus meningkat setiap musim hujan. Akibatnya, fungsi hidrologi kawasan semakin menurun dan ancaman terhadap lingkungan semakin besar.
Untuk mengetahui solusi yang paling efektif, Asikin Muchtar melakukan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei lapangan terhadap 135 responden yang terdiri atas petani, pengelola lahan, dan pemangku kepentingan lingkungan di kawasan Sub-DAS Cisangkuy. Selain menyebarkan kuesioner, peneliti juga melakukan observasi kondisi lahan dan mengevaluasi tingkat erosi di lapangan. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh lima praktik konservasi tanah terhadap penurunan degradasi DAS.
Lima teknik konservasi yang dianalisis meliputi:
- Terasering.
- Konservasi vegetatif melalui penanaman vegetasi penutup.
- Sistem agroforestri yang mengombinasikan pohon dan tanaman pertanian.
- Pertanian mengikuti garis kontur.
- Pembangunan check dam atau bendung pengendali sedimen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh praktik konservasi memberikan kontribusi positif terhadap penurunan degradasi DAS. Namun, konservasi vegetatif menjadi metode yang memberikan pengaruh paling besar.
Penanaman vegetasi terbukti mampu mengurangi limpasan permukaan, memperkuat struktur tanah melalui sistem perakaran, meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, serta menjaga kelembapan lahan. Semakin baik tutupan vegetasi, semakin rendah tingkat erosi yang terjadi pada lahan pertanian berlereng.
Temuan penting lainnya adalah efektivitas agroforestri. Sistem yang memadukan pohon dengan tanaman pertanian tidak hanya membantu mengurangi erosi, tetapi juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah, memperbaiki stabilitas lahan, serta memberikan keuntungan ekonomi karena petani memperoleh hasil dari berbagai jenis tanaman. Dengan kata lain, agroforestri mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan keberlanjutan pendapatan masyarakat.
Penelitian juga menemukan bahwa terasering dan pertanian mengikuti kontur masih efektif mengurangi kehilangan tanah, terutama di lahan dengan kemiringan tinggi. Namun efektivitas kedua metode tersebut sangat bergantung pada kualitas pembangunan, pemeliharaan, serta konsistensi penerapannya oleh petani. Pada beberapa lokasi, kerusakan teras menyebabkan kemampuan pengendalian limpasan menjadi berkurang.
Berbeda dengan metode lainnya, pembangunan check dam belum menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap penurunan degradasi DAS. Berdasarkan pengamatan lapangan, banyak bangunan check dam mengalami kerusakan, tertutup sedimen, atau belum mendapatkan perawatan secara rutin sehingga manfaatnya belum optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur konservasi memerlukan pengelolaan jangka panjang agar dapat berfungsi secara maksimal.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa praktik konservasi tanah secara bersama-sama mampu menjelaskan sekitar 52 persen variasi penurunan degradasi DAS. Sisanya dipengaruhi faktor lain seperti intensitas hujan, karakteristik lereng, pola kepemilikan lahan, serta kebijakan pengelolaan lingkungan setempat. Artinya, konservasi tanah harus dipadukan dengan kebijakan tata ruang, pengelolaan lahan, dan pemberdayaan masyarakat agar hasilnya lebih optimal.
Asikin Muchtar menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau infrastruktur, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, semakin efektif berbagai teknik konservasi yang diterapkan. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif antara pemerintah, petani, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pengelolaan DAS secara berkelanjutan.
Hasil penelitian ini memiliki implikasi luas bagi pengelolaan lingkungan di Indonesia. Pemerintah daerah dapat menjadikannya sebagai dasar penyusunan kebijakan rehabilitasi DAS, khususnya melalui perluasan program penanaman vegetasi dan pengembangan agroforestri di kawasan rawan erosi. Bagi sektor pertanian, hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas lahan dapat tetap dipertahankan tanpa mengabaikan aspek konservasi lingkungan. Di sisi lain, masyarakat memperoleh bukti bahwa pelestarian vegetasi tidak hanya melindungi alam, tetapi juga mengurangi risiko banjir dan menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Asikin Muchtar merupakan akademisi dari Universitas Indonesia Timur, Makassar, Indonesia. Bidang keahliannya berfokus pada pengelolaan lingkungan, konservasi tanah, pengelolaan daerah aliran sungai (watershed management), serta pembangunan pertanian berkelanjutan. Melalui penelitian ini, ia menyoroti pentingnya integrasi konservasi vegetasi, agroforestri, dan partisipasi masyarakat sebagai strategi utama menjaga keberlanjutan DAS di Indonesia.
0 Komentar